Empat Petani Rumput Laut Akui Merugi Rp 250 juta, Diduga Akibat Aktivitas Pengerukan Laut

Ke-4 petani tersebut Maskur, Hamzah (41), Samal dan Rusmin mengadu ke Komisi III DPRD Bontang.

Empat Petani Rumput Laut Akui Merugi Rp 250 juta, Diduga Akibat Aktivitas Pengerukan Laut
Tribunkaltim.co/ Ichwal Setiawan
Petani rumput laut, Maskur mengadukan nasib mereka ke Komisi III DPRD Bontang karena alami kerugian diduga akibat pengerukan yang dilakukan perusahaan. 

Empat Petani Rumput Laut Akui Merugi Rp 250 juta, Diduga Akibat Aktivitas Pengerukan Laut

TRIBUNKALTIM.CO, BONTANG — Empat orang petani rumput laut Tihi-Tihi, Kelurahan Bontang Lestari, Kecamatan Bontang Selatan menuntut ganti rugi kepada pihak salah satu perusahaan karena diduga aktivitas pengerukan laut di sekitar lokasi budidaya merusak tanaman petani.

Ke-4 petani tersebut Maskur, Hamzah (41), Samal dan Rusmin mengadu ke Komisi III DPRD Bontang. Mereka menuntut ganti rugi yang tak kunjung dibayarkan perusahaan sejak 2017 lalu.

Maskur mewakili para petani mengatakan, aktivitas pengerukan laut membuat rumput laut mereka gagal panen. Sebab, lumpur hasil pengerukan menumpuk di batang-batang rumput lautnya.

Spesialis Curat Jalanan Diciduk Aparat, Modus Buntuti Kendaraan Korban

BREAKING NEWS - Tuntut Masalah Korupsi RPU, Puluhan Pendemo Tutup Sebagian Jalan Jendral Sudirman

Rekrutmen PLN 2019 - Lowongan Kerja Lulusan D3 & S1, Pendaftaran Mulai 11 Februari

“Jarak pengerukan kurang lebih 20-50 meter dari lokasi budidaya saya pak, jadi terdampak lumpur itu rumput lautnya. Gagal tumbuh padahal sudah banyak modal saya di situ,” ujar Maskur kepada wartawan usai menghadiri rapat kerja bersama Komisi III DPRD Bontang, Senin (11/2/2019).

Dia menambahkan, total kerugian yang dialami sekitar Rp 250 juta. Pasalnya, kerusakan rumput laut milik mereka sangat parah. Pihaknya berharap perusahaan segera membayar ganti rugi tanaman mereka.

Hal senada disampaikan petani lainnya, Hamzah (41). Pria dua anak ini mengaku sejak aktivitas pengerukan dilakukan panen rumput laut menurun drastis.

Sebelum pengerukan, hasil rumput laut yang bisa dipanen sebanyak 21 kuintal dalam kondisi kering. Sekarang, dia hanya memperoleh 1 kuintal saja dari hasil panennya.

“Yah selama ini kami menunggu tapi tidak ada juga kabarnya akan diganti, makanya kami mengadu ke dewan. Namanya juga orang kecil pak ini saja penghasilan kami,” ujar Hamzah kepada tribunkaltim.co

24 Kelurahan di PPU Dapat Dana Rp 8,8 M, Segini Pembagian Dananya

Adi Saputra Ngamuk dan Hancurkan Motornya saat Ditilang, Sang Kekasih Sebut Tetap Bersedia Dinikahi

Pihaknya berharap perusahaan segera mengganti kerugian yang dialami. Supaya mereka bisa kembali memproduksi rumput laut dengan jumlah yang sama sebelum kejadian tersebut.

“Yah kalau sekarang pak kami cuman dapat Rp 2 juta sebulan, beda dengan dulu. Makanya kami minta perusahaan cepat ganti supaya kami bisa pakaia buat modal lagi,” kata dia.

Di saat yang bersamaan, Kepala Bidang Perikanan, Tangkap dan Budidaya, Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan dan Pertanian (DKP3), Syamsu Wardi mengatakan pihaknya tak ingin cepat-cepat menarik kesimpulan terkait masalah itu.

Sebab, kerusakan rumput laut disebabkan dari banyak faktor. Misanya, hujan deras membuat pertumbuhan rumput laut terganggu, bisa juga akibat penyakit yang menyerang tanaman.

“Kita akan pelajari dulu, banyak sekali sebab rumput laut rusak,” ujar Syamsu kepada wartawan.

Sementara itu, Ketua Komisi III DPRD Bontang, Rustam mengatakan bakal memanggil pihak perusahaan untuk mengklarifikasi aduan masyarakat. “Kita bakal jadwalkan panggil perusahaan yah,” ujar Rustam. Hingga berita ini ditulis, media ini belum bisa mengkonfirmasi pihak perusahaan. (*)  

Penulis: Ichwal Setiawan
Editor: Anjas Pratama
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved