Pertamina Pastikan Tidak Ada Pengurangan Pasokan Solar, Bantah Solar di Balikpapan Langka

PT Pertamina (Persero) Marketing Operation Region (MOR) VI Kalimantan pastikan tidak ada pengurangan pasokan BBM jenis Solar di wilayah Balikpapan.

Pertamina Pastikan Tidak Ada Pengurangan Pasokan Solar, Bantah Solar di Balikpapan Langka
Tribun Kaltim / Rachmad Sujono
Puluhan kapal nelayan di kampung Manggar Balikpapan Timur tersusun rapi berjejer menunggu cuaca yang mendukung, Minggu (18/11). Beberapa kapal nelayan tetap melaut meski solar yang menjadi bahan bakar perahu mereka kian langka. 

Laporan Wartawan Tribunkaltim.co, Aris Joni

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN – PT Pertamina (Persero) Marketing Operation Region (MOR) VI Kalimantan pastikan tidak ada pengurangan pasokan BBM jenis Solar di wilayah Balikpapan dan sekitarnya. Meskipun ada 1 SPBU penyalur Solar yang ditutup sementara dalam rangka pembinaan, pasokan tidak dikurangi dan dialihkan ke SPBU lain.

Sejak ditutupnya SPBU No. 6476115 di KM 9 pada 1 November yang lalu, pihaknya telah mengalihkan pasokan untuk SPBU tersebut ke SPBU No. 6476110 KM 14. Rencananya, SPBU KM 9 akan kembali beroperasi pada tanggal 26 November 2018.

Sebagai tanggapan atas antrian yang terjadi beberapa waktu ini di sejumlah SPBU di Kota Balikpapan, Region Manager Comm. & CSR Pertamina Kalimantan Yudi Nugraha menyatakan bahwa pihaknya bersama-sama dengan Muspida Balikpapan, Dinas Perhubungan Kota Balikpapan, Aparat Keamanan dan perwakilan asosiasi pengusaha kendaraan logistik telah melakukan diskusi guna mencari jalan keluar atas permasalahan ini pada Jumat (9/11/2018) yang lalu.

Berdasarkan hasil pertemuan tersebut, Pertamina menyanggupi penambahan alih pasokan Solar yang semula hanya di SPBU KM 14 ditambah dengan SPBU No. 6476105 Kebun Sayur. Selain itu, disepakati pula penambahan jam operasional SPBU Kebun Sayur menjadi 24 jam dengan penyaluran Solar difokuskan setelah pukul 22.00 WITA sebagai upaya untuk meminimalisasi adanya antrean panjang kendaraan besar.

“SPBU Kebun Sayur mulai menambah jam operasional sejak 12 November. Berdasarkan pemantauan tim di lapangan, penjualan produk Solar biasanya berhenti sekitar pukul 03.00 Wita. Tak jarang pasokan yang kami siapkan masih tersisa hingga 1 KL dikarenakan sudah tidak ada pembelian. Hal ini menunjukan bahwa sebenarnya pasokannya ya cukup-cukup saja”, kata Yudi.

Lebih lanjut Yudi menjelaskan sesuai dengan Peraturan Presiden No 191 Tahun 2014 Pemerintah telah mengatur tiga jenis bahan bakar yakni Jenis BBM Tertentu (JBT) atau BBM subsidi, Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) dan Jenis BBM Umum (JBU). Khusus untuk JBT seperti BBM Solar, pemerintah masih mengatur kuota konsumsinya mengingat bahan bakar jenis ini masih mendapatkan subsidi dari pemerintah.

Sebagai contoh di wilayah Kalimantan Timur, hingga awal November 2018 sesungguhnya penyaluran BBM jenis Solar telah melampaui kuota yang ditetapkan pemerintah hingga 9,61 %. Di Kota Balikpapan, penyaluran bahkan telah melampaui kuota hingga 11,3 % dengan catatan rata-rata konsumsi harian sejumlah 85 KL per hari.

Peningkatan tersebut tentunya terjadi dikarenakan beberapa alasan, termasuk di dalamnya masih minimnya pemahaman sebagian pengguna kendaraan diesel tentang jenis BBM yang cocok digunakan, baik dari aspek ketepatan subsidi ataupun kecocokan bahan bakar dengan jenis kendaraan yang digunakan.

“Apabila terjadi kendala di lapangan kami terbuka dengan diskusi yang dapat menghasilkan solusi terbaik bagi semua pihak. Namun demikian yang perlu dijadikan catatan adalah, penyaluran BBM jenis Solar sesungguhnya telah berada di atas angka kuota dari pemerintah. Kita harus bijak menanggapi hal ini”, ungkap Yudi.

Terkait dengan efektifitas penyaluran BBM di lapangan, sebagai operator dalam penyaluran BBM kepada masyarakat, Pertamina terus berupaya mendukung pemerintah sebagai regulator dalam menjaga kesesuaian penyaluran BBM. Beberapa upaya telah dilakukan seperti edukasi kepada pemilik dan pengelola SPBU serta masyarakat terkait bijak memilih BBM sesuai dengan latar belakang ekonomi maupun jenis kendaraan hingga pentingnya membeli BBM di lembaga penyalur resmi yang lebih tepat takaran dan terjamin aspek keselamatannya.

“Selain itu kami juga secara rutin melaksanakan pengecekan ke SPBU. Apabila terdapat SPBU yang dengan sengaja menjual BBM JBT kepada yang tidak berhak kami tidak ragu untuk jatuhkan sanksi”, tambah Yudi. (*)

Penulis: Aris Joni
Editor: Reza Rasyid Umar
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved