Dijatah 32 Juta Metrik Ton Tahun 2019, Perusahaan Tambang di Kaltim Terancam Banyak yang Tutup

Diketahui, Kementrian ESDM menerbitkan aturan DMO 25 persen, dari total batu bara yang diproduksi IUP di Kaltim.

Dijatah 32 Juta Metrik Ton Tahun 2019, Perusahaan Tambang di Kaltim Terancam Banyak yang Tutup
TRIBUN KALTIM/NEVRIANTO HP
ILUSTRASI - Kapal tongkang batu bara melewati Sungai Mahakam, Samarinda, Kalimantan Timur. 

Laporan Wartawan Tribun Kaltim, Rafan A Dwinanto

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Pengusaha batu bara Kaltim keberatan dengan pemotongan kuota produksi yang diterbitkan Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Diketahui, kebijakan pemotongan kuota produksi untuk Izin Usaha Pertambangan (IUP) merupakan buntuk tidak terpenuhinya kuota Domestik Market Obligation (DMO) oleh para pemegang IUP di Kaltim.

Diketahui, Kementrian ESDM menerbitkan aturan DMO 25 persen, dari total batu bara yang diproduksi IUP di Kaltim.

Ketua Asosiasi Pengusaha Batubara Samarinda (APBS) Eko Priyatno menuturkan, kebijakan pemotongan kuota produksi ini bakal mengancam bisnis batu bara di Bumi Etam.

Tidak mustahil, banyak perusahaan tambang bakal tutup.

"Ya logika saja. Kita produksi kan untuk jualan. Pemotongan kuota produksi ini membuat kita tak bisa jualan. Kalau tak bisa jualan, ya bagaimana? Pasti tutuplah," kata Eko, Kamis (14/3/2019).

Eko pun menyoroti kebijakan DMO yang dinilainya masih perlu disempurnakan lagi.

Eko menjelaskan, DMO diberlakukan untuk memastikan pasokan energi di dalam negeri.

Diketahui, selama ini hampir seluruh batu bara yang diproduksi, seluruhnya dijual ke negara lain.

Halaman
123
Penulis: Rafan Dwinanto
Editor: Kholish Chered
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved