Bukan Sekadar Cuaca Buruk, Ini Penyebab Dua Penerbangan Menuju Samarinda Dialihkan ke Balikpapan

"Balikpapan kan sudah puluhan tahun beroperasi. Sedangkan APT Pranoto ini, ibarat bayi, yang baru lahir, tapi sudah disuruh berlari," ungkap Dodi.

Bukan Sekadar Cuaca Buruk, Ini Penyebab Dua Penerbangan Menuju Samarinda Dialihkan ke Balikpapan
TRIBUN KALTIM/NEVRIANTO HP
Pesawat Garuda Indonesia yang sempat tertunda mendarat di bandara APT Pranoto, Samarinda, akhirnya dapat mendarat sekitar pukul 14.30 Wita, Senin (14/1/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Kaltim, Rafan A Dwinanto

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Dua pesawat batal mendarat di Bandara Aji Pangeran Tumenggung (APT) Pranoto, Senin (14/1/2019).

Cuaca buruk membuat pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA-580, dan Batik Air dengan nomor penerbangan ID7281 akhirnya mendarat di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan, Balikpapan.

Diketahui, sejak pagi Samarinda diguyur hujan cukup lebat.

Belakangan, pesawat Garuda Indonesia yang sempat tertunda mendarat di bandara APT Pranoto, Samarinda, akhirnya dapat mendarat sekitar pukul 14.30 Wita, Senin (14/1/2018).

Kepala Unit Pengelola Bandara APT Pranoto, Dodi Dharma Cahyadi menuturkan, pihaknya tak ingin mengambil risiko mendaratkan pesawat dalam kondisi cuaca buruk.

Terlebih, bandara yang diresmikan Presiden Joko Widodo, Oktober 2018, ini, belum dilengkapi sejumlah peralatan yang menunjang safety penerbangan. Contohnya lampu runway dan lampu bantu pendaratan.

"Jarak pandangnya kurang dari 1 kilometer. Kita tak ingin mengambil risiko, jadi diarahkan mendarat ke Balikpapan saja," kata Dodi.

Dodi pun mengakui, Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan, punya fasilitas pendaratan yang lebih mumpuni. Sehingga bisa menunjang pendaratan meski dalam kondisi cuaca kurang bersahabat.

"Balikpapan kan sudah puluhan tahun beroperasi. Sedangkan APT Pranoto ini, ibarat bayi, yang baru lahir, tapi sudah disuruh berlari," ungkap Dodi.

Soal lampu runway tersebut, menurut Dodi, sudah pernah diusulkan ke Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

Namun, rencana alih kelola Bandara APT Pranoto ke Angkasa Pura I, disinyalir menjadi penyebab belum disetujuinya usulan pembiayaan lampu runway ini oleh Kemenhub.

"Saya terus sampaikan ke Dirjen Perhubungan Udara, soal lampu runway ini. Karena ini menyangkut safety penerbangan. Untuk lampu bandara ini biayanya sekitar Rp11 miliar," kata Dodi.

Lampu bantu pendaratan, kata Dodi, tidak sekadar membantu pendaratan pada malam hari. Melainkan, juga membantu pendaratan pada saat cuaca buruk.

"Karena yang mendarat di APT Pranoto ini bukan hanya pesawat kecil, tapi pesawat besar-besar juga," tutur Dodi. (*)

Penulis: Rafan Dwinanto
Editor: Kholish Chered
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved