Tiga BPD se-Kalimantan Bertemu, Hal Ini yang Dibahas

Diketahui, Bankaltimtara saat ini merupakan Bank Umum Konvensional (BUK) yang memiliki Unit Usaha Syariah (UUS).

Tiga BPD se-Kalimantan Bertemu, Hal Ini yang Dibahas
TRIBUNKALTIM/NEVRIANTO HP
Karyawati melayani nasabah prioritas di Kantor Bankaltimtara Syariah Samarinda, Jalan A Yani Kecamatan Sungai Pinang pada hari pelanggan Nasional, Selasa (4/9/2018). 

 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Bergabung bersama dua Bank Pembangunan Daerah (BPD) lainnya di Kalimantan, menjadi opsi pertama yang coba dijajaki PT BPD Kaltim-Kaltara (Bankaltimtara), dalam rangka pembentukan Bank Umum Syariah (BUS).

Diketahui, Bankaltimtara saat ini merupakan Bank Umum Konvensional (BUK) yang memiliki Unit Usaha Syariah (UUS). Berdasarkan peraturan yang ada, UUS yang ada pada BUK harus berpisah menjadi BUS, paling lambat 2023.

Ada beberapa opsi yang bisa dipilih Bankaltimtara dalam upaya pemisahan diri dengan UUS-nya (spin off). Pertama mendirikan BUS sendiri sebagai anak usaha, atau bergabung bersama bank lainnya yang juga memiliki UUS, untuk membentuk BUS bersama.

Baru Serah Terima Bulan Lalu, Jaringan Instalasi Listrik Rumah Nelayan Raib

Kuota PPPK untuk Bontang Nihil, Ini yang Diminta Pemkot

Pelayanan BNN Mesti Menjangkau Sampai Mal Pelayanan Publik, Ini Alasannya

Pembentukan BUS bersama ini pernah diwacanakan Wakil Gubernur Kaltim, Hadi Mulyadi, beberapa waktu lalu. "Kita berproses secepatnya untuk spin off. Paling lambat kan 2023. Tapi lihat perkembangan terakhir. Karena, jika tidak spin off bisa dicabut izinnya. (Opsi) Yang pertama (bergabung) se-Kalimantan, sesuai arahan pemegang saham," kata Direktur Syariah, Bankaltimtara, Hairuzzaman.

Untuk membentuk BUS bersama ini, kata Hairuzzaman, tiga BPD se-Kalimantan sudah bertemu beberapa kali. Tiga BPD tersebut adalah Bankaltimtara, BPD Kalsel dan BPD Kalbar. Sedangkan BPD Kalteng sendiri tak memiliki UUS. "Kita sudah pernah bertemu membahas ini empat kali," ungkap Hairuzzaman.

Opsi bergabungnya UUS tiga BPD se-Kalimantan ini, kata Hairuzzaman, agar BUS yang terbentuk nantinya langsung masuk kategori Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) II. Yakni bank dengan modal inti lebih dari Rp 1 triliun.

"Kalau bergabung, bisa langsung menjadi BUKU II," kata Hairuzzaman.

Sedangkan jika tak bergabung, besar kemungkinan BUS yang didirikan hanya masuk kategori BUKU I, dengan modal inti kurang dari Rp 1 triliun. Jika demikian, menurut Hairuzzaman, BUS yang dibentuk akan sulit bersaing dengan bank lainnya.

"Kalau hanya BUKU I, itu tak boleh ada ATM-nya. Tidak ada pembiayaan yang sifatnya korporasi. Jadi, susah bersaing lah," katanya lagi.

Kemenlu: Jokowi Arahkan Koordinasi Upaya Pembebasan Siti Aisyah, Terdakwa Pembunuh Kim Jong Nam

Kabar Perampokan BNI Dumai Viral di Media Sosial dan Buat Heboh, Berikut Keterangan Terbaru Polisi

Tanggapi Pernyataan Aa Gym, Romahurmuziy Sebut Tak Pernah Lakukan Pendekatan soal Pilpres

Jika jadi bergabung, lanjut Hairuzzaman, BUS yang berasal dari tiga UUS se-Kalimantan ini akan memiliki aset lebih dari Rp 5 triliun.

UUS Bankaltimtara sendiri, menurut Hairuzzaman, memiliki peluang menjadi pemegang saham mayoritas pada bank syariah yang akan dibentuk bersama ini.

"Kalau lihat komposisi struktur permodalan aset, memungkinkan kita jadi leader. Karena separuh aset BPD Kalimantan ada di Kaltim," katanya.

Meski demikian, Hairuzzaman enggan buru-buru memastikan BUS bersama antara BPD se-Kalimantan, pasti terbentuk. "Bisa saja belakangan ada perubahan. Misalnya kita bikin (BUS) sendiri. Yang jelas, bergabung bersama BPD lainnya se-Kalimantan (membentuk BUS), itu jadi salah satu opsi spin off UUS kita," tuturnya. (rad)

Penulis: Rafan Dwinanto
Editor: Adhinata Kusuma
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved