Terancam Pendangkalan, Kapasitas Air Waduk Benanga Samarinda Tinggal Tersisa Sepertiga

Bukan hanya Bendungan Samboja di Samboja, Kutai Kartanegara yang terancam pendangkalan karena sedimentasi akibat aktivitas pertambangan batu bara

Terancam Pendangkalan, Kapasitas Air Waduk Benanga Samarinda Tinggal Tersisa Sepertiga
TRIBUN KALTIM / DOAN E PARDEDE
Sejumlah warga mengunjungi Waduk Benanga di Kelurahan Lempake, Samarinda Utara, Minggu (18/3/2018). Waduk Benanga kini menjadi salah satu destinasi wisata bagi warga Kota Samarinda. 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Bukan hanya Bendungan Samboja di Samboja, Kutai Kartanegara yang terancam pendangkalan karena sedimentasi akibat aktivitas pertambangan batu bara di sekitarnya.

Bendungan Lempake atau dikenal Waduk Benanga di Samarinda juga terancam hal yang sama. Bahkan, kini, kapasitas tampungan air di bendungan sebanyak 1,6 juta meter kubik air tersisa sepertiganya saja.

"Kapasitasnya sekarang tersisa 500 ribu kubik meter. Sepertiganya saja. Luar biasa rusak," ujar Kepala Seksi Operasi Sumberdaya Air Badan Wilayah Sungai Kalimantan III, Arman Effendi, Jumat (15/2).

Informasi yang dihimpun dari berbagai penelitian dan jurnal, Bendungan Lempake (Waduk Benanga) memiliki memiliki tangkapan air 19,150 hektare. Posisi bendungan sangat strategis karena tepat berada di pertemuan Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Lempake di hulu dan Karang Mumus di hilir. Sejak 1988, bendungan turut berfungsi menampung air dari hulu Sungai Karang Mumus sebelum masuk ke Kota Samarinda.

Satgas Anti Mafia Bola Tetapkan Ketua Umum PSSI Joko Driyono Jadi Tersangka

Sementara hulu Sungai Karang Mumus, adalah daerah tangkapan air Bendungan Lempake. Di sana, beraktivitas perusahaan batu bara sejak tahun 1994 hingga sekarang.

Sedangkan, di DAS Sungai Lempake, juga beraktivitas perusahan batu bara yang membuka lahan. Arman menduga, perubahan alihfungsi lahan di hulu sungai, baik skala besar maupun kecil persisnya dekat Bandara APT Pranoto ikut membuat hutan sebagai daerah resapan air berkurang.

Bahkan, lanjut Arman, penambangan batubara semakin berani beraktivitas masuk ke kawasan bendungan Lempake. "Penambangan mulai mengarah bibir tampungan air di bendungan Lempake, makanya kami siapkan surat. Dia punya hak menambang apa tidak. Kalau tidak, kami akan laporkan ke polisi," ujar Arman.

Semua aktivitas itu, membawa material sedimentasi ke bendungan yang mengakibatkan pendangkalan bendungan. "Hampir semua bendungan isinya sedimen, kalau kita lihat ke wilayah yang ada air hanya ada di spill way dan bendung. Selepas itu, sedimen dan gulma semua isinya," ujarnya.

Hasil Borneo FC vs PSS Sleman - Menang Tipis, Pelatih Pesut Etam Bantah Stamina Pemain Menurun

Karena itu, Arman menepis anggapan sebagian masyarakat jika ada banjir di sekitaran kawasan Lempake dan DI Panjaitan dikarenan pintu air Bendungan Lempake yang dibuka. Sebenarnya, salah satu penyebab utamanya yang membuat fungsi Bendungan Lempake yang memiliki peran strategis untuk irigasi dan pengendali banjir di Kota Tepian tak optimal adalah, air dari dua DAS yang seharunya ditampung sementara, dan perlahan-lahan dialirkan ke Kota Samarinda tak lagi terbendung, langsung mengalir ke kota dan menyebabkan banjir.

"Sekarang, (karena sedimentasi) air yang lewat, ya lewat begitu saja, tapi ga sempat tertampung, karena daya tampungnya kurang, karena penuh sedimen. Idelanya, kalau hujan, terisi lagi, kalau ini ga, sebesar-besarnya air yang masuk ke waduk, dilimpahkan ke sungai," tuturnya.

Akibat sedimentasi ini, selain mengawatirkan fungsi bendung air tak lagi optimal. Dia juga khawatir sedimen ini, menambah beban bagi konstruksi bendungan yang mengakibatkan kerusakan bahkan jebol.

"Bendungan Lempake salah satu beresiko sangat tinggi bagi masyarakat di hilir, kalau jebol ada ratusan orang di hilir bisa kesapu. Makanya kita sekarang perkuatan terus," ujarnya.

Hasil Akhir Borneo FC vs PSS Sleman - Gol Titik Putih Bawa Pesut Etam Menang Tipis

Salah satu cara yang efektif mengurangi sedimentasi ini hanyalah melaui pengerukan. Saat ini, mereka merampungkan Studi Desain Penahanan Sedimen Bendungan Lempae yang mereka lakukan bersama konsultan. Hasilnya, dibutuhkan biaya yang tak sedikit.

Dari hasil konsultasi waktu itu, untuk pengerukan mengoptimalkan kembali daya tampung air yang kini tersisa 500 ribu kubik meter kembali ke 1,6 juta meter kubik air, dibutuhkan anggaran Rp 80 miliar. Walaupun, pada akhirnya, hanya sebagian kecil yang rencananya akan digelontorkan. (*)

Penulis: Nalendro Priambodo
Editor: Sumarsono
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved