Sebut Energi Hijau Sulit Berkembang di Kaltim, Ini Kata Peneliti

Bumi Etam sulit mengembangkan Energi Baru Terbarukan (EBT) lantaran ketergantungan terhadap gas dan minyak masih tinggi.

Sebut Energi Hijau Sulit Berkembang di Kaltim, Ini Kata Peneliti
Tribunkaltim.co /Cornel Dimas
Pj Sekda Prov Kaltim Meiliana menanam pohon aren dalam rangka Gerakan Nasional Energi Hijau Untuk Indonesia di Desa Manunggal Jaya, Kecamatan Sebulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Kamis (6/12/2018). 

Sebut Energi Hijau Sulit Berkembang di Kaltim, Ini Kata Peneliti

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Pemprov Kaltim terus berupaya mewujudkan pembangunan ramah lingkungan green energi.

Termasuk menjadi salah satu penggagas terwujudnya penanaman 10.000 hektare pohon aren di Desa Manunggal Jaya, Kecamatan Sebulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kamis kemarin.

Namun upaya Kaltim mewujudkan energi hijau masih menemui hambatan.

Baca: Hari Pertama Seleksi Kompetensi Bidang CPNS Pemprov Kaltim, 8 Peserta Tak Hadir

Baca: Banyaknya Hutan Rusak, Peradi Dorong Advokasi Lingkungan

Baca: 612 Peluru Ditemukan di Lapangan Bola, Warga Kecamatan Koto Tangah Padang Geger

Peneliti energi Biomassa Balai Besar Litbang Ekosistem Hutan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Tien Wahyuni berpendapat Bumi Etam sulit mengembangkan Energi Baru Terbarukan (EBT) lantaran ketergantungan terhadap gas dan minyak masih tinggi.

Menurutnya Kaltim sulit melepas ketergantungan terhadao gas dan minyak lantaran dua energi ini memang menjadi potensi ekonomi Kaltim selama bertahun-tahun.

Hal ini disampaikan Tien pada kegiatan talkshow Energi Hijau Untuk Indonesia, di Gedung Auditorium PKP2AIII LAN Samarinda, Jalan HM Ardans Samarinda, Jumat (7/12/2018).

"Energi hijau terbarukan akan sulit menyaingi. Contoh, energi gas yang dimiliki Kaltim ini sangat besar, sehingga membuat energi hijau seperti wood pellet belum bisa menyainginya," ujarnya.

Kendati demikian, ia menilai Kaltim sebenarnya berpotensi mengembangkan energi hijau. Sebab selama ini potensi energi terbarukan sudah dilakukan masyarakat di pedesaan. Namun belum terarah dan menyeluruh.

Menurut Tien, kebijakan pembangunan hijau yang akan dibuat di Kaltim saatnya beralih mengembangkan energi yang dekat dengan masyarakat. Karena sangat banyak sekali kebijakan pembangunan hijau yang baru dibuat sekarang, ternyata sudah lama dilakukan masyarakat. Menurut Tien, ini menjadi Pekerjaan Rumah PR Pemprov Kaltim agar gencar melaksanakan pembangunan berwawasan lingkungan lebih dekat ke masyarakat.

"Tanpa disadari masyarakat dj daerah terpencil di Kaltim ini sebenarnya sudah memanfaatkan hutan aren untuk bahan makanan. Ini bagian kekayaan masyarakat kita. Selanjutnya harus lebih terrah, tidak seperti sawit, tai ada tanaman holtikultura lainnya," ungkap Tien.

Kegiatan ini dihadiri Deputi Inovasi LAN Tri Widodo W Utomo, Senior Manajer Provinsi Kaltim The Nature Conservancy (TNC) Indonesia Niel Makinuddin serta Peneliti dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Ekosistem Hutan Dipterokarpa Tien Wahyuni.

Termasuk 25 peserta Reform Leader Academy (RLA) Angkatan XVI yang berasal dari KLHK, Provinsi Kaltim, Kalbar, Kalsel, Kaltara, Kalteng, dan Bangka Belitung.

Sementara itu Kepala PKP2AIII LAN Samarinda, Mariman Darto berharap kegiatan ini menjadi momentum yang tepat agar 25 peserta RLA ini termotivasi melakukan inovasi dan perubahan drmi mewujudkan energi hijau untuk Indonesia.

"Sehingga gerakan ini akan mampu mewujudkan pelestarian lingkungan kehidupan manusia di masa mendatang," ucapnya. (dmz)

Penulis: Cornel Dimas Satrio Kusbiananto
Editor: Adhinata Kusuma
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved