Berita Eksklusif

Imbas Tarif Kargo Udara Naik, Pengusaha Konveksi Ini Kehilangan Pesanan 2.000 Tas

Kenaikan tarif kargo udara atau Surat Muatan Udara sejumlah maskapai di Indonesia per Oktober 2018 lalu dikeluhkan para pelaku usaha.

Imbas Tarif Kargo Udara Naik, Pengusaha Konveksi Ini Kehilangan Pesanan 2.000 Tas
TRIBUN KALTIM/BUDI SUSILO
Aktivitas jasa pengiriman barang di bilangan Jl MT Hariyono Kota Balikpapan, Provinsi Kaltim bernama Max Dirgantara. Usaha ini masih berlangsung normal pasca kenaikan tarif kargo pesawat. 

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Kenaikan tarif kargo udara atau biasa disebut Surat Muatan Udara (SMU) sejumlah maskapai di Indonesia per Oktober 2018 lalu dikeluhkan para pelaku usaha, terutama pelaku usaka kecil menengan di Kaltim.

Kebijakan kenaikan tarif kargo dinilai memiliki efek domino, salah satunya terhadap bisnis konveksi. Agus Sudarmanto, pengusaha konveksi sekaligus pemilik usaha 'Broto Batik Balikpapan' mengungkapkan, kenaikan tarif kargo berpengaruh pada pengiriman bahan baku produksi kaos dan kemeja dari Jawa.

"Istilahnya begini, kalau kita mendatangkan barang menggunakan pesawat dengan harga sekarang jelas rugi. Misalnya mengirim bahan kaos 1 kilogram bisa diproduksi 6 lembar kaos. 1 Kg bahan kaos harganya Rp 115.000 plus ongkir Rp 36.000 per kilogram. Setelah itu coba kita bagi 6, per piece kaos-nya sudah nambah Rp 6000. Sedangkan kita biasanya ambil untung kaos hanya Rp 10.000," tutur Agus.

Tarif Kargo Naik, Perusahaan Jasa Penitipan Barang Terpaksa Talangi Dana Pengiriman

Dengan perhitungan tersebut, ia menilai cukup memberatkan dirinya. "Itu kan berat betul. Jadi kita yang biasanya dapat untung Rp 10.000 per kaos, saat ini paling hanya Rp 3000 sampai Rp 4000," tambahnya.

Biasanya, Agus mengirim bahan produksi dan pakaiannya menggunakan kapal laut dan kargo pesawat udara. "Kalau kapal laut macam-macam, kalau kargo pesawat udara saya biasanya pakai kargo Lion Air," tukasnya.

Agus mengungkapkan, permintaan terhadap produk konveksinya semakin meningkat walaupun tidak terlalu signifikan. Namun, biaya ongkos kirim yang kian melonjak sedikit memberatkan distribusi.

"Usaha lokal ini yang susah berkembang, sedangkan semua bahan dari sana (Jawa) itu yang agak sulit. Akhirnya kita tetap saja nanti disamakan dengan harga di Jawa," jelasnya. "Jadi di Jawa misalnya dengan bahan Rp 2000, mereka beli tidak pakai ongkos kirim. Kalau saya, bahan semisal benang, sudah pakai ongkos kirim, kain pakai ongkos kirim, cap sablonnya pakai ongkos kirim, semua pakai ongkos kirim," ujar Agus.

Sementara, harga yang ditetapkan pada produk konveksinya masih berada di harga sama sebelum kenaikan tarif kargo. Menyiasati hal tersebut, Agus mengatakan dengan menetapkan jumlah tertentu untuk pemesanan produk konveksinya.

Prediksi BMKG Rabu (13/2/2019) - Cuaca Berawan Dominasi Balikpapan, di Laut Gelombang Jadi Ancaman

"Kalau saya intinya harga masih tetap sama, cuma keuntungan berkurang. Kalau mau dibesarin ya dibesarin kuotanya saja. Semisal pesannya banyak, mungkin kita masih bisa harga tetap. Tapi kalau sedikit ya kita minta tambah biayanya," pungkasnya.

Agus sempat bercerita tentang kehilangan pesanan dalam jumlah yang cukup banyak karena menambah sedikit harga produknya untuk mengurangi margin dalam menanggung biaya pengiriman.

Halaman
12
Penulis: Aditya Rahman Hafidz
Editor: Sumarsono
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved