Nam Air 'Mundur' dari Tanjung Harapan, Irianto Menduga Jadwal Terbang Terlalu Pagi

dari Balikpapan kita perhatikan relatif penuh. Saya minta Dishub nulis surat minta penjelasan manajemen Nam Air di pusat

Nam Air 'Mundur' dari Tanjung Harapan, Irianto Menduga Jadwal Terbang Terlalu Pagi
TRIBUNKALTIM/M ARFAN
Salah satu pesawat mendarat di bandara Tanjung Harapan, Tanjung Selor, Selasa (22/1/2019). 

TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG SELOR - Maskapai Nam Air menutup sementara jadwal penerbangannya pada rute Tanjung Selor-Balikpapan pulang pergi terhitung hari ini. Informasi ini pun sudah diketahui Gubernur Kalimantan Utara Irianto Lambrie.

Gubernur Irianto meminta Dinas Perhubungan menulis surat dengan poin meminta penjelasan kepada manajemen Nam Air di Jakarta. Irianto ingin mengetahui alasan maskapai tersebut menghentikan layanannya sampai waktu yang tidak ditentukan itu.

Ia menduga, mahalnya harga tiket pesawat menjadi penyebab utamanya yang kemudian menyebabkan turunnya okupansi penumpang dari Tanjung Selor.

"Tetapi dari Balikpapan kita perhatikan relatif penuh. Saya minta Dishub nulis surat minta penjelasan kepada manajemen Nam Air di pusat," kata Irianto kepada Tribunkaltim.co, Selasa (22/1/2019).

Selain harga tiket, tambah Irianto, jadwal penerbangan pagi Nam Air dari Balikpapan juga kemungkinan jadi penyebab. Sebelum berhenti beroperasi, pesawat Nam Air tiba di bandara Tanjung Harapan di Tanjung Selor sekitar pukul 07.20 pagi.

"Bisa jadwal rute terbangnya yang terlalu pagi dari Balikpapan. Orang kan tidak bisa nyambung pesawat. Kalau misal dari sana jam 10 atau jam 11, bisa bersaing dengan maskapai lain soal waktunya," ujarnya.

Lantas Irianto berjanji akan mencoba mencarikan masyarakat alternatif lain. "Mungkin alternatifnya nanti, bisa kita minta atau ketemu Direksi Garuda Indonesia. Itu kan BUMN juga. Dan mereka juga punya rencana masuk di Tanjung Selor," ujarnya.

Alternatif kedua, bisa mengusulkan Wings Air dan atau Nam Air mengusulkan izin rute ke Nunukan atau Samarinda untuk mengisi okupansi.

"Kalau memang kesulitan, gubernur atau pemprov bisa membantu merekomendasikan perizinannya di Kemenhub. Karena yang berwenang atas izin penerbangan adalah Kemenhub," ujarnya. (*)

Penulis: Muhammad Arfan
Editor: Mathias Masan Ola
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved