Kuota Produksi Batu Bara Dipangkas 50 Persen, Banyak Tambang di Kaltim Terancam Tutup

Pemerintah melalui Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) memangkas kuota produksi batu bara dari pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP)

Kuota Produksi Batu Bara Dipangkas 50 Persen, Banyak Tambang di Kaltim Terancam Tutup
TRIBUN KALTIM / NEVRIANTO HARDI PRASETYO
Batu bara masih menjadi komoditas andalan ekspor Kaltim 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Pemerintah melalui Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) memangkas kuota produksi batu bara dari pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) provinsi hingga hampir 50 persen dari realisasi tahun lalu.

Sepanjang tahun lalu realisasi produksi IUP provinsi mencapai 211,27 juta ton atau 37,93 persen dari total produksi nasional 557 juta ton. Provinsi Kalsel menjadi penyumbang terbesar sebanyak 78,06 juta ton diikuti Kaltim 69,64 juta ton.

Adapun pada tahun ini target produksi ditetapkan sebanyak 489,13 juta ton. IUP provinsi harus rela mendapatkan pemotongan kuota sebesar 49,93 persen dari realisasi produksi tahun lalu menjadi 105,48 juta ton saja.

Sebelum Ditangkap KPK, Ketum PPP Gus Rommy Sempat Cuit Makin Banyak yang Cinta

Kuota produksi Kalsel akan menyusut menjadi 32,19 juta ton, sementara Kaltim menjadi 33,28 juta ton. Pemangkasan produksi sekitar 50 persen pun dialami oleh semua provinsi.

Menurut Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Bambang Gatot Ariyono, pemangkasan kuota produksi batu bara tidak terlepas dari realisasi pasokan untuk kebutuhan dalam negeri (domestik market obligation/DMO) pada tahun lalu. Realisasi DMO untuk IUP provinsi hanya sebanyak 24,15 juta ton atau 70,6% dari rencana awal.

Selain itu, meskipun kuota produksi IUP provinsi hanya separuh dari realisasi tahun lalu, masih ada peluang untuk meningkatkan produksinya. Syaratnya, kewajiban DMO harus bisa terpenuhi pada semester I/2019.

Menyikapi kebijakan pemangkasan kuota produksi batu bara, sejumlah pengusaha batu bara di Kaltim keberatan. Ketua Asosiasi Pengusaha Batubara Samarinda (APBS) Eko Priyatno menuturkan, kebijakan pemotongan kuota produksi batu bara bakal mengancam bisnis batu bara di Kaltim.

BREAKING NEWS: KPK Ungkap OTT di Jawa Timur Ada Anggota DPR Sampai Pejabat Kementerian Agama

Tidak mustahil, banyak perusahaan tambang bakal tutup. "Ya logika saja. Kita produksi kan untuk jualan. Pemotongan kuota produksi ini membuat kita tak bisa jualan. Kalau tak bisa jualan, ya bagaimana? Pasti tutuplah," kata Eko kepada Tribun, Kamis (14).

Eko pun menyoroti kebijakan DMO yang dinilainya masih perlu disempurnakan lagi. Eko menjelaskan, DMO diberlakukan untuk memastikan pasokan energi di dalam negeri. Diketahui, selama ini hampir seluruh batubara yang diproduksi, seluruhnya dijual ke negara lain.

"Di dalam negeri kebutuhannya untuk apa? Untuk PLTU (pembangkit listrik tenaga uap). Nah, sementara, yang diperlukan PLTU inikan batu bara low grade (kalori rendah)," kata Eko.

Halaman
12
Penulis: Rafan Dwinanto
Editor: Sumarsono
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved