Berita Video

VIDEO - Imbas Dari Kenaikan Tarif Kargo, Agus Kehilangan Order 2 Ribu Tas Senilai Puluhan Juta

"Itu kan berat betul. Jadi kita yang biasanya dapet Rp 10.000 per kaos, saat ini paling pol kita hanya dapat Rp 3000 sampai Rp 4000," tambahnya.

VIDEO - Imbas Dari Kenaikan Tarif Kargo, Agus Kehilangan Order 2 Ribu Tas Senilai Puluhan Juta
Tribunkaltim/fachmi rachman
Kantor EMPU di Areal Terminal Kargo Bandara SAMS 

Laporan wartawan Tribunkaltim.co, Aditya, Christine, dan Fachmi Rachman

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Kebijakan penetapan tarif Surat Muatan Udara (SMU) yang dinilai cukup tinggi pada akhirnya memiliki efek domino, salah satunya terhadap usaha mikro kecil menengah (UMKM) yaitu bisnis konveksi.

Agus Sudarmanto, pengusaha konveksi lokal sekaligus Pemilik Broto Batik Balikpapan misalnya. Agus mengatakan, dengan kenaikan tarif kargo tersebut, berpengaruh terhadap proses pengiriman dalam mendatangkan bahan-bahan dari pulau Jawa untuk produksi kaos atau kemeja.

"Istilahnya begini, kalau kita mendatangkan bahan pakai pesawat dengan harga yang sekarang, misalnya mengirim bahan kaos sebanyak 1 kilogram yang dapat dipotong menjadi 6 lembar produk kaos. 1 kilogram bahan kaos tersebut seharga Rp 115.000, dengan ongkir Rp 36.000 per kilogram. Setelah itu coba kita bagi 6, itu per piece kaos-nya sudah nambah Rp 6000, sedangkan kita biasanya ambil untung kaos hanya Rp 10.000," ujar Agus.

Pergi-Pulang Aceh-Surabaya via Kuala Lumpur, Keluarga Ini Bisa Hemat Rp 32 Juta, Begini Caranya

Dengan perhitungan tersebut, ia menilai cukup memberatkan dirinya. "Itu kan berat betul. Jadi kita yang biasanya dapet Rp 10.000 per kaos, saat ini paling pol kita hanya dapat Rp 3000 sampai Rp 4000," tambahnya.

Biasanya, ia mengirim bahan produksi dan produk pakaiannya menggunakan kapal laut dan kargo pesawat udara. "Kalau kapal laut macam-macam, kalau kargo pesawat udara saya biasanya pakai kargo Lion Air," tukasnya.

Untuk pemesanan, Agus mengatakan permintaan terhadap produk konveksinya semakin meningkat walaupun tidak terlalu signifikan. Namun, biaya ongkos kirim yang kian melonjak sedikit memberatkan distribusi produknya.

"Usaha lokal ini yang susah berkembang, sedangkan semua bahan dari sana (Jawa), itu yang agak sulit. Akhirnya kita tetap saja nanti disamakan dengan harga yang di Jawa," jelasnya.

Rahasia Cinta Pevita Pearce dan Ariel Noah Dibongkar oleh Rossa, Bermula dari Lupa Lirik Lagu

"Jadi mereka (konveksi di Jawa) misalnya dengan bahan Rp 2000, mereka beli tidak pakai ongkos kirim, membeli bahan sendiri di tokonya setelah itu dikerjakan. Ongkos kirim hanya terbebankan hanya pada saat mereka mengirim produk jadinya saja. Kalau saya, bahan semisal benang, sudah pakai ongkos kirim, kain pakai ongkos kirim, cap sablonnya pakai ongkos kirim, semua pakai ongkos kirim," ujar Agus.

Kendati demikian, harga yang ditetapkan pada produk konveksinya masih berada di harga yang sama sebelum kenaikan tarif kargo dikenakan. Menyiasati hal tersebut, Agus mengatakan dengan menetapkan jumlah tertentu untuk pemesanan produk konveksinya.

Halaman
12
Editor: Arif Fadilah
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved