Gempa dan Tsunami Sulteng

Kisah Polwan Polda Kaltim Bantu Korban Gempa Sulteng, Pertama Tiba Seperti Kota Mati

Tak mudah mengubah raut kepedihan di wajah korban bencana gempa dan tsunami Sulawesi Tengah menjadi senyuman.

Kisah Polwan Polda Kaltim Bantu Korban Gempa Sulteng, Pertama Tiba Seperti Kota Mati
istimewa
Waka Polda Kaltim Brigjen Pol Lukman Wahyu Hariyanto bersama polisi wanita (polwan) menghibur para korban dengan bernyanyi di lokasi pengungsian bencana gempa dan tsunami Sulteng. 

Laporan Wartawan Tribunkaltim.co, Muhammad Fachri Ramadhani

Kisah Polwan Polda Kaltim Bantu Korban Gempa Sulteng, Pertama Tiba Seperti Kota Mati

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Tak mudah mengubah raut kepedihan di wajah korban bencana gempa dan tsunami Sulawesi Tengah menjadi senyuman.

Hal itu dirasakan benar oleh Polisi Wanita dan Bhayangkari Polda Kaltim. Selama sepekan mereka menjalankan misi kemanusiaan di Sulteng.

"Tak mudah bergaul dengan mereka, karena sifat masyarakat di sana 'agak' keras. Namun dengan pendekatan yang soft, syukurnya bisa membuat mereka ceria," tutur salah seorang Polwan Polda Kaltim, Kompol Yolanda E Sebayang, Rabu (10/10/2018) usai turun dari pesawat Polri di bandara SAMS Sepinggan Balikpapan.

Setiap harinya, rombongan yang dipimpin Wakapolda Kaltim Brigjen Pol Lukman menyambangi 5 posko pengungsian di Sulteng.

"Kami sehari bisa sampai 5 pengungsian. Cara bertindak kami sama. Ada yang bantu distribusi, masak di dapur, dan bertugas menghibur di tenda," katanya.

Baca: 10 Hari Buka Posko Bantuan Gempa Sulteng, Pemkot Balikpapan Kumpulkan Dana Rp 1,2 Miliar

Kepolisian tahu bagaimana memulihkan kondisi mental para korban. Polisi wanita disorong ke kerumunan korban, terutama ibu dan anak. Dengan senyum, nyanyian, permainan dalam balutan kegiatan Trauma Healing mereka mencoba mengobati psikis para korban.

Semula berat, namun dengan niat dan semangat pantang menyerah. Akhirnya mereka berhasil mencairkan suasana yang beku dan mencekam. "Saat anak-anak dan ibu tersenyum, disitulah poinnya. Puas sekali. Itu mahal harganya," kenangnya.

"Kami menghibur bagaimana anak berinteraksi, bisa bergaul kembali. Seminggu kami di sana, syukur keceriaan mereka bisa kami dapatkan," sambungnya.

Halaman
123
Penulis: Muhammad Fachri Ramadhani
Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About us
Help