Gempa dan Tsunami Sulteng

Waspadai Napi yang Kabur, Polres Berau Monitoring Tempat-tempat Pengungsian

Aparat kepolisian terus memburu para narapidana (napi), yang kabur dari sejumlah rumah tahanan (rutan)

Waspadai Napi yang Kabur, Polres Berau Monitoring Tempat-tempat Pengungsian
KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO
Narapidana dan tahanan dikumpulkan di halaman saat terjadi kebakaran di Rumah Tahanan Donggala, Sulawesi Tengah, Minggu (30/9/2018) pasca kerusuhan tahanan. Kerusuhan dipicu permintaan narapidana dan tahanan dibebaskan untuk menemui keluarga yang terkena musibah gempa tidak dipenuhi. Sekitar 100 tahanan dikabarkan melarikan diri. 

TRIBUNKALTIM.CO – Aparat kepolisian terus memburu para narapidana (napi), yang kabur dari sejumlah rumah tahanan (rutan) dan lembaga pemasyarakatan (lapas) dari Sulawesi Tengah (Sulteng), saat peristiwa gempa bumi dan tsunami menghantam Sigi, Palu dan Donggala beberapa waktu lalu.

Masuknya pengungsi asal Sulteng, menjadi atensi jajaran Polres Berau.

Kapolres Berau, AKBP Pramuja Sigit Wahono, kepada Tribunkaltim.co, Jumat (26/10/2018) mengatakan, pihaknya sudah mengantongi daftar napi yang kabur dari Sulteng.

“Namanya masyarakat mencari tempat yang aman (dari bencana alam), mereka mengungsi (ke Berau). Tapi yang namanya orang masuk ke daerah orang lain, ya harus ‘permisi’ dulu. Tanggungjawab kami untuk menjaga keamanan. Karena itu, kami tetap melakukan pendataan, jangan sampai ada napi masuk ke sini kemudian melakukan hal-hal yang tidak diinginkan (tindak kejahatan),” tegasnya.

Baca: Lolos dari Gempa di Palu, Atlet Paralayang Singapura Ng Kok Choong Tewas saat Beraksi di India

Aparat kepolisian melalui polsek-polsek melakukan pendataan para pengungsi yang masuk ke wilayah hukum Polres Berau.

“Kami melakukan pendataan, dan pendataan ini bagian dari pengawasan. Karena kami memang mendapat isntruksi dari Polda Kaltim untuk (mengamankan) napi-napi yang belum kembali (ke lapas atau rutan,” ungkapnya.  

Sejauh ini sudah ada lebih dari 100 orang pengungsi dari Sulteng yang tinggal di Berau. Mereka tersebar di sejumlah kecamatan. Namun yang paling banyak berada di Kecematan Bidukbiduk. Secara geografis, Kecamatan Bidukbiduk memang dekat dengan Sulteng.

Jarak antara Bidukbiduk dengan Sulteng hanya sekitar 190 kilometer dan para pengungsi yang menumpang Kapal Layar Motor (KLM) biasanya hanya memerlukan waktu 15 jam untuk sampai ke wilayah paling utara Kalimantan Timur ini.

Karena jarak yang cukup dekat ini, banyak pengungsi yang menyelamatkan diri ke wilayah Bidukbiduk, sehingga ada kekhawatiran, ada napi yang melarikan diri ke wilayah Berau.

“Untuk sementara ini kami belum menemukan yang sesuai dengan daftar nama (napi) yang ada itu,” ujarnya. 

Baca: Rawan Tsunami, Warga di 3 Provinsi Ini Diimbau Tak Perlu Tunggu Instruksi BMKG Saat Terjadi Gempa

Sigit menjelaskan, kepastian itu didapat berdasarkan laporan dari Polsek yang lokasinya ada menampung masyarakat korban tersebut, khususnya di wilayah pesisir. Pihaknya juga terus melakukan pemantauan dan monitoring melalui Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) termasuk dengan para  Bintara Pembina Desa (Babinsa), untuk turun langsung ke lokasi  pengungsian.   

Sementara itu, Kapolsek Biduk biduk AKP Herman mengatakan, sebelumnya ada 91 orang pengungsi yang telah menetap di Berau. Namun belakangan ada lagi 39 orang pengungsi yang datang lagi. Mereka terdiri dari balita hingga orang dewasa. “Mereka (pengungsi) ke sini (Berau) karena punya keluarga di sini,” ungkapnya.

Pihaknya mengimbau kepada pengungsi yang belum terdata segera melaporkan keberadaannya kepada aparat kampung atau kecamatan.

Selain untuk memudahkan penyaluran bantuan, juga untuk mengantisipasi pelarian napi ke wilayah ini.

Penulis: Geafry Necolsen
Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved