Dua Warga Tarakan Terjangkit Leptospirosis Meninggal Dunia

Teman-teman dari Puskesmas Gunung Lingkas sudah turun ke lapangan untuk melakukan penelitian ar tanah

Dua Warga Tarakan Terjangkit Leptospirosis Meninggal Dunia
TRIBUN KALTIM/JUNISAH
Kepala Dinkes Kota Tarakan Subono Samsudi 

TRIBUNKALTIM.CO, TARAKAN - Warga Gunung Lingkas yang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan, karena positif terjangkit penyakit Leptospirosis, akhirnya meninggal dunia. Warga berusia 43 tahun ini selama seminggu mulai menjalani rawat inap di RSUD Tarakan.

"Yah warga Gunung Lingkas yang terjangkit penyakit Leptospirosis meninggal dunia, kemarin Kamis (24/1/2019 ). Artinya sudah ada dua warga Tarakan yang meninggal karena penyakit Leptospirosis," ucap Subono Samsudi, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tarakan, Jumat (25/1/2019).

Subono mengungkapkan, pihaknya mendapatkan informasi masih ada satu warga Tarakan yang diduga suspect Leptospirosis. Hanya saja warga ini tidak mau rawat inap di RSUD Tarakan dan lebih memilih untuk pulang ke rumahnya.

Meskipun sudah ada dua warga Tarakan yang meninggal duani karena terjangkit penyakit Leptospirosis, namun pihaknya belum menetapkan kasus ini sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). "Walaupun secara penetapan KLB belum kita tetapkan, tapi dalam bertindak kita sudah merespon sesuai standar KLB," katanya.

Subono mengatakan, dengan adanya kasus ini pihaknya telah merespon secara cepat dengan menurunkan tim ke lapangan untuk melakukan diagnosa secara tepat. Yaitu melakukan penelitian air tanah di daerah yang terjangkit Leptospirosis itu.

"Teman-teman dari Puskesmas Gunung Lingkas sudah turun ke lapangan untuk melakukan penelitian ar tanah, apakah terjadi penularan atau tidak. Tentunya juga melihat apakah ada masyarakat setempat yang menderita demam. Kalau memang ada dan positif Leptospirosis akan dirujuk ke rumah sakit untuk menjalani perawatan," ungkapnya.

Subono menambahkan, pihaknya akan segera melakukan penecegahan Leptospirosis kepada seluruh lurah dan camat untuk memberitahukan kepada masyarakat di lingkungannya untuk waspada terhadap penyakit Leptospirosis, terutama binatang tikus sebagai sumber penyebarannya.

"Di tahun 2018 waktu kita melakukan riset itu ditemukan tikus yang positif Leptospirosis. Namun waktu itu belum ditemukan kasus seperti sekarang ini. Kasus Leptospirosis baru kita temukan di tahun 2019 ini. Untuk itu kita kerahkan seluruh masyarakat di seluruh sektor untuk memberantas binatang penyebarnya yaitu tikus," ucapnya.

Seperti diketahui, warga Kampung Baru RT 5 berusia 63 tahun yang terjangkit Leptospirosis telah meninggal beberapa hari lalu, setelah tiga hari dirawat di rumah sakit. Sampai akhirnya ditemukan pula satu orang lagi yang diduga suspect Leptospirosis. (*)

Penulis: Junisah
Editor: Mathias Masan Ola
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved