Bupati Yansen Bakal Hentikan Pasokan Beras dari Luar Malinau

Kalau saya, sangat berani mengambil kebijakan menyetop pasokan beras dari luar Malinau

Bupati Yansen Bakal Hentikan Pasokan Beras dari Luar Malinau
TRIBUN KALTIM/DOAN PARDEDE
Panen padi organik di Kecamatan Tanjung Palas, Kabupaten Bulungan, beberapa waktu lalu. 

TRIBUNKALTIM.CO, MALINAU - Banyaknya beras dari luar Malinau beredar di kabupaten yang 80 persen masyarakatnya adalah petani telah lama membuat resah Bupati Yansen TP. Oleh karenanya, program Bertani Sehat digalakan untuk mencapai swasembada pangan di Malinau.

Melihat tumbuh kembang pertanian di Malinau semakin meningkat, Bupati Yansen berani mengambil kebijakan dengan menyetop pasokan beras dari luar agar petani di Malinau berdaulat.

Hal itu disampaikan Yansen kala memberikan sambutan dan arahan kepada puluhan petani di Belawon, Desa Malinau Kota, Rabu (23/1/2019), pagi. Beberapa kali, hal tersebut disampaikan Yansen dan disambut dengan teriakkan "Siap!" dari para petani. Namun, Yansen menegaskan, bukan hanya kata "Siap" yang diperlukan. Namun, tindakan dan gambaran nyata yang harus diperlihatkan petani.

"Jangan hanya teriak siap-siap. Tapi, kenyataannya kita tidak bisa menjalankannya. Kalau saya, sangat berani mengambil kebijakan menyetop pasokan beras dari luar Malinau. Dan memang, mengambil kebijakan itu diperbolehkan. Terpenting, kita dapat mewujudkan pemenuhan beras untuk masyarakat Malinau maka tahun depan saya siap mengambil kebijakan tersebut. Apakah para petani siap? ujar Yansen dengan suara keras, disambut teriakan siap lagi oleh puluhan petani.

Melihat keuntungan petani sangat besar apabila mengelola lahan pertaniannya, kata Yansen, dapat menjadi pendorong semangat para petani mensukseskan lahan pertaniannya. Bagaimana tidak, ada kurang lebih Rp 100 miliar dalam setahun dihasilkan dari penjualan beras di Malinau. Dengan angka tersebut, seharusnya menjadi tujuan petani untuk menarik penghasilan lebih.

"Kalau kita hitung, harga beli beras di Malinau perkilonya Rp 12.500. Kemudian, kebutuhan konsumsi beras masyarakat Malinau sebanyak 8 ribu ton/tahun. Artinya, ada sekitar Rp 100 miliar uang yang dihasilkan dari penjualan beras tersebut. Tentu, itu adalah hasil yang besar. Sebab, kalau dihitung-hitung, setiap petani di Malinau dapat menghasilkan Rp 50 juta/tahun kalau serius mengelola lahan pertaniannya," tandasnya.

"Melihat daerah kita yang potensial seperti ini kita harus mengubah pola pikir dan mental kita dalam bertani. Kalau dulu, kita hanya menanam padi satu tahun sekali dan panen sekali. Sekarang kita haru bisa tanam sampai tiga kali dalam setahun. Kemudian, pola bertaninya juga berubah, dari kita bertani gunung yang menebar benih seperti memberi makan ayam, sekarang bertani dengan model sawah," tuturnya. (*)

Penulis: Purnomo Susanto
Editor: Mathias Masan Ola
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved