Hubungan Bisnis Narkoba dengan Ongkos Politik Jelang Pemilu 2019 di Kaltim, Begini Penjelasan Polisi

Dari data BNN pada akhir tahun 2018, prevalensi pengguna narkoba Kaltim mencapai 2,1% dari total jumlah penduduk.

Hubungan Bisnis Narkoba dengan Ongkos Politik Jelang Pemilu 2019 di Kaltim, Begini Penjelasan Polisi
TRIBUN KALTIM/MUHAMMAD FACHRI RAMADHANI
Kabid Humas Polda Kaltim, Kombes Pol Ade Yaya Suryana. 

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Ongkos politik acap jadi faktor penting keberhasilan bagi calon legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Biaya operasional kampanye, mencetak baliho, pakai jasa relawan dan saksi tentu membutuhkan biaya yang tak sedikit.

Mau tidak mau caleg kudu punya modal cukup agar bisa duduk di kursi Dewan Perwakilan Rakyat. Segala cara dilakukan, tengok saja mantan caleg Langkat Sumatera Utara yang diduga bandar narkoba. Caleg petahana itu pasrah tak bisa nyaleg pada Pemilu 2019, lantaran tersandung kasus narkoba.

Tak tanggung-tanggung, barang bukti yang disita aparat BNN yakni 150 gram, itu belum ratusan pil ekstasi. Bahkan dari informasi yang dihimpun, caleg itu ditangkap Badan Narkotika Nasional atas dugaan kepemilikan sabu-sabu saat tengah berusaha menggaet calon pemilih di daerah pemilihannya.

Nancy MOMOLAND Dikabarkan Ganti Nama Koreanya yang Mirip Seungri, Ini Penjelasan Agensi

Sinopsis dan Live Streaming The Last Empress Tayang Kamis 21 Maret 2019, Kang Joo Seung Diracun

Mengenang Umar Wirahadikusumah, Wapres Keempat RI, Tempati Posisi Penting saat G30S Meletus

Lalu bagaimana dengan Kaltim? Provinsi yang dikenal sebagai market atau pasar narkoba paling menggiurkan bagi pebisnis barang haram tersebut.

Kaltim jadi provinsi dengan tingkat prevalensi pengguna narkoba tertinggi di Indonesia. Masuk deretan 3 besar. Dari data BNN pada akhir tahun 2018, prevalensi pengguna narkoba Kaltim mencapai 2,1% dari total jumlah penduduk. 

Perilaku masyarakat yang konsumtif dan punya daya beli, membuat Kaltim jadi daerah sasaran empuk pebisnis gelap narkoba baik jaringan lokal hingga internasional. Tak henti-hentinya aparat keamanan menjebloskan tersangka kasus narkoba ke penjara.

Namun seperti mati satu tumbuh seribu. Tak ada habisnya. Kiriman sabu dari negara tetangga; Malaysia sudah bukan rahasia umum lagi. Polisi dan BNN barangkali tak kaget, bila menangkap distributor sabu, kemudian pelaku mengaku asal barang dari negeri jiran, terutama Tawau.

Selanjutnya, tengok saja Lapas dan Rutan di Kaltim. Penuh. Bahkan membludak. Narapidana kasus narkoba mengisi lebih dari 50 persen di lembaga pemasyarakatan Kaltim, dari kasus lainnya.

Beberapa deskripsi tersebut menggambarkan bahwa betapa bisnis narkoba di Kaltim menjanjikan keuntungan yang berlimpah. Cara cepat cari uang.

Namun tetap saja setiap pekerjaan punya resikonya sendiri. Penjara jadi tempat yang akan selalu membayangi pelaku kejahatan model seperti ini.

Halaman
12
Penulis: Muhammad Fachri Ramadhani
Editor: Anjas Pratama
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved