Tidak Mau Dengar Alasan Medan Berat, Yansen Dorong Kontraktor Berusaha Lebih Keras

Saya punya program pembangunan sejak saya terpilih. Dan saya inginkan, di sisa periode saya ini pembangunan dapat berjalan

Tidak Mau Dengar Alasan Medan Berat, Yansen Dorong Kontraktor Berusaha Lebih Keras
TRIBUNKALTIM/PURNOMO SUSANTO
TINJAU ALAT - Wakil Bupati Malinau, Topan Amrullah saat meninjau alat berat yang diterima oleh DPUPR Perkim, Rabu (16/5/2018) pagi. 

TRIBUNKALTIM.CO, MALINAU - Penyerahan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) Organisasi Perangkat Daerah(OPD) Tahun 2019, pada Kamis (24/1) lalu, tentunya membawa angin segar bagi para kontraktor maupun pengusaha di Malinau maupun luar Malinau. Pasalnya, seluruh kegiatan fisik akan dikerjakan oleh kontraktor dengan cara lelang maupun penunjukan langsung sesuai aturan.

Tidak ingin dihadapkan dengan kondisi-kondisi sebelumnya, Bupati Yansen TP menegaskan, kontraktor pekerjaan fisik di daerah perbatasan dan pedalaman berusaha lebih keras dalam menyelesaikan seluruh kegiatannya. Yansen tidak ingin ada alasan-alasan klasik saat pekerjaan tak selesai.

"Saya punya program pembangunan sejak saya terpilih. Dan saya inginkan, di sisa periode saya ini pembangunan dapat berjalan dengan baik dan selesai sesuai target pembangunan yang kami tetapkan. Terutama pembangunan fisik. Untuk itu, sudah menjadi tugas penerima pekerjaan untuk menyelesaikan kegiatannya hingga tuntas secara tepat waktu," ujarnya.

Yansen mengungkapkan tidak ingin mendengar keluhan dari pihak kontraktor soal sulitnya mengangkut material ke lokasi pembangunan. Pasalnya, alasan-alasan tersebut sudah sering didengar. Dengan menerima pekerjaan menandakan kontraktor yang ditunjuk siap melaksanakan dan menyelesaikan pembangunan.

"Harus ada upaya keras untuk menyelesaikan pembangunan yang menjadi tanggungjawab kontraktor. Jangan, karena persoalan yang memang sudah diketahui menjadi hambatan malah menjadi alasan proses pembangunan tertunda. Cari jalan, agar persoalan itu terpecahkan. Tidak bisa menggunakan jalur darat, lewat jalur sungai. Kalau tidak bisa jalur sungai, pakai jalur udara," tegasnya.

Kondisi geografis Malinau, beber Yansen, memang seperti ini sejak dahulu hingga kini. Mengambil gambaran tersebut, para kontraktor harusnya mempelajari dengan seksama soal geografis Malinau. Sehingga, saat menerima pekerjaan sudah mengetahui konsekwensi, risiko, solusi apa yang ditempuh saat menghadapi kesulitan dalam menyelesaikan pembangunan.

"Jalankan saja semua cara untuk dapat menyelesaikan kegiatan tersebut. Ya, paling tidak jangan sampai merugikan. Kalau bisa kembali modal, ya ambil saja jalan itu. Ini semua kan demi masyarakat kita di daerah perbatasan dan pedalaman. Dan untuk Indonesia. Sebab, banyak kontrak ditetapkan, tapi yang mendapat kontrak tidak dapat melaksanakan kontrak tersebut," tandasnya.

"Jangan pula, dengan kondisi seperti itu, kontraktor manjalankan pembangunan fisik tersebut seadanya. Ya bisa dibilang, kalau bagus ya Alhamdulillah, kalau tidak bagus ya memang kemampuannya sampai di situ saja. Kalau seperti itu pola pikir kita, kita akan kalah dengan daerah lainnya di Kaltara. Pekerjaan itu memang merupakan tanggung jawab dan harus dikerjakan hingga tuntas," lanjutnya. (*)

Penulis: Purnomo Susanto
Editor: Mathias Masan Ola
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved