SD Negeri di Tarakan Kekurangan 273 Guru Full Day School Belum Diterapkan

Sebab sebagian guru honor yang kita bina selama ini lebih memilih untuk mengikuti penerimaan CPNS di daerah lain di Kaltara

SD Negeri di Tarakan Kekurangan 273 Guru Full Day School Belum Diterapkan
(Kompas.com / Dani Prabowo)
Mendikbud Muhadjir Effendy 

TRIBUNKALTIM.CO, TARAKAN - Program full day school (FDS) yang telah diterapkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sejak tahun 2017 pada sekolah-sekolah di seluruh Indonesia hingga saat ini masih terus berjalan.

Meskipun demikian saat ini, masih ada beberapa sekolah di Tarakan yang belum menerapkannya. Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Ilham Noor kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Efendy yang mengunjungi Kota Tarakan, Sabtu (26/1/2019).

Ilham mengungkapkan, belum diterapkannya program FDS di Kota Tarakan terutama tingkat SD Negeri dan SMP Negeri, karena terkendala beberapa hal. Di antaranya belum adanya sarana dan prasarana yang mendukung dan jumlah guru yang masih kurang.

"Sebagian besar SD dan SMP Negeri di Kota Tarakan masih double shift. Artinya masih ada sekolah yang siswanya masuk pagi dan siang. Kalau program FDS ini semua siswa harus masuk pagi. Masuk jam 07.00 sampai pulang jam 15.00 sore," ucapnya.

Menurut Ilham, sebenarnya ada sekolah di Kota Tarakan yang menerapkan program FDS ini, namun hanya sebagian kecil saja. Yaitu sekolah-sekolah yang dikelola yayasan. "Kalau SD dan SMP negeri belum ada, karena persoalan tadi, salah satunya kekurangan guru," katanya.

Dikatakan Ilham, ia telah memberitahukan masalah kekurangan guru SD dan SMP Negeri langsung kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Efendy. "Saya beritahukan kepada Pak Menteri kalau kami kekurangan jumlah guru negeri. Untuk guru SD ada 273 orang dan guru SMP 78 orang dan bahkan kita sudah buat proposal untuk kekurangan guru itu," ujarnya.

Diakuinya, pihaknya masih kekurangan jumlah guru, karena di Kota Tarakan tidak mendapatkan kuota penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPSN) di tahun 2018. Akibat tidak ada penerimaan CPNS ini membuat jumlah guru tetap kurang.

"Sebab sebagian guru honor yang kita bina selama ini lebih memilih untuk mengikuti penerimaan CPNS di daerah lain di Kaltara ini. Nah guru honor yang ikut ini diterima menjadi CPNS dan akhirnya memilih untuk pindah dari Kota Tarakan. Jadi kita kembali kekurangan guru," ucapnya.

Sementara itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Efendy mengakui, program FDS sampai saat ini masih jalan, terutama tingkat SMA dan SMK. Program FDS dilakukan untuk membantu para guru agar mendapatkan sertifikat profesi.

"Sebab untuk mendapatkan sertifikat profesi, guru harus 8 jam lima hari kerja perminggu. Kalau program FDS ini tidak dijalankan, tentunya guru yang beban kerjanya masih kurang tidak mendapatkan tunjangan profesi," ujarnya. (*)

Penulis: Junisah
Editor: Mathias Masan Ola
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved