Tidak Ada Biaya dan Surat Kependudukan, 30 Anak di Km 5 Sangatta Tak Sekolah

Tidak Ada Biaya dan Surat Kependudukan, 30 Anak di Km 5 Sangatta Tak Sekolah

Tidak Ada Biaya dan Surat Kependudukan, 30 Anak di Km 5 Sangatta Tak Sekolah
TRIBUN KALTIM / MARGARET SARITA
Istri Wakil Bupati Kutim Tirah Satriani saat berinteraksi dengan anak-anak usia sekolah di rumah ibu Indah. 

Tidak Ada Biaya dan Surat Kependudukan, 30 Anak di Km 5 Sangatta Tak Sekolah

TRIBUNKALTIM.CO, SANGATTA – Miris. Itulah kata yang pertama kali terucap, begitu mengetahui ada sekitar 30 anak yang tidak bersekolah karena ketiadaan biaya di kawasan Jalan Poros Sangatta-Bontang, Km 5 Kecamatan Sangatta Selatan.

Puluhan anak-anak ini adalah warga pendatang asal Sulawesi Selatan yang ikut orang tuanya membuka ladang dan kebun di kawasan yang tak jauh dari ibukota kabupaten Kutai Timur. Mereka anak-anak usia antara 7 hingga 11 tahun, namun tidak bisa membaca, apalagi menulis. Aktifitas kesehariannya hanya bermain, menonton televisi di rumah tetangga serta membantu pekerjaan orang tua di kebun dan di rumah. Sebagian ada yang bisa menghafal beberapa doa pendek. Itu pun tidak terlalu lancar.

Setelah penggalian panjang, ternyata permasalahan tidak hanya soal biaya untuk mengantar anak ke sekolah dan melengkapi keperluan pendidikan lainnya. Tapi surat-surat kependudukan pun tak mereka miliki. Seperti akta kelahiran. Karena orang tua mereka pun tidak memiliki buku nikah. Padahal, untuk masuk ke sekolah memerlukan akta kelahiran.

Agustiya Sempat Kejar-kejaran dengan Polisi sebelum Berhasil Mengedarkan Sabu 0,26 gram di Sangatta

Truk Tambang Terbesar di Dunia Liebherr T 282 akan Dipajang di Museum Tambang di Sangatta

Hal ini terkuak saat istri Wakil Bupati Tirah Satriani yang juga Ketua Ikatan Wanita Sulawesi Selatan (IWSS) Kutim bersama Hijabers Kutim, menjenguk ibu Indah, yang baru saja keluar dari rumah sakit ke rumahnya. Indah dirawat karena mengalami pendarahan akibat keguguran yang terjadi di akhir 2018 lalu. Karena tidak memiliki biaya untuk berobat, ia tidak memeriksakan diri ke dokter. Hanya berbaring saja di rumah kala perutnya terasa sakit. Belakangan setelah dibawa ke dokter oleh warga dan di USG, ternyata sisa janin masih ada di dalam perutnya dan harus segera dikuret.

Dalam pertemuan itulah, Indah menceritakan mengapa dua anaknya tidak bersekolah, padahal usianya sudah masuk usia sekolah. “Tidak ada biaya untuk sekolah. Tidak ada juga surat akta kelahiran. Mau diurus, kami juga tidak punya surat menikah. Kami pendatang dari Sulawesi Selatan. Mamuju. Ada satu anak saya di sana yang saya titipkan di pesantren juga di sana,” ungkap Indah pada Tribun Kaltim.

Di gubuk berukuran sekitar 4 X 5 meter, Indah tinggal bersama suami dan anaknya. Gubuk beratap seng dengan dinding dari terpal bekas, berdiri di atas lahan milik orang yang dipinjamkan untuk mencari penghidupan di Sangatta. Kamarnya hanya bersekat terpal juga. Berbaring di atas kasur tipis yang sudah usang. Kebutuhan listrik, menumpang pada rumah tetangga di tepi jalan. Sementara air, menunggu hujan datang. Tidak ada kamar mandi di dalam atau di luar rumah tersebut, begitu juga jamban.

Peringati Hari Peduli Sampah Nasional, Polisi Kutim Bersihkan Sampah di Pasar

Bupati Kutim Ismunandar Beri Beasiswa S2 untuk Lulusan STAIS Terbaik

“Kami mandi, di sungai atau pas ada air hujan. Kalau buang air besar ya harus gali tanah. Nanti ditutup lagi kalau sudah selesai,” ungkap tetangga Indah yang juga asal Sulsel.

Mendengar permasalahan yang ada, Tirah Satriani berjanji akan mencari solusi agar anak-anak di kawasan tersebut bisa sekolah. Mengingat pentingnya pendidikan bagi anak-anak tersebut. “Minimal dalam watu dekat, kami upayakan mereka bersekolah di pesantren. Kemudian untuk orang tuanya, akan dikoordinasikan dengan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) dan Pengadilan Agama Kutim, agar bisa memiliki surat nikah, melalui program nikah massal secara isbat. Agar anak mereka bisa memperoleh akta kelahiran,” ungkap Tirah. (*)

Wabub Kutim Kasmidi Bulang Tegas, TK2D Kasus Narkoba Pasti akan Dipecat

Penulis: Margaret Sarita
Editor: Reza Rasyid Umar
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved