Harga Tiket Pesawat Terus Naik, Yayasan Perlindungan Konsumen: Harusnya Ada Nilai Tambah

Harga Tiket Pesawat Terus Naik, Yayasan Perlindungan Konsumen: Harusnya Ada Nilai Tambah

Harga Tiket Pesawat Terus Naik, Yayasan Perlindungan Konsumen: Harusnya Ada Nilai Tambah
TRIBUN KALTIM/ARIS JONI
Piatur Pangaribuan 

TRIBUNKALTIM.CO, TRIBUN - Koordinator Yayasan Lembaga Perlindungan Konsumen Nusantara Kaltim Dr Piatur Pangaribuan, SH menanggapi harga tiket pesawat yang cenderung mahal, mengatakan seharusnya harga tiket penerbangan sudah normal, pasca musim liburan usai.

Menurut Piatur, kalaupun ada kenaikan harga tiket penerbangan, seharusnya ada nilai tambah yang didapat konsumen.

"Kalau pun ada kenaikan harga seharusnya ada nilai tambah yang didapat oleh konsumen. Saat ini penerbangan sudah sering delay dan banyak persoalan lainnya, tapi malah harga tiket meningkat. Belum lagi terkait bagasi berbayar," ujarnya kepada Tribun, Minggu (13/1).

Baca: Laga Manchester City vs Wolverhampton Wanderers, Gerombolan Serigala Bikin Guardiola Resah

Persoalannya adalah saat ini sudah tidak dalam waktu peak season namun harga tiket tidak kunjung turun.

"Saya pernah membaca di media jika pada saat penerbangan low season, penumpang sedikit dan harga cenderung menurun. Jadi ketika peak season mereka kesempatan menaikkan harganya. Tetapi terlihat bisnis yang memonopoli harga, jadi semena-mena. Padahal ini menyangkut kebutuhan orang banyak," tuturnya.

Disinggung mengenai harga tiket yang mengalami kenaikan diakibatkan kenaikan harga bahan bakar avtur, Piatur mengatakan seharusnya ada keterbukaan informasi bahwa harga bahan bakar avtur memang mengalami kenaikan.

"Jika argumentasinya bahwa harga tiket naik akibat harga avtur yang juga naik, disinilah peran keterbukaan informasi dari pemerintah. Harusnya informasi tersebut juga disampaikan juga oleh pemerintah. Pemerintah belum ada pengumuman tentang harga avtur saat ini," katanya.

Baca: PT Hero Supermarket Tbk ( HERO) Tutup 26 Gerai, Begini Nasib 532 Karyawan yang Kena PHK

Piatur melanjutkan, meskipun bahan bakar avtur hanya digunakan untuk penerbangan, namun seharusnya juga disampaikan kepada seluruh masyarakat, sesuai undang-undang tentang Keterbukaan Informasi Publik.

"Pengguna jasa penerbangan yang menggunakan avtur kan juga digunakan oleh seluruh masyarakat Indonesia, sehingga informasi tentang kondisi kenaikan Avtur juga harusnya diketahui oleh masyarakat," lanjutnya.

Peraturan mengenai ambang tarif batas atas dan tarif batas bawah yang sudah diatur oleh Peraturan Menteri Perhubungan No 14 tahun 2016, dikatakan Piatur, seharusnya juga dikaji tidak hanya dari sisi bisnis penerbangan, namun juga mempertimbangkan aspek konsumen.

Baca: Pelamar CPNS yang Sudah Dinyatakan Lulus Ini Pilih Mundur, Begini Cara Tentukan Penggantinya

Baca: Tak Ada Pelamar, 12 Formasi CPNS di Instansi Ini Kosong, Mayoritas yang Lulus Belum Setor Berkas

"Meskipun dikatakan masih berada di bawah tarif batas atas yang diatur oleh Permenhub, tetapi masyarakat sudah menjerit. Apalagi sudah mencapai tarif batas atas," ujarnya.

Pemerintah seharusnya dapat lebih spesifik mengatur kembali mengenai waktu kapan harga tiket boleh naik dan kapan waktu harga tiket harus turun, yang juga disesuaikan dengan kondisi ekonomi masyarakat saat ini.

"Misalnya kebijakan pada saat low season hanya boleh menaikkan harga 40-50% atau pada saat peak season hanya boleh menaikkan harga tiket 20%. Pemerintah harus masuk monitoring," jelasnya.

"Ekonomi Pancasila seharusnya tidak mencekik, kalau sudah begini terlihat seperti ekonomi kapitalis," tandasnya. (*)

Penulis: Aditya Rahman Hafidz
Editor: Sumarsono
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved