Hampir Semua Warga Malinau Selatan Terserang ISPA

bukan hanya masyarakat yang terkena ISPA, dokter dan tenaga kesehatan lainnya di RSB Langap pun terkena penyakit ini

Hampir Semua Warga Malinau Selatan Terserang ISPA
TRIBUN KALTIM/NEVRIANTO HP
Ilustrasi: Sejumlah pengendara motor menoleh kearah mobil penghisap debu buatan Italia 

TRIBUNKALTIM.CO, MALINAU - Hampir 100 persen masyarakat Kecamatan Malinau Selatan, terutama desa-desa yang dilintasi oleh produksi ekstraktif pertambangan batu bara terkena penyakit Insfeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). Hal ini terlihat dari jumlah pasien yang terdiagnosis terkena penyakit ISPA di Rumah Sakit Bergerak (RSB) Langap di kecamatan tersebut.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) RSB Langap, dr Setly membenarkan hal itu. Setly mengungkapkan, bukan hanya masyarakat yang terkena ISPA, dokter dan tenaga kesehatan lainnya di RSB Langap pun terkena penyakit yang disebabkan oleh debu dari lalu lintas maupun proses produksi tambang batu bara.

"Ya, kita ketahui untuk beberapa kecamatan di sini, seperti Malinau Selatan Induk dan Malinau Selatan Hilir ini merupakan lokasi pertambangan batu bara. Jadi, penyakit ISPA ini sudah menjadi trend penyakit di wilayah ini. Jangankan masyarakat sekitar, dokter saja ada yang terkena penyakit ini. Penyakit ini memang menyerang warga di wilayah sekitar tambang batu bara," ujarnya.

"Bukan hanya 60 atau 70 persen. Kalau mau dikatakan, bisa mencapai 100 persen pasien di RSB Langap ini pernah terkena penyakit ISPA. Penyakit ini memang sangat mudah menyebar. Salah satu penyebab utama penyakit ini, adalah debu-debu yang berterbangan karena lalu lintas dan produksi batu bara," lanjutnya.

Untuk itu, Setly menyampaikan, agar masyarakat di sekitar lokasi pertambangan mempersiapkan perlengkapan untuk mengurangi tersebarnya penyakit ini. Misalnya dengan menggunakan masker pelindung debu. Masker ini, diharapkan rutin digunakan oleh anak-anak maupun orang dewasa.

"Kalau di dalam desa saja, mungkin tidak usah digunakan. Tetapi, saat menggunakan kendaraan atau berjalan kaki di sekitar tambang batu bara seharusnya menggunakan masker. Sebab, bila tidak menggunakan masker penyakit ISPA akan sangat mudah menyerang," pungkasnya.

Upaya perusahaan tambang batu bara di sekitar RSB Langap dengan menyemprot air di jalan-jalan, memang berdampak sangat baik atas berkurangnya debu bertebaran di udara. Namun, hal tersebut tidaklah mengurangi jumlah pasien penyakit ISPA di wilayahnya. Sebab, debu hanya salah satu faktor penyebab.

"ISPA ini kan terjangkit karena virus. Dan penyakit ini akan hilang dengan sendirinya. Dapat dikatakan akut kalau sudah durasi sampai dua minggu. Hingga saat ini, saya belum mendapati adanya laporan dari petugas kesehatan di sekitaran pertambangan batu bara yang menyatakan, ada warga atau masyarakat kita kritis atau sampai meninggal dunia karena penyakit ini," bebernya. (*)

Penulis: Purnomo Susanto
Editor: Mathias Masan Ola
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved