Berbahan Singkong, Ecoplas Temuan Ilmuwan Indonesia Ini Digadang Jadi Solusi Plastik Dunia

sudah mengantongi berbagai hak paten atas penemuan tersebut, termasuk kantung plastik ekologis yang dikembangkan untuk pasar Amerika

Berbahan Singkong, Ecoplas Temuan Ilmuwan Indonesia Ini Digadang Jadi Solusi Plastik Dunia
SWA.co.id
Sugiharto Tandio 

Tapioka yang terbuat dari singkong bisa diproduksi di berbagai negara tropis yang notabene memiliki tingkat konsumsi plastik dalam jumlah besar. Tandio yakin, plastik dari singkong bisa menjadi sumber pemasukan baru buat petani kecil di negara miskin.

Polusi plastik yang saat ini menjadi perhatian publik dunia menempatkan Tandio dan Tjiptadjaja sebagai langganan pembicara di berbagai forum internasional. Ketika Tandio menyambangi Our Ocean Conference di Bali, rekannya menghadiri pertemuan dengan pemerintah Malaysia.

Sementara pemerintah Kenya dan sejumlah negara Amerika Latin berniat mengundang keduanya. Indonesia sendiri baru berniat melarang penggunaan plastik yang terbuat dari minyak pada 2020.

Namun saat ini plastik alternatif buatan Greenhope sudah tersedia di berbagai supermarket dan toko di tanah air.

Sekilas, Ecoplas, terlihat seperti kantung plastik biasa. Yang membedakan adalah tulisan di permukaannya yang menyebut singkong sebagai bahan dasar utama. Berkat penerimaan pasar yang cukup besar Greenhope kini memiliki 50 pegawai.

Meski tumbuh pesat, perusahaan ini kesulitan menurunkan biaya produksi Ecoplas yang sebesar dua kali lipat dibandingkan plastik tradisional. Sebab itu banyak konsumen yang masih enggan membeli plastik ramah lingkungan.

Alternatif yang Lebih Murah

Untuk mengakalinya Tjiptadjaja dan Tandio membentuk tim penelitian dan pengembangan yang sejauh ini sudah berhasil menemukan senyawa aditif yang diberinama Oxium.

Jika ditambahkan ke dalam campuran bahan pembuat plastik, zat ini membatasi usia plastik konvensional menjadi hanya 2 tahun. Dengan Oxium, plastik bisa diproduksi secara konvensional dengan tambahan ongkos produksi sebesar hanya 2 hingga 5 persen.

Meski tidak ideal, penemuan tersebut bisa membuat plastik sekali pakai di banyak negara miskin menjadi lebih ramah lingkungan. Greenhope mengklaim telah menjual Oxium di Afrika Selatan, Malaysia dan sejumlah negara lain.

Halaman
123
Editor: Achmad Bintoro
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved