Pemerintah Kembali Genjot Ekspor, BI Prediksi Ekonomi Kaltara 2019 Tembus 6 Persen

Praktis bagi Kalimantan Utara, kebijakan itu akan memberi dampak yang positif.

Pemerintah Kembali Genjot Ekspor, BI Prediksi Ekonomi Kaltara 2019 Tembus 6 Persen
TRIBUN KALTIM / MUHAMMAD ARFAN
Tampak ponton berisi batubara melintas di perairan Tarakan beberapa waktu lalu. Batu bara masih merupakan komoditas ekspor terbesar dari Kalimantan Utara. 

Laporan Wartawan Tribunkaltim.co, Muhammad Arfan

TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG SELOR - Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Utara memprediksi pertumbuhan ekonomi Kalimantan Utara tahun 2019 akan tetap mengalami penguatan.

Sebelumnya sempat ada kekhawatiran akan melambat karena adanya kebijakan pemenuhan 25 persen kebutuhan batubara dalam negeri atau domestic market obligatian (DMO) justru telah direvisi oleh pemerintah.

"Pemerintah kita sedang memacu ekspor lagi. Dan info terakhir, ada revisi target ekspor batubara. Awalnya wajib DMO, dan sekarang direvisi ekspor batubara terus didorong," kata Dhika Arya, Kepala Unit Pengembangan Ekonomi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Utara kepada Tribunkaltim.co, Selasa (18/9/2028).

Ada kebijakan pacu ekspor itu, lantas akan perusahaan akan menaikkan kuota ekspor berdasarkan kuota yang diperintahkan pemerintah.

Praktis bagi Kalimantan Utara, kebijakan itu akan memberi dampak yang positif.

"Sektor penopang ekonomi Kalimantan Utara yang terbesar adalah pertambangan. Perusahaan-perusahaan akan tetap meningkatkan produksinya untuk memacu ekspor sebagaimana kuota yang diberikan," sebutnya.

Lantas perekonomian Kalimantan Utara tahun depan diprediksi akan mencapai pertumbuhan pada range 5,8 persen sampao 6 persen.

Berdasarkan catatan BPS kata Dhika, tahun 2017 tumbuh ekonomi Kalimantan Utara tumbuh sebesar 4,6 persen.

Lalu pada triwulan I-2018 sebesar 5,6 persen dan turun menjadi 4,6 persen triwulan II-2018.

"Memang hal itu sedikit melambat. Artinya masih tumbuh tetapi tidak setinggi sebelumnya. Penopangnya itu ekspor sekitar 8 persenan. Yang lain yang secara tradisional seperti pertambangan, pertanian, dan kontruksi juga ikut menopang," sebutnya.

Yang menyebabkan penurunan lanjutnya adalah terjadinya efisiensi belanja pemerintah.

"Jadi walaupun melambat, hal itu tetap disyukuri karena program pembangunan infrastruktur oleh pemerintah dan pengembangan bisnis swasta masih terus jalan. Misalnya pembangunan pabrik CPO. Kemudian juha harga batubara yang semakin membaik," katanya. (*)

Penulis: Muhammad Arfan
Editor: Kholish Chered
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved