Dua Warga di Kabupaten Kutai Timur Meninggal Akibat DBD, Ini Imbauan Dinas Kesehatan

Kasus DBD terus mengalami peningkatan di beberapa daerah, termasuk di Kabupaten Kutai Timur (Kutim).

Dua Warga di Kabupaten Kutai Timur Meninggal Akibat DBD, Ini Imbauan Dinas Kesehatan
TRIBUNKALTIM/MARGARET SARITA
Kadinkes Kutim, dr Bahrani 
Dua Warga di Kabupaten Kutai Timur Meninggal Akibat DBD, Ini Imbauan Dinas Kesehatan
Laporan Wartawan Tribunkaltim.co, Margaret Sarita
TRIBUNKALTIM.CO, SANGATTA – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) terus mengalami peningkatan di beberapa daerah, termasuk di Kabupaten Kutai Timur (Kutim).
Peningkatan umumnya terjadi di pertengahan musim penghujan, dan cenderung menurun di musim panas. 
Pada 2018 lalu, Dinas Kesehatan Kutai Timur mencatat ada 268 suspek infeksi dengue yang tersebar di sembilan kecamatan di Kutim, 
 
Kasus terbanyak terjadi di Kecamatan Sangatta Utara, dengan jumlah suspek infeksi hingga 243 jiwa.
Pun di 2019, Kecamatan Sangatta Utara juga masih menjadi daerah paling rawan DBD.
Bahkan, terdapat satu korban meninggal akibat DBD. 
“Tahun 2019, selama Januari hingga tanggal 24, tercatat 108 kasus DBD yang terjadi di seluruh Kutim. Dari jumlah tersebut, 55 suspect, 53 positif penderita, dan dua penderita meninggal dunia. Satu dari Sangatta Utara, satu korban dari Kecamatan Muara Ancalong,” kata Kadinkes Kutim, dr Bahrani, Jumat (25/1). 
 
 
Setiap tahun, menurut Bahrani, musim penghujan masih menjadi momok terjadinya penyebaran penyakit DBD dan Malaria.
Terutama, bulan Oktober, November, Desember, hingga di awal tahun pada Januari dan Februari. 
“Sama seperti tahun-tahun sebelumnya,  di setiap musim penghujan terjadi peningkatan kasus DBD. Kasus paling tinggi terdapat di Kecamatan Sangatta Utara dan Sangatta Selatan. Sedangkan kecamatan lainnya, menyebar secara merata, dalam jumlah yang kecil,” kata Bahrani. 
 
 
Penyebaran DBD, menurutnya, berkaitan erat dengan kebersihan lingkungan, seperti air tergenang oleh sampah botol plastik drainase yang tidak mengalir, sehingga dapat menjadi sarang nyamuk.
Sehingga untuk mencegah terjadinya penyebaran yang lebih masif, masyarakat harus selalu menjaga kebersihan lingkungan dengan prinsip 3M Plus. 
3M Plus yaitu Menguras, membersihkan tempat yang sering dijadikan tempat penampungan air seperti bak mandi, ember air, tempat penampungan air minum, penampung air lemari es dan lain-lain.
Menutup, yaitu menutup rapat-rapat tempat-tempat penampungan air seperti drum, kendi, toren air, dan lain sebagainya.
 
 
Serta memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi untuk jadi tempat perkembangbiakan nyamuk penular demam berdarah.
Selain itu, semakin meningkatnya kasus DBD di Kutim, permohonan fogging atau penyemprotan juga meningkat. 
Sementara anggaran Dinkes Kutim, untuk fogging sangat terbatas.
Sehingga diputuskan kawasan  yang benar positif saja, yang dilakukan fogging. 
“Fogging sebenarnya bukan cara jitu menekan angka penyebaran DBD. Tapi, 3M Plus lah yang paling berperan. Karena fogging hanya penyemprotan satu dua kali saja, sementara setelah disemprot, lingkungan yang tidak bersih tetap akan menjadi habitat nyamuk DBD,” ujarnya.
Penulis: Margaret Sarita
Editor: Doan Pardede
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved