Bank Indonesia Sebut Kaltim bisa Tiru Wisata Halal di NTB dan Sulsel, Caranya?

Kaltim bisa meniru pengembangan wisata halal di Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Selatan. Usaha kecil mikro dan menengah berbasis syariah.

Bank Indonesia Sebut Kaltim bisa Tiru Wisata Halal di NTB dan Sulsel, Caranya?
Tribun Kaltim/Nalendro Priambodo
Seminar nasional ekonomi syariah dalam arus tren ekonomi era global di Aula Olah Bebaya, kompleks Kantor Gubernur Kaltim. Acara garapan GenBI Komisariat IAIN Samarinda ini menghadirkan pembicara Adiwarman A. Karim. 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA- Dengan mayoritas penduduk muslim, Indonesia memiliki prospek menjadi pemain utama bisnis berbasis ekonomi syariah di tingkat global.

Saat ini, menurut Kepala Tim Advisory Ekonomi & Keuangan/Asisten Direktur Bank Indonesia (BI) Kaltim, Harry Aginta, Indonesia masuk 10 negara dengan bisnis berbasis syariah terbesar. Begitu juga Kaltim, potensi ekonomi syariah melalui industri halal diyakini cukup potensial.

"Kaltim bisa meniru pengembangan wisata halal di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Sulawesi Selatan (Sulsel). Usaha kecil mikro dan menengah berbasis syariah," kata Harry saat memberi sambutan di seminar nasional ekonomi syariah di aula Olah Bebaya kompleks Kantor Gubernur Kaltim, Sabtu (9/2/2019) lalu.

Menurutnya, dari segi pembiayaan, potensi pertumbuhan kredit bank syariah di Kaltim hingga kuartal 1 2019 masih lebih rendah ketimbang bank umum yang hanya 8,1 persen. Potensi ini bisa terus bertumbuh seiring dengan proyeksi tren positif pertumbuhan ekonomi Kaltim di tahun 2019 ini.

Di 2018 lalu, di tengah ketidakpastian ekonomi global, Kaltim mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 2,6 persen. Sementara, di tahun 2019 ini, pihaknya memproyeksikan pertumbuhan naik sedikit 2,8 persen. Bahkan, di 2020, pertumbuhan ekonomi diprediksi mencapai 3 persen. "Perbankan syariah bisa ambil peran dari perkembangan ekonomi Kaltim ini," ujar Harry.

Dalam kesempatan itu, pembicara utama Adiwarman A. Karim mengatakan, potensi besar penduduk muslim Indonesia saat ini menjadi modal kuat membangun ekonomi syariah. Apalagi, Indonesia menjadi barometer busana muslim dan makanan halal dunia. Bermodal dari situ, dia menganggap ceruk pasar ekonomi berbasis syariah masih bisa terus digarap.

"Masa depan Islam tergantung Indonesia. Masa depan Indonesia tergabung kalian, anak muda," kata pria lulusan Universitas Boston, Amerika yang membidani perbankan syariah pertama di Indonesia ini.

Menurut Karina Aulia, Ketua Umum GenBI Komisariat IAIN Samarinda, seminar yang diselenggarakan ini, merupakan sarana edukasi ekonomi syariah di Kaltim. Sejauh ini, mulai banyak melihat anak muda Kaltim yang melirik bisnis berbasis ekonomi syariah. Salah satunya produk roti gembung yang mulai menonjolkan bisnis tanpa riba dan jaminan halal.

Bagi dia, agar ekonomi syariah terus tumbuh perlu upaya dari atas ke bawah, alias inisiatif kuat pemerintah ke pengusaha. Dia berharap, ke depan semakin banyak anak muda yang menerapkan ekonomi berbasis syariah.(*)

Penulis: Nalendro Priambodo
Editor: Fransina Luhukay
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved