Kemkominfo RI Blokir 11.803 Konten Radikalisme dan Terorisme, Cek Dua Jam Sekali

Kemkominfo RI telah melakukan pemblokiran konten internet yang memuat radikalisme dan terorisme sebanyak 11.803 konten mulai dari tahun 2009-2019

Kemkominfo RI Blokir 11.803 Konten Radikalisme dan Terorisme, Cek Dua Jam Sekali
Tribunkaltim.co/ilo
ilustrasi - Mengoperasikan smartphone tanpa kenal waktu. Kemkominfo RI telah melakukan pemblokiran konten internet yang memuat radikalisme dan terorisme sebanyak 11.803 konten mulai dari tahun 2009 sampai tahun 2019. 

Dengan Mesin AIS, Kemkominfo bisa memangani lebih dari 10.000 konten radikalisme dan terorisme dalam setahun, padahal selama lebih dari tujuh tahun, konten yg ditapis hanya sebanyak 323 konten.

Sementara selama Januari sampai Februari 2019 telah dilakukan pemblokiran sebanyak 1031 konten yang terdiri 963 konten facebook dan instagram dan 68 konten di twitter.

Tindakan pemblokiran atau penapisan konten dilakukan atas permintaan dan koordinasi dengan Badan Nasional Penanggulan Terorisme (BNPT).

Selain itu, pemblokiran juga sesuai dengan Undang-Undang Nomor
19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU RI No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Meski sudah dilakukan penutupan terhadap konten radikalisme, terorisme dan separatisme, Kementerian Kominfo terus melakukan pencarian konten dalam situs web atau platform dengan menggunakan mesin AIS setiap dua jam sekali.

Selain itu, Kementerian Kominfo juga bekerja sama dengan Polri untuk menelusuri akun-akun yang menyebarkan konten terorisme, radikalisme dan seperatisme.

Ratusan ribu konten Bigo Live diblokir oleh pihak Bigo Live, media sosial asal Negara Singapura yang juga merambah ke dalam negeri Indonesia.
Ratusan ribu konten Bigo Live diblokir oleh pihak Bigo Live, media sosial asal Negara Singapura yang juga merambah ke dalam negeri Indonesia. (Tribunkaltim.co/ilo)

Kementerian Kominfo juga mendorong masyarakat untuk menghindari penyebaran konten yang radikalisme, terorisme dan separatisme. Jika menemukenali keberadaan situs seperti itu dapat melaporkannya ke aduankonten.id atau akun twitter @aduankonten.

Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia atau Kemkominfo RI, mengimbau agar warganet dan masyarakat tidak menyebarluaskan.

Dan atau memviralkan konten baik dalam bentuk foto, gambar, atau video yang berkaitan dengan aksi kekerasan berupa penembakan brutal yang terjadi di Selandia Baru.

Hal itu disampaikan oleh Ferdinandus Setu, Plt. Kepala Biro Humas Kemkominfo RI kepada Tribunkaltim.co melalui press rilis yang diterima pada Jumat (15/3/2019) sore.

Halaman
1234
Penulis: Budi Susilo
Editor: Budi Susilo
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved