Digugat Warga Dolly Rp 270 Miliar, Risma: Tunjukkan yang Class Action Itu Ber-KTP Dolly Bukan?

Walikota Surabaya Tri Rismaharini digugat ke pengadian sebesar Rp 270 miliar oleh warga yang mengaku dari bekas lokalisasi Dolly.

Digugat Warga Dolly Rp 270 Miliar, Risma: Tunjukkan yang Class Action Itu Ber-KTP Dolly Bukan?
TRIBUNJATIM.COM/NUR IKA ANISA
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini saat tiba di Mapolrestabes Surabaya, Rabu (29/8/2018). 

TRIBUNKALTIM.CO, SURABAYA -  Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menurunkan tempo bicaranya saat menanggapi perkembangan eks lokalisai Dolly.

Saat ini, sebagian warga mengatasnamakan warga Kampung Dolly menggugat Pemkot Surabaya Rp 270 miliar. 

Mereka menggugat ke Pengadilan Negeri Surabaya melalui mekanisme class action. Sebab semenjak Wali Kota Surabaya menutup total lokalisasi Dolly pada 2015 lalu, warga kehilangan pekerjaan. 

"Jangan mengusik ketenangan Dolly yang sudah tertata dengan tatanan baru. Jangan hanya segelintir orang tidak suka merusak Dolly yang sudah tenang," reaksi Risma saat ditemui usai membuka seleksi Beasiswa ke Liverpool di Stadion Tambaksari, Jumat (31/8/2018). 

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini saat tiba di Mapolrestabes Surabaya, Rabu (29/8/2018).
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini saat tiba di Mapolrestabes Surabaya, Rabu (29/8/2018). (TRIBUNJATIM.COM/NUR IKA ANISA)

Baca: Diciduk di Eks Lokalisasi Manggar Sari Balikpapan, Pengedar Ini Simpan Sabu dalam Bantal

Baca: Juli, Dinas Sosial Mulai Tutup Lokalisasi

Baca: Bang Yos Penuhi Undangan Anies-Sandi, Kangen Ruang Kerja Sampai Bicara Soal Lokalisasi

Risma belum tahu persis bentuk Class action yang dimaksud. Namun, dia meyakini bahwa itu hanyalah ulah sebagian kecil warga yang tidak suka warga Dolly berkembang menjadi warga normal. 

 "Lebih eman generasi mendatang. Mereka perlu dukungan dan lingkungan yang normal. Ayo mana tunjukkan warga yang class actionitu ber-KTP Dolly tidak," kata Risma.

Dia menyebutkan jangan sampai segelintir orang itu malah menyalahkan orang banyak. Apalagi saat ini warga Dolly sudah banyak yang nyaman dengan dunia baru yang lebih mendukung masa depan anak di eks lokalisasi terbesar di Asia Tenggara itu.

 "Segelintir orang mengusik Dolly yang tenang. Itu tidak adil. Saya menutup Dolly dengan penuh pertimbangan bersamaan dengan penutupan lokalisasi-lokalisasi lain," imbuh Risma. 

Penutupan Dolly, menurut dia, sudah tepat. Apalagi diikuti solusi. Banyak  usaha warga Dolly yang saat ini berkembang.

Mulai sablon, batik, hingga sandal. Usaha baru ini sebagai ganti sumber perekonomian yang lebih beradab selain prostitusi. 

Baca: Ternyata Siswi SD yang Kecanduan Seks Itu, Tinggal di Dolly Sejak Umur 2 Tahun

Baca: Tak Sekadar Cari Sensasi, Pengantin Ini Jadikan Eks Lokalisasi Dolly Jadi Venue Resepsi Pernikahan

Baca: Pengancam Teror Bom di Rumah Dinas Walikota Surabaya Menuntut Lokalisasi Dolly Dibuka Lagi

Halaman
12
Editor: Priyo Suwarno
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved