Berita Video

VIDEO - Pekerja Lokal di Perkebunan Sawit Hanya 20 Persen

"Secara bisnis, kalau pekerja itu tersedia di lokal, pasti kita pakai,. Sementara ini saya bisa bilang komposisi pekerja luar daerah itu 80 persen,

VIDEO - Pekerja Lokal di Perkebunan Sawit Hanya 20 Persen
tribunkaltim.co/ Nevrianto
Sejumlah pekerja memindahkan kelapa sawit ke bak mobil saat panen di perkebunan kawasan Batu Batu, Kecamatan Muara Badak Kabupaten Kutai Kartanegara Senin(28/1/2019).Dalam sehari panen sawit mampu mencapai 3 ton. 

Laporan wartawan Tribun Kaltim, Rafan Dwinanto, Nevrianto, dan Sarassani

TRIBUNKALTIM.CO - Lebih 70 persen pekerja pada perkebunan sawit di Kaltim, didatangkan dari luar Kaltim. Hal ini diungkapkan Dewan Pembina Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kaltim Azmal Ridwan. Kendati demikian, Azmal menolak jika perusahaan sawit tak memprioritaskan penduduk lokal sebagai pekerja.

Sekadar informasi, berdasarkan data Dinas Perkebunan (Disbun) Kaltim, hingga 2017, jumlah pekerja di sektor perkebunan kelapa sawit mencapai 234 ribu orang. Rinciannya, 112 ribu orang bekerja di sektor perkebunan sawit dengan pola perkebunan besar swasta, dan 115 ribu pekerja dengan pola perkebunan rakyat.

"Secara bisnis, kalau pekerja itu tersedia di lokal, pasti kita pakai,. Sementara ini saya bisa bilang komposisi pekerja luar daerah itu 80 persen, dan lokalnya hanya 20 persen," kata Azmal, Selasa (29/1/2019).

Di level pekerja lapangan, terutama untuk pekerjaan berat seperti penanaman dan pemanenan, kata Azmal, perusahaan banyak menggunakan pekerja dari luar daerah. Sedangkan pekerja lokal, lebih banyak bekerja pada bagian perawatan.

"Pekerja lokal ini biasanya part time. Karena mereka juga punya kebun sendiri yang juga mereka urus," ungkap Azmal.

Kondisi inilah yang memaksa perusahaan mendatangkan pekerja dari luar daerah.

"Kalau pekerja luar daerah inikan punya target. Dia datang ke sini, 6 bulan kemudian pulang harus bawa uang banyak. Makanya kalau lembur juga dia semangat. Sementara, pekerja lokal punya usaha lain juga," katanya.

Begitu pula di level manajemen perusahaan. Menurut Azmal, juga tak sedikit yang diisi oleh karyawan dari luar Kaltim. Pasalnya, banyak lulusan perguruan tinggi di Kaltim yang menolak bekerja di perkebunan, yang letaknya di daerah terpencil. "Sementara, semua perkebunan letaknya jauh dari kota," kata Azmal.

Sejatinya, kata Azmal, Gapki sudah menjalin kerjasama dengan lulusan pertanian dari berbagai perguruan tinggi di Kaltim. Para lulusan lokal ini ditawarkan posisi sebagai asisten lapangan, asisten pabrik, hingga accounting.

Halaman
12
Editor: Arif Fadilah
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved