Proyek Susah Didapat, Begini Nasib Sejumlah Kontraktor di Samarinda

Sudah dua tahun terakhir, Wijianto, salah seorang kontraktor di Samarinda memilih vakum dari dunia konstruksi.

Proyek Susah Didapat, Begini Nasib Sejumlah Kontraktor di Samarinda
tribunkaltim.co/ nevrianto
Pengerjaan Fly Over dan Proyek Jembatan Kembar oleh Kontraktor Nasional di jalan Selamet Riyadi Samarinda , Senin (3/12) 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Sudah dua tahun terakhir, Wijianto, salah seorang kontraktor di Samarinda memilih vakum dari dunia konstruksi.

Pria paruh baya yang sudah 10 tahun menjadi kontraktor paket proyek pemerintah ini, memilih banting stir membuka warung makan sederhana di Jalan AW. Syahranie, Samarinda.

Defisit anggaran menyebabkan paket proyek penunjukan langsung makin susah didapat di Samarinda dan sekitarnya.

"Tahu sendiri pemkot defisit anggaran. Ya, kalau katanya orang, kita harus putar haluan, yang penting dapur bisa ngepul. Makanya ada modal dikit, kita putar buat buka warung," ujar Wijianto, Rabu (5/12/2018).

Baca: Humas Kaltara Masuk Nominasi Medsos Terbaik Nasional, Gubernur: Ini Prestasi Membanggakan

Proyek penunjukkan langsung, yang biasa ia garap bervariasi, mulai dari pengecoran jalan, drainease, sampai pembuatan pos ronda. Nominalnya di kisaran Rp 200an juta ke bawah.

Wijianto, mengaku, usaha jasa kontruksi kecil-kecilan ini, diwarisi dari almarhum ayahnya. Berbekal pengalaman dan reputasi baik hasil pekerjaan mereka, ia bisa mendapat kepercayaan memperoleh proyek penunjukkan langsung ini di berbagai kota di Kaltim.

"Kurang modal, dan tenaga terampil dan ahli, makanya, main di proyek PL saja," ujar Wijianto.

Dahulu, ia bercerita, di masa jaya, ia bisa mendapat 2-3 proyek PL dalam setahun. Hal saya, dirasakan teman-temannya sesama kontraktor. Namun, ia merasa beruntung, dapat bertahan dan beradaptasi banting stir ke usaha lain.

Banyak juga rekan kontraktor kecil sepertinya, yang bernasib kurang beruntung. Ada yang vakum, gulung tikar, sampai sakit parah, kepikiran karena upahnya belum dibayar si pemberi kerja saat defisit keuangan pemerintah melanda.

"Ada yang jual buah, kolak, ada yang bayar kredit mobil belum lunas, ada juga teman saya yang lumpuh, kena stroke karena beberapa paket ga dibayar. Banyak juga yang masih ada sangkutan (hutang) kreditan di bank. Hal-hal ini, yang ga saya inginkan, tapi, saya bilang ke teman-teman, jangan malu," tuturnya menceritakan pengalaman banyak rekannya sesama kontraktor di masa defisit ini.

Baca: APBD Kaltim 2019 Tidak Ada Proyek MYC, Peluang Kontraktor Lokal Dapat Proyek

Dari diskusi dengan rekan di asosiasi kontraktor, tahun depan, diprediksi, proyek-proyek mulai lancar. Selain komitmen membayar hutang pemkot ke pihak ke-tiga, mulai banyak alokasi pembangunan. Walaupun, tak sebanyak di tahun 2010an, saat batubara dan sawit sedang tumbuh.

Mempersiapkan itu, Wijianto, sudah pasang kuda-kuda dengan memperbaharui sejumlah dokumen administrasi jika nantinya penunjukan langsung dimulai. (*)

Penulis: Nalendro Priambodo
Editor: Sumarsono
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved