Tim Gakkum Cari Sumber Tumpahan Minyak di Pantai Melawai, Periksa Kapal secara Acak

Tim Penegakkan Hukum (Gakkum) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama instansi terkait lingkungan tingkat daerah

Tim Gakkum Cari Sumber Tumpahan Minyak di Pantai Melawai, Periksa Kapal secara Acak
TRIBUN KALTIM / NALENDRO PRIAMBODO
Sisa tumpahan cairan menyerupai minyak masih tersisa di perairan pantai Melawai Balikpapan, Sabtu (21/7/2018) siang. Di pasir, sisa cairan tersebut terserap sedalam 2 cm, sedangkan di beberapa bebatuan, dinding, dan sampah, cairan tersebut masih menempel. Dalam setahun, pantai itu diterjang 3 kali tumpahan minyak. 

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Tim Penegakkan Hukum (Gakkum) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama instansi terkait lingkungan tingkat daerah memulai investigasi lapangan terkait dugaan tumpahan minyak di Pantai Melawai hingga Banua Patra Balikpapan, Minggu (22/7).

Lapis demi lapis, pasir berwarna hitam yang diduga mengandung cairan minyak dikeruk menggunakan sendok dilapis alumunium foil, dan dimasukkan dalam gelas kaca yang dilapis bahan serupa. Cairan diduga minyak yang terperangkap di dalam sampah plastik diamankan.

Sedikitnya, enam personel Gakkum KLHK Pusat dan Kalimantan dibantu personel Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Balikpapan, Pusat Pengendalian dan Pembangunan Ekoregion Kalimantan (P3EK), personel Polda Kaltim, dan tim Health, Safety, and Enviromental dari Pertamina RU V Balikpapan ikut dalam proses tersebut.

Baca: Pencemaran Minyak di Teluk Balikpapan, KLHK Belum Cabut Larangan Berenang

Teddy S Mahendra, Kepala Bagian Tata Usaha P3EK, yang ditunjuk sebagai pimpinan tim menjelaskan, penekanan kegiatan hari ini (kemarin) lebih pada pengumpulan bahan keterangan guna menemukan darimana sumber cairan yang diduga minyak tersebut berasal.

Ia tak mempermasalahkan, kalaupun sebelumnya, DLH Kota Balikpapan dan Pertamina RU V Balikpapan sudah terlebih dahulu mengambil dan menguji sampel minyak di lokasi sama, tak lama setelah tumpahan itu ditemukan, Jumat (20/7) sebagai data pembanding.

"Kita punya keinginan menemukan sesuatu yang benar. Kedepan tak menutup kemungkinan mencari sumber (minyak) proses ini yang bermuara ke sumber," ujar Teddy kepada Tribun, Minggu (22/7).

Lokasi tersebut sengaja dipilih, karena di titik itulah sebaran dan sisa ceceran yang layak sebagai sampel terkonsentrasi. Hingga kini, pihaknya belum bisa memastikan seberapa luas daerah sebaran tumbuhan, karena masih berkoordinasi dengan sejumlah pengelola satelit, guna mengetahui rona awal tumpahan saat pertama kali diketahui.

Baca: Penjualan Semen Domestik Menyusut 11,10% Menjadi 3,32 Juta Ton

Merasa cukup dengan sampel di pantai, rombongan beranjak menuju kilang Pertamina RU V Balikpapan, sekitar pukul 16.10 Wita. Tim langsung menuju tempat penyimpanan sementara limbah Bahan Berbahaya Beracun (B3). Di lokasi tersebut tersimpan sisa pembersihan minyak di Pantai Melawai yang saat kejadian dibersihkan tim HSE Pertamina.

Limbah B3 yang dimasukkan sebagai bukti sampel tersebut akhirnya berhasil diambil. Usai dari situ, rombongan menuju dermaga nomor 5, tempat sandar kapal yang memuat sekitar 210 ribu barrel minyak olahan berkadar oktan 100, dan dilanjutkan ke dermaga nomor dua, tempat singgah kapal jenis tug boat, mengecek apa aktivitas sebelum kejadian tumpahan berlangsung.

"Saya kira ini (pemilihan kapal yang diperiksa) random (acak). Dari informasi, yang patut diduga, supaya konsentrasi tidak kemudian hilang, ada dugaan lain yang secara random kita cari. Ada kapal lah, bukan hanya di Jetty, tapi kapal yang sandar di laut. Kita akan melihat opsi lainnya, ujungnya kita mengerucut kok, dimungkinkan menunggu di lab, bisa jadi di Jetty, bisa jadi di kapal lain," ujar Teddy.

Baca: Neymar Akhirnya Buka Suara Terkait Tuduhan Tukang Diving

Selain ke lokasi kapal yang sandar, pemeriksaan acak dilakukan ke sejumlah kapal yang beberapa jam sebelum laporan tumpahan sekitar Jumat (20/7) sekitar pukul 09.00 pagi, melewati perairan Teluk Balikpapan.

"Pencarian random (acak) dua kapal (yang diperiksa) dari dua Jetty itu, random. Kita melihat ada aktivitas apa di posisi itu. Loading kah atau maintenance kah, untuk mencari jangan cuma satu. Yang sedang sandar dimungkinan (diperiksa) sebelum tanggal itu (tumpahan)," katanya.

Nantinya, data pemeriksaan acak di rentan waktu sebelum tumpahan, semakin dipersempit seiring dengan keluarnya hasil uji sidik jari minyak, mencocokan karakteristik minyak dengan hasil pemeriksaan muatan minyak sejumlah kapal yang diperiksa, sehingga pemeriksaan ini belum bisa dikerucutkan.

Sisa-sisa cairan menyerupai minyak yang mencemari perairan Teluk Balikpapan di Pantai Melawai dan dan Banua Patra, Balikpapan Kota, masih terlihat, Sabtu (21/7). Cairan itu menempel di sejumlah batu, dinding beton, sampah plastik, dan sebagian ada yang meresap ke pasir pantai sedalam kira-kira 2 centimeter.

Baca: Kasus Pencemaran Lingkungan Tragedi Teluk Balikpapan, Pegawai Pertamina jadi Tersangka!

Di beberapa batu pemecah gelombang baik di lahan yang nantinya dibangun dermaga Lanal Balikpapan, dan pulau di dekat lokasi kejadian, masih terdapat sisa cairan hitam berminyak. Noda bekas minyak juga masih basah saat di dinding pondasi bangunan dermaga, beton dan sampah plastik yang tersisa di lokasi. (*)

Penulis: Nalendro Priambodo
Editor: Sumarsono
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About us
Help