Setiap Tahun Warga Pedalaman Kesulitan Mencari Sembako, Ini Penyebabnya

Kondisi menyedihkan terungkap saat Tribun berbincang dengan pilot maskapai Mission Afiation Felowship (MAF), Capt Craig.

Setiap Tahun Warga Pedalaman Kesulitan Mencari Sembako, Ini Penyebabnya
HO
Sebuah pesawat MAF siap lepas landas dari salah satu lapangan terbang di perbatasan beberapa waktu lalu. 

TRIBUNKALTIM.CO, MALINAU - Kondisi menyedihkan terungkap saat Tribun Kaltim bertemu dan berbincang dengan salah satu pilot maskapai Mission Afiation Felowship (MAF), Capt Craig. Pesawat MAF selama ini menjadi sarana transportasi utama menuju daerah pedalaman dan perbatasan Malinau, Kaltara.

Salah satu desa di perbatasan dan pedalaman, yakni Desa Long Sule, Kecamatan Kayan Hilir menurut Capten Craig kerap diterpa kelaparan, bahkan hampir setiap tahun.

Bukan hanya krisis kebutuhan pokok yang menyebabkan kelaparan, Craig juga menyebutkan, desa yang hanya dapat diakses menggunakan jalur udara tersebut kerap mengalami krisis bahan bakar minyak (BBM) jenis premium. Hal tersebut disampaikan, karena ia sering mengirimkan kebutuhan barang kebutuhan pokok dan BBM ke desa Long Sule.

Baca: Terkendala Pasokan, Harga Bensin di Pedalaman Malinau Capai Rp 30 Ribu/Liter

"Setiap tahun, saya selalu saja ada mengirimkan kebutuhan pokok untuk masyarakat Long Sule. Di desa itu, setiap tahun terjadi kelaparan. Oleh karenanya, saya selalu mendapatkan tugas mengirimkan ribuan kilogram beras ke desa tersebut," ujarnya sembari mengecek persiapan penerbangan menuju Desa Long Sule, beberapa waktu lalu.

Pengiriman kebutuhan pokok dan juga bensin, disebutkan Craig, dahulu dapat dilakukan dari berbagai lokasi. Bisa melalui Bandara Kol RA Bessing Malinau maupun Bandara Perintis Desa Mahak Baru, Kecamatan Sungai Boh. Bisa juga dari Bandara Long Ampung, Kecamatan Kayan Selatan.

"Kalau ada jadwal penerbangan saya darimana saja asalkan ada yang mau diangkut ke Long Sule maka akan diangkut. Tanpa cara pengiriman barang-barang tersebut melalui udara maka sangat sulit masyarakat Long Sule mendapatkan barang kebutuhan pokok dan bensin," tuturnya.

Baca: Gempa Hari Ini - 11 Kali Terjadi, Terbesar di Timika

Diceritakan pula, sekali berangkat Craig bisa membawa terbang premium 800 liter yang dimasukan dalam drum plastik muatan 200 liter/drum. Dalam sehari, Craig melakukan empat kali penerbangan. Sehingga, dalam sehari Craig mengirimkan sedikitnya 12-16 drum premium.

"Kalau misalnya jadwal saya terbang sebanyak dua kali sehari, saya akan mengangkut sekitar 1.600 liter atau 8 drum. Kalau saya mendapat jadwal 4 kali terbang, maka saya bisa angkut 16 drum dalam sehari. Ya tergantung jadwal saya terbang saja.," bebernya.

Namun, dikatakan Craig, saat ini MAF tidak lagi dapat membantu masyarakat mengangkut BBM ke seluruh desa di Malinau. Pasalnya, pemerintah tidak memperbolehkan MAF mengangkut BBM dikarenakan benda tersebut merupakan benda berbahaya. Oleh karenanya, saat ini desa tersebut kerap krisis BBM.

Baca: Dansat Brimob Kaltim Ikut Bantu Korban Gempa, Bawa Logistik ke Desa Terisolir Pakai Trail

"Sudah tidak boleh lagi sekarang angkut BBM. Barang tersebut dinyatakan berbahaya oleh pemerintah untuk diangkut menggunakan pesawat. Saat ini kita sudah tidak bisa bantu masyarakat memenuhi kebutuhan BBM. Tapi, kalau mengangkut barang lainnya masih bisa. Sudah tidak terhitung saya angkut barang kebutuhan masyarakat ke desa-desa pedalaman dan perbatasan," jelasnya. (*)

Penulis: Purnomo Susanto
Editor: Sumarsono
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved