Opini

Mengurai Benang Kusut Hoax

Berita bohong ini seolah diproduksi setiap detik juga, dan disebarkan secara masif ke berbagai media sosial (medsos)

Mengurai Benang Kusut Hoax
HO
DR. Pitoyo. MKom, Praktisi Media dan Pemerhati Komunikasi Antaramanusia 

Oleh : Dr. Pitoyo, M.IKom *)

HAMPIR setiap detik perangkat smartphone, yang ada dalam genggaman kita, bertaburan berita dan informasi, celakanya sebagian dari berita yang masuk adalah berita bohong atau hoax.

Berita bohong ini seolah diproduksi setiap detik juga, dan disebarkan secara masif ke berbagai media sosial (medsos), WhatApps, Facebook, Twitter dan Instagram serta lainnya.

Keberadaan media sosial memang menjadi media komunikasi antar manusia dan masyarakat. Sebelumnya, media baik koran, radio maupun televisi, lebih merupakan media yang sifatnya meyebarkan berita dari satu media ke masyarakat.

Blogger dan Jurnalis Beri Tips agar Tak Jadi Korban Hoax untuk Komunitas Honda

Pangdam VI/Mlw Mayjen Subiyanto Janji Tindak Tegas Personel TNI yang Sebarkan Berita Hoax di Medsos

Pola penyebaran informasi media massa itu dikenal dengan sebutan one to many. Media sosial memiliki sifat penyebaran informasi yang berbeda, yakni banyak orang ke banyak orang, dikenal juga dengan sebutan many to many.

Munculnya media sosial hanya selisih beberapa tahun dengan munculnya website, yang digagas oleh Sir Berner Lee pada tahun 1996. Hadirnya Website melengapi keberadaan jaringan internet yang dibangun oleh pemerintah Amerika Serikat (AS) dengan nama Arpanet pada tahun 1969.

Dunia komunikasi berubah wajah, dari jaringan internet yang menjadi milik perusahaan atau pemerintah bergeser menjadi milik personal.

Polisi Tangkap Kreator Hoax Tenaga Kerja Asing Demo di Morowali, Begini Modusnya

FKUB Balikpapan Ingatkan Bahaya Hoax Jelang Pemilu 2019, Ini Jadwal Sosialisasinya di Tiap Kecamatan

Perkembangan website menjadi makin pesat setelah lahir teknologi smartphone. Revolusi komunikasi pun terjadi. Media mainstream, atau media massa berupa koran, radio dan televisi perlahan tapi pasti mulai berganti strategi menuju ke arah digital.

Transformasi media mainstream ke media digital ini tentu untuk mengikuti kehendak pasar pembaca.

Khalayak atau massa sudah mulai jarang bersentuhan dengan media mainstream. Keberadaan media mainstream kini menjadi media rujukan bagi pembaca.

Halaman
123
Editor: Sumarsono
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved