Jalan Menuju Desa Pengguren Paser Rusak Berat Salah Satu Penyebab SMAN 2 Batu Engau Sepi Peminat

Jalan Menuju Desa Pengguren Paser Rusak Berat Salah Satu Penyebab SMAN 2 Batu Engau Sepi Peminat

Jalan Menuju Desa Pengguren Paser Rusak Berat Salah Satu Penyebab SMAN 2 Batu Engau Sepi Peminat
HO/SONI SUMARSONO
Pengalaman Kepala SMA Negeri 2 Batu Engau Soni Sumarsono tahun 2017 saat menuju SMAN 2 Batu Engau yang berlokasi di Desa Pengguren, Kecamatan Batu Engau. 

Jalan Menuju Desa Pengguren Paser Rusak Berat Salah Satu Penyebab SMAN 2 Batu Engau Sepi Peminat

TRIBUNKALTIM.CO, TANA PASER - Saat musim hujan tahun 2017, kondisi badan jalan menuju Desa Pengguren Kecamatan Batu Engau, rusak berat. Jalan tanah menjadi becek, apalagi setelah digilas truk angkutan sawit, waktu tempuh bertambah lama karena badan jalan semakin sulit dilewati. Meski sudah berhati-hati, kemungkinan terjatuh masih sering terjadi.

Kepala SMA Negeri 2 Batu Engau Soni Sumarsono adalah salah satu dari sekian banyak warga yang sering melewati jalan tersebut. “Itu pengalaman saya tahun 2017, waktu musim hujan. Itu (terjatuh) sudah sering, padahal saya sudah hati-hati sekali,” kata Soni, Rabu (5/12/2018).

Berdomisili di Desa Tanah Priuk Kecamatan Tanah Grogot membuat Soni melakukan perjalanan pulang pergi sekali dalam sepekan. Berangkat ke Pengguren Minggu siang, pulangnya Jumat siang. “Pernah saya berangkat dari rumah pukul 13.00 WITA, sampai di Pengguren pukul 18.00,” ucapnya.

Namun kondisi yang membuat sepeda motor dan tubuhnya sering berselimut lumpur itu sudah membaik. “Pemkab Paser telah melakukan perbaikan, sehingga sebagian badan jalan mudah dilewati, saya hanya perlu waktu tempuh sekitar 3 jam untuk sampai ke Pengguren,” sambungnya.

Namun kondisi ini mungkin tidak bertahan lama. Menurutnya, badan jalan yang tanpa diimbangi upaya pemeliharaan secara berkala, lama kelamaan akan rusak. “Apalagi sekarang masuk musim penghujan, ditambah dilalui truk-truk bermuatan berat,” ujarnya.

Hampir tiga tahun Soni menjadi guru dan Kepala SMA Negeri 2 Batu Engau. Tahun ajaran 2018-2019, sekolah yang berlokasi di Desa Pengguren ini mempunyai 85 orang peserta didik, 3 guru PNS, 7 guru Pegawai Tidak Tetap (PTT) dan 1 tenaga Tata Usaha.

Dibandingkan mata pelajaran yang harus diajarkan, satu orang guru mengajar satu mata pelajaran. Namun jumlah tenaga pendidik yang jauh dari ideal tidak mematahkan semangatnya mengajar, mata pelajaran yang tidak ada gurunya tetap diberikan oleh guru-guru yang ada.

Jumlah guru di Paser sebenarnya cukup, tapi menumpuk di kota, tidak mau ditempatkan di desa seperti Pengguren. Selain itu, kata Soni, hanya satu SMP sebagai sekolah pendukung dan tak sedikit lulusan sekolahnya yang melanjutkan ke SMA atau SMK di Tanah Grogot dan Tanah Pasir Belengkong.

“Jumlah siswa mempengaruhi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang sekolah terima. Sedikit siswanya, sedikit pula dana BOS yang diterima, karena SMA dan SMK di bawah kewenangan Disdikbud Kaltim, koordinasinya pun harus ke Samarinda,” ucap mantan Wakil Kepala (Waka) SMK Negeri 2 Tanah Grogot ini.

Ia mengatakan, siswa lulusan SMP dari Desa Tampakan, Mengkudu, Lomu dan lainnya lebih memilih melanjutkan sekolah di Pasir Belengkong dan Tanah Grogot karena kondisi infratruktur jalan. Jika badan jalannya bagus, tentunya akan banyak guru yang bersedia mengabdi ke SMA Negeri 2 Batu Engau, praktis akan meningkatkan jumlah peserta didik.

“Bagaimana pun kondisi infrastruktur jalan sangat mempengaruhi pengembangan pendidikan. Semoga kondisi badan jalan ini mendapat perhatian pemerintah. Setahu saya badan jalan berakhir di Desa Tanjung Aru Kecamatan Tanjung Harapan, yang menjadi kewenangan Pemprov Kaltim,” tambahnya.(*)

Penulis: Sarassani
Editor: Reza Rasyid Umar
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved