Jelang Debat Capres Jilid I Malam Ini, Isu Perbatasan Cukup Krusial

"Sekarang rakyat Indonesia cerdas. Mereka tahu dua kandidat ini, rakyat sekarang tahu siapa yang harus mereka pilih,

Jelang Debat Capres Jilid I Malam Ini, Isu Perbatasan Cukup Krusial
TRIBUN KALTIM / M ARFAN
Adri Patton

TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG SELOR - Debat Jilid I Capres dan Cawapres 2019 akan mulai tersaji dalam beberapa putaran jam. Debat ini dipastikan akan menyita perhatian ratusan juta pasang mata penduduk negeri.

Salah satunya datang dari Kalimantan Utara. Rektor Universitas Borneo Tarakan (UBT) Prof Adri Patton menanggapi debat yang akan mempertemukan dua pasang calon Jokowi-Maruf Amin versus Prabowo-Sandiaga Uno yang mengangkat tema Hukum, Korupsi, HAM, dan Terorisme itu.

Adri menilai, tema jilid I yang diangkat itu merupakan tema krusial yang dihadapi bangsa Indonesia. Pasal 27 ayat (1) UUD 1945 yang berbunyi 'Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya', belum terimplementasi dengan baik.

"Law enforcement (penegakan hukum) belum ditegakkan sebagaimana mestinya. Makanya harapan kita ke depan, siapapun presiden terpilih, law enforcement harus benar-benar ditegakkan tanpa pandang bulu. Termasuk hal-hal yang berhubungan dengan korupsi, terorisme, hukum dan HAM," kata Adri Patton melalui sambungan teleponnya kepada Tribunkaltim.co, Rabu (16/1/2018) pukul 16.30 sore.

Pria yang pernah menjadi Guru Besar Program Pasca Sarjana Universitas Mulawarman Kalimantan Timur ini beranggapan, negara akan kuat jika tercipta stabilitas nasional.

"Stabilitas nasional tidak hanya dilihat dari kebutuhan sandang, pangan dan papan terpenuhi. Tetapi termasuk keamanan dan pertahanan. Negara kuat harus betul-betul di-backup TNI/Polri. Jadi menurut hemat saja, penguatan alutsista ke depan untuk negara harus diciptakan oleh siapapun dari dua kandidat yang akan terpilih nanti," ujar mantan Sekda Kabupaten Malinau ini.

Seperti kasus korupsi lanjutnya, masih marak walaupun Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah memberi peran peran besar terhadap pengungkapan kasus-kasus. "KPK menurut saya sejauh ini berhasil," ujarnya.

Terorisme juga menjadi ancaman nyata bangsa Indonesia baik dari dalam maupun dari luar. Kapan pun dan di mana pun kata Adri bisa terjadi. Penguatan-penguatan TNI/Polri melalui operasi intelejen kembali harus diperkuat.

Masalah keamanan di perbatasan RI dengan negara tetangga sebut Adri, juga menjadi suatu hal yang diangkat dalam debat. Daerah perbatasan merupakan daerah rawan masuknya terorisme, penyelundupan narkoba, termasuk ancaman kedaulatan NKRI.

"Contohnya dalam konteks lokal, bisa di Kalimantan Utara. Selama ini kan masuknya narkoba, penyelundupan, masuknya terorisme, termasuk ancaman kedaulatan itu tidak bisa ditinggalkan dari masalah di perbatasan," tambahnya.

Ia berharap materi yang diangkat dalam debat harus menjadi fokus implementasi oleh siapapun dari dua kandidat yang terpilih Pilpres 2019 ini.

"Sekarang rakyat Indonesia cerdas. Mereka tahu dua kandidat ini, rakyat sekarang tahu siapa yang harus mereka pilih, walaupun berbeda visi misi, tetap mereka akan memilih. Mengenai politik identitas, apakah itu terjadi, kalau menurut hemat saya itupun akan berlaku," katanya. (*)

Penulis: Muhammad Arfan
Editor: Mathias Masan Ola
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved