Stop Kebiasaan Makan Saat Begadang, Bisa Ganggu Kesehatan Jantung

Studi terbaru menunjukkan, makan larut malam mungkin memiliki dampak buruk pada kesehatan jantung. Penelitian ini dipresentasikan

Stop Kebiasaan Makan Saat Begadang, Bisa Ganggu Kesehatan Jantung
Ilustrasi serangan jantung 

TRIBUNKALTIM.CO - Studi terbaru menunjukkan, makan larut malam mungkin memiliki dampak buruk pada kesehatan jantung. Penelitian ini dipresentasikan di pertemuan tahunan Asosiasi Jantung Amerika yang berlangsung di Chicago, Sabtu (10/11/2018).

Menurut Nour Makarem yang seorang penulis utama dan postdoctoral kardiologi di Columbia University Vagelos College of Physicians and Surgeons, kebanyakan masyarakat AS memiliki kebiasaan begadang.

Ketika begadang, manusia cenderung mengonsumsi makan berat hingga larut malam. Kemudian jam tidur tidak tercukupi. Hal inilah yang diduga kuat dapat memainkan peran dalam memicu obesitas, tekanan darah tinggi, dan diabetes.

Untuk membuktikannya, mereka menggunakan database Studi Kesehatan Masyarakat Amerika Hispanik dan Amerika Latin. Mereka kemudian mengamati 12.700 data responden yang berusia 18 sampai 76 tahun.

Dilansir Live Science, Sabtu (10/11/2018), Tim Makarem melihat catatan di mana peserta melaporkan kebiasaan makan dan membandingkannya dengan informasi tekanan darah dan gula darah.

Ternyata, lebih dari separuh peserta yang didata mengonsumsi 30 persen atau lebih kalori harian setelah jam 18.00 petang.

Jika dibandingkan dengan peserta yang makan kurang dari 30 persen kalori harian setelah jam 18.00 petang, kesehatannya lebih buruk.

Tim ahli menemukan, mereka memiliki kadar gula darah puasa yang tinggi (ukuran jumlah gula dalam darah ketika seseorang tidak makan dalam hitungan jam), tingkat insulin yang tinggi (hormon yang mengatur jumlah gula dalam darah), tingkat HOMA-IR yang tinggi (penanda resistensi insulin), dan tekanan darah lebih tinggi.

Menurut Mayo Clinic, tingkat gula darah puasa yang tinggi dapat menjadi tanda pradiabetes. Pradiabetes berarti kadar gula darah seseorang tinggi, tapi tidak cukup tinggi untuk dianggap diabetes. 70 persen orang dengan pradiabetes dapat mengembangkan diabetes tipe 2 yang merupakan faktor risiko penyakit jantung.

Di kelompok ini, 23 persen peserta juga lebih mungkin mengembangkan hipertensi dibanding orang-orang yang berhenti makan sebelum jam 18.00 petang. Makarem menambahkan, hubungan ini umumnya terlihat pada wanita.

Halaman
12
Editor: Achmad Bintoro
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved