Gempa dan Tsunami Sulteng

Pengungsi Korban Gempa dan Tsunami Sulteng Tiba di Tarakan, Pemkot Siapkan 4 Lokasi Penampungan

Sebanyak 97 orang pengungsi korban gempa dan tsunami Sulteng, (gempa Palu, gempa Donggala, gempa Sulteng) tiba di Kota Tarakan

Pengungsi Korban Gempa dan Tsunami Sulteng Tiba di Tarakan, Pemkot Siapkan 4 Lokasi Penampungan
TRIBUNKALTIM/JUNISAH
Para pengungsi korban gempa dan tsunami SUlteng disambut Walikota Tarakan Sofian Raga, Ketua DPRD Tarakan Salman Ardang dan Sekkot Tarakan Firmannur, Rabu (3/10/2018) di Pelabuhan Malundung. 

Pengungsi Korban Gempa dan Tsunami Sulteng Tiba di Tarakan, Pemkot Siapkan 4 Lokasi Penampungan  

Laporan wartawan Tribunkaltim.co, Junisah 

TRIBUNKALTIM.CO, TARAKAN - Sebanyak 97 orang  pengungsi korban gempa dan tsunami Sulteng, (gempa Palu, gempa Donggala, gempa Sulteng) tiba di Pelabuhan Malundung Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara, Rabu (3/10/208) pukul 17.00 Wita. Para korban langsung turun dari kapal dan langsung naik bus yang telah disediakan Pemkot Tarakan bersama instansi terkait lainnya.

Kedatangan mereka langsung disambut Walikota Tarakan Sofian Raga bersama Ketua DRPD Salman Aradeng  dan Sekkot Tarakan Firmannur.

Pantuan tribunkaltim.co, para pengungsi ini lansgung diarahkan petugas untuk masuk  ke terminal kedatangan internasional di Pelabuhan Malundung.  

VIDEO - Sekolah-sekolah di Kaltara Berikan Bantuan Rp 247.093.000 Untuk Korban Gempa Palu-Donggala

Penampungan Korban Gempa dan Tsunami Sulteng di Balikpapan Kekurangan Stok Celana Dalam Pria

Mereka langsung di data satu persatu, untuk tujuan daerahnya.

Ternyata ada yang warga Tarakan, ada pula yang tujuannya hanya transit di Tarakan dan menuju Surabaya dan Balikpapan. Setelah itu diberikan makanan dan minuman yang telah disediakan.

Para pengungsi yang mengalami sakit memar, pusing dan trauma langsung dibantu dari petugas PMI Tarakan dan petugas medis dari dinas kesehatan dan pelabuhan di Tarakan.

Sedangkan yang trauma dibantu para psikolog yang juga ada di Pelabuhan Malundung.  

Siti Arisha salah seorang pengungsi korban gempa  yang tiba di pelabuhan Malundung langsung sujud syukur usai turun dari bus. Wanita berusia 44 tahun tidak henti-hentinya menangis sambil digandeng oleh suami tercintanya.  

 

“Saya sujud syukur, karena bersyukur kepada Allah SWT yang telah diberikan keselamatan hingga sampai di Tarakan ini.

Alhamadulillah semua keluarga saya selamat semuanya, mulai dari anak, suami dan keponakan,” ucapnya sambil mengusap air matanya yang terus saja mengalir.  

Akibat gempa, ia mengalami memar di mata sebelah kirinya. Saat gempa terjadi ia berada di dalam rumah sendiri, sedangkan suami sedang keluar rumah begitupula anak tunggalnya lagi di pergi ke rumah temannya,karena mengerjakan tugas kuliah.

“Waktu gempa saya mau shalat mahgrib, belum shalat ternyata gempa datang. Saya sempat terlempar dan terkena tembok rumah pipi kiri saya, jadi bengkak seperti ini.

UPDATE - Korban Tewas Gempa dan Tsunami di Sulteng 1.407 Orang dan 2.459 Orang Luka Berat

Berau Coal Kirimkan 10 Anggota Rescue untuk Evakuasi Korban Gempa Palu dan Donggala

Sampai saat ini belum diperiksa dan alhamdullilah bengkaknya sudah agak mengecil. Waktu kejadian itu bengkaknya besar sekali,” ujarnya.

Pasca gempa, ia bersama keluarga memutuskan untuk memilih pulang ke Tarakan, untuk sementara waktu. Pasalnya rumahnya yang ada di Donggala juga sudah ada yang retak-retak temboknya, dan ia masih trauma dengan gempa susulan yang masih terus terjadi.

“Saya trauma masih sering terjadi susulan gempa, saya takut sekali, jadi memutuskan lebih baik tinggal di Tarakan dulu, karena kelauraga saya ada di Tarakan.

Mungkin nanti kalau Donggala sudah membaik, kami akan kembali. Sebab suami ini orang asli Donggala,” ujarnya yang sembilan tahun tinggal di Donggala.

Begitupula yang dirasakan oleh Normala, yang merupakan warga Tarkana. Ia bersyukur telah tiba Tarakan. Pasalnya ia ke Palu menghadiri acara adiknya yang rencananya menikah, Sabtu (29/9/2018). Namun belum sempat adiknya menikah, gempa terjadi.

“Saya datang ke Palu itu Kamis, (27/9/20118) . Belum sempat adik saya menikah, eh gempa terjadi.  

Akibat gempa anak saya yang paling kecil mengalami benjolan di kepalanya. Saya juga tidak tahu anak saya terkena apa. Saya lihat langsung benjol gitu, tapi alhamdulillh benjolanya udah mengecil,” katanya.

Walikota Tarakan, Sofian Raga mengungkapkan, untuk kedatangan para pengungsi ini pihaknya telah melakukan koordinasi dengan berbagai pihak. Mulai dari Pelni, Pelindo, Polres Kodim 0907 Tarakan hingga Bandara Juata Tarakan.  

Berau Siapkan 10 Kontainer Logistik, Ini yang Masih Kurang untuk Korban Gempa dan Tsunami Sulteng

Samarinda Tunggu Kedatangan Korban Gempa dan Tsunami Sulteng, Ini 3 Lokasi Pengungsian

 “Mereka yang datang ini kami data satu persatu, mana yang tinggal di Tarakan, mana yang tujuannya transit di Tarakan. Sebab yang datang ini bukan hanya warga Tarakan yang tinggal di Palu saja, tapi ada tujuan Surabaya dan Balikpapan.

Mereka yang transit kita fasilitasi dengan memberikan tempat tinggal makan dan minum hingga daerah tujuannya,” ujarnya.

Bagaimana pengungsi korban gempa yang sakit?

“Mereka yang sakit kita tentunya akan tetap di Tarakan dan kita melakukan perawatan. Namun kita belum ketahui, ada berapa jumlah pengungsi yang sakit, karena ini masih kami data,” ujarnya.

Para pengungsi korban gempa dan tsunami Palu dan Donggala di Sulteng tiba di Kota Tarakan, Provinsi Kaltara, Rabu (3/10/2018) di terminal kedatangan Pelabuhan Malundung.
Para pengungsi korban gempa dan tsunami Palu dan Donggala di Sulteng tiba di Kota Tarakan, Provinsi Kaltara, Rabu (3/10/2018) di terminal kedatangan Pelabuhan Malundung. (TRIBUNKALTIM/JUNISAH)

Siapkan Empat Titik Lokasi Penampungan Bagi Pengungsi

Para pengungsi korban gempa dan tsunami di Sulteng yang masih tinggal di Kota Tarakan sementara waktu, untuk melanjutkan perjalanan ke Balikapapan dan Surabaya, Pemkot Tarakan telah menyediakan 4 titik lokasi tempat tinggal.

Empat titik lokasi tempat tinggal tersebut, masing-masing mess Rumah Sakit Mantri Raga milik Pemkot Tarakan, Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) di Bom Panjang, Badan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) dan Balai Latihan Kerja (BLK).

“Empat titik lokasi ini dapat menampung para pengungsi yang transit di Kota Tarakan. Di mess  Rumah Sakit Mantri Raga saja bisa menampung 400 orang.

Di empat lokasi ini kami sudah siapkan tempat tidurnya, termasuk dapur umum makan dan minunamnya, semua kami siapkan,” ujar Sekretaris Kota (Sekkot) Tarakan, Firmannur.

 

Koordinator pengungsi korban gempa dan tsunami Sulteng ini mengungkapkan, bahwa kedatangan pengungsi ini sudah kedua kalinya ke Kota Tarakan.

Pertama 127 orang dengan naik kapal laut KM Lambelu, Selasa (2/10/2018) dan kedua, Rabu (3/10/2018) KM Bukit Siguntang.

“Pengungsi yang naik KM Lambelu itu, semuanya sudah kita pulangkan ke daerah asalnya dengan naik pesawat terbang. Kebanyakan mereka pulang ke Surabaya.

Menurut pengakuan bisa ke Tarakan, karena mereka tidak tahu kalau KM Lambelu ini tujuannya ke Tarakan.

 

Mereka naik kapal ini, yang penting mereka bisa keluar dulu dari Kota Palu, karena masih trauma dengan gempa susulan yang terjadi,” ujarnya.

Bagaimana dengan pengungsi yang tiba dengan KM Bukit Sugintang?

“Yah sama saja, seperti kemarin prosedurnya, namun yang naik KM Bukit Siguntang ini ada warga Tarakan. Tapi ada pula sebagian yang pengungsi yang cuman transit saja. Mereka transit sudah kita siapkan tempat tinggal sementara di empat titik lokasi ini,” ujarnya. (*)

Tiba di Tarakan Pengungsi Korban Gempa dan Tsunami Langsung Sujud Syukur
 

Penulis: Junisah
Editor: Amalia Husnul Arofiati
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved