Dua Warga Tarakan Terjangkit Leptospirosis, Satu Meninggal Dunia

Dua orang yang terjangkit Leptospirosis ini, satu di antarnya warga Kampung Baru RT 5 berusia 63 tahun telah meninggal dunia

Dua Warga Tarakan Terjangkit Leptospirosis, Satu Meninggal Dunia
TRIBUN KALTIM/JUNISAH
Kepala Dinkes Kota Tarakan Subono Samsudi 

TRIBUNKALTIM.CO, TARAKAN - Dinas Kesehatan Kota Tarakan Provinsi Kaltara mengeluarkan pernyataan agar masyarakat Kota Tarakan waspada terhadap penyakit Leptospirosis. Pasalnya di Bumi Paguntaka (sebutan lain Kota Tarakan) ini sudah ada dua orang yang positif terjangkit Leptospirosis.

Dua orang yang terjangkit Leptospirosis ini, satu di antarnya warga Kampung Baru RT 5 berusia 63 tahun telah meninggal dunia beberapa hari lalu, setelah tiga hari dirawat di rumah sakit. Satu lainnya merupakan warga Gunung Lingkas RT 8.

Warga Gunung Lingkas itu berusia 43 tahun dirawat inap di rumah sakit mulai 18 Januari 2019 hingga saat inap masih di rumah sakit. Kondisi pasien ini masih terus dipantau oleh tim medis rumah sakit dan Dinkes Kota Tarakan.

Kepala Dinkes Kota Tarakan, Subono Samsudi mengungkapkan, pihaknya cukup kaget dengan ditemukannya dua warga yang menderita Leptospirosis. Sebab kasus Leptospirosis merupakan kasus pertama di Kota Tarakan.

"Ini baru pertama ditemukan di Kota Tarakan dan penyakit ini terbilang langka. Kita cukup kaget mengetahui hal ini, setelah diberikan informasi oleh pihak rumah sakit. Hasil laboratorium menyatakan dua orang tersebut positif terjangkit bakteri Leptospirosis," ujarnya, Rabu (23/1/2019).

Subono mengatakan, sumber penularan Leptospirosis melalui tikus, setelah pihaknya melakukan penelitian. "Sebenarnya penelitian sumber penularan Leptospirosis telah dilakukan tahun 2018 lalu. Hanya saja tidak ada warga yang terjangkit. Baru tahun ini ada warga yang terjangkit Leptospirosis dan ini cukup mengagetkan kami," ucapnya.

Ia mengatakan, penularan Leptospirosis dapat melalui kontak langsung dengan tikus. Gigitan tikus ini dapat membuat kulit luka dan membuka jalan bakteri Leptospirosis masuk ke dalam tubuh. Dapat pula melalui kencing tikus ke air kotor saat banjir atau kotoran tikus mengenai makanan yang dikonsumsi oleh manusia.

Meskipun telah ada dua warga yang terjangkit Leptospirosis, namun pihaknya hingga saat ini belum menyatakan kasus ini merupakan Kejadian Luar Biasa (KLB). Pasalnya penetapan KLB kewenangan kepala daerah.

"Untuk saat ini kita minta warga untuk waspada terhadap Leptospirosis. Khususnya pada rumah-rumah yang lingkungannya banyak tikus. Apalagi berdasarkan penelitian, hampir semua rumah di lingkungan Kota Tarakan ada tikus,"ujarnya.

Dengan ditemukannya kasus ini, Dinkes Tarakan akan melakukan pencegahan dengan membasmi tikus. Tentunya untuk pembasmian tikus-tikus ini pihaknya berkoordinasi dengan stakeholder di Tarakan, Provinsi Kaltara dan pusat.

"Hari Senin (28/1/2019) kita akan melakukan koordinasi lintas sektor. Untuk awal Februari kita akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat bersama Wali Kota Tarakan di ruang Imbaya," ujarnya. (*)

Penulis: Junisah
Editor: Mathias Masan Ola
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved