Masih Siaga di Pelabuhan Donggala, RST Ksatria Airlangga Mengoperasi Dua Pasien Patah Tulang

Dalam dua hari berturut-turut tim dokter Rumah Sakit Ksatria Airlangga (RSTKA) menangani dua pasien patah tulang akibat bencana gempa dan tsunami.

Masih Siaga di Pelabuhan Donggala, RST Ksatria Airlangga Mengoperasi Dua Pasien Patah Tulang
dok/RST Ksatria Airlangga
Rauzan Fikri (15) pelajar SMKN 1 Banawa, Donggala kelas 1 rersebut mengalami patah tulang pada pangkal paha. 

TRIBUNKALTIM.CO, DONGGALA-- Dalam dua hari berturut-turut tim dokter Rumah Sakit Ksatria Airlangga (RSTKA) menangani dua pasien patah tulang akibat bencana gempa dan tsunami.

Rabu (10/10), Marta Malabang (56) yang mengalami luka di kaki kanannya akibat tertimpa mesin jahit saat gempa, akhirnya bisa dioperasi tim dokter.

"Kemarin kaki kanan saya ini cuma di gips saja supaya tidak makin bengkak karena fasilitas rumah sakit Donggala saat kejadian lumpuh total," kata ibu dua orang anak yang tinggal di  kampung Labuan Bajo, Donggala, usai dioperasi pemasangan pen oleh dr. Bambang Widiwanto, SpO yang sedang bertugas di kapal phinisi RST Ksatria Airlangga  di Pelabuhan Donggala.

Ibu dua orang anak yang hari-hari sebagai penjahit itu menceritakan bagaimana saat musibah gempa yang disusul tsunami yang mengerikan tersebut.

Begitu bumi bergetar keras rumah kayu  berbentuk panggung itu langsung goyang dan tak lama kemudian ambruk. Beruntung sebelum bangunan runtuh ia sempat meraih cucunya yang masih balita kemudian memeluknya erat.

Tim dokter yang bertugas di RST Ksatria Airlangga tengah mengoperasi kaki Marta Malabang (50) yang patah akibat tertimpa mesin jahit saat terjadi gempa di Donggala.
Tim dokter yang bertugas di RST Ksatria Airlangga tengah mengoperasi kaki Marta Malabang (50) yang patah akibat tertimpa mesin jahit saat terjadi gempa di Donggala. (dok/RST Ksatria Airlangga)

Tapi naas begitu ambruk mesin jahit besar yang selama ini menjadi sumber penghiudpannya itu terjatuh kemudian mengenai kaki kanannya sampai luka ternganga.

"Tapi apapun saya bersyukur meski rumah roboh hanya kaki yang luka sedang bagian tubuh lain termasuk cucu saya tidak apa-apa," katanya menceritkan tragedi yang datang di senja hari tersebut.

Selain itu karena letak rumahnya di atas bukit sehingga tudak terdampak tsunami, justru para tetangganya yang lokasi rumahnya ada di tepi pantai mengungsi membuat tenda di sekitar rumahnya.

Dalam keadaan tak berdaya dan penuh kepanikan keesokan harinya baru dibawa oleh Nina, anaknya ke RSUD Donggala. Tetapi dokter setempat tidak bisa berbuat banyak. Selain tidak ada dokter ahli bedah tulang alat rontgent untuk melihat keadaan tulang tidak bisa digunakan karena saat itu semua aliran listrik padam.

Marta Malabang menjalani pemasangan pens pada kakinya di RST Ksatria Airlangga.
Marta Malabang menjalani pemasangan pens pada kakinya di RST Ksatria Airlangga. (dok/RST Ksatria Airlangga)

"Akhirnya oleh dokter umum sementara digips saja dulu agar struktur tulangnya yang bermasalah tidak makin parah," kata Nina yang kebetulan seorang perawat.

Halaman
1234
Penulis: Priyo Suwarno
Editor: Priyo Suwarno
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About us
Help