Pengeroyokan Siswi SMP

Bincang Bersama Au Pakai Bahasa Inggris, Menteri Muhadjir Effendy Ungkap Fakta tak Seperti di Medsos

Menteri Muhadjir Effendykunjungi Au, siswi SMP yang jadi korban pengeroyokan di Pontianak, Kalimantan Barat. Berbincang pakai Bahasa Inggris, ini dia.

Bincang Bersama Au Pakai Bahasa Inggris, Menteri Muhadjir Effendy Ungkap Fakta tak Seperti di Medsos
Tribunpontianak.co.id
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Muhajir Effendy (pakai topi) keluar dari ruangan tempat AU (siswi SMP korban kekerasan di Pontianak) dirawat di Rumah Sakit ProMEDIKA Pontianak, Kalimantan Barat, Kamis (11/4/2019) siang. 

"Anaknya sudah ceria,  ngobrol dengan saya pakai bahasa inggris, anaknya pintar, dan dia berterima kasih bilang saya Pak Menteri orangnya baik." ucap Muhadjir Effendy, menjelaskan pertemuannya dengan Au di ruang perawatan.

Sebelumnya saat di Mapolresta PontianakMuhadjir Effendy menyayangkan, kejadian kasus penganiayaan yang terjadi bahwa kenyataannya tidak seperti viral di media sosial.

Hal itu disampaikannya setelah mendapat penjelasan dari Kapolresta Pontianak.

Lanjut disampaikannya, isu yang viral di media sosial  bahwa korban dikeroyok oleh 12 pelaku dan para pelaku merusa kewanitaan korban. Namun semua itu tidak terbukti berdasarkan hasil visum yang ada.

Tegas disebut Muhadjir kasus dugaan penganiayaan ini  ibarat emperannya lebih besar dari rumah sendiri, mencontohkan terkait auratnya Au, yang dirusak oleh pelaku yang tidak terbukti. Padahal yang menyita perhatian ini adalah masalah tersebut.

Atta Halilintar bezuk siswi SMP, korban dugaan pengeroyokan oleh puluhan siswi SMA di Pontianak, Kalimantan Barat. Atta Halilintar turut prihatin atas kasus yang menimpa siswi SMP bernama Au, korban dugaan kasus pengeroyokan.
Atta Halilintar bezuk siswi SMP, korban dugaan pengeroyokan oleh puluhan siswi SMA di Pontianak, Kalimantan Barat. Atta Halilintar turut prihatin atas kasus yang menimpa siswi SMP bernama Au, korban dugaan kasus pengeroyokan. (Tribunkaltim.co/ilo/IG @attahalilintar)

Pada kesempatan yang sama ia mengimbau semuanya harus bisa memanfaatkan dan  menggunakan media, sosial khususnya dengan cara yang arif dan cerdas.

Muhadjir  mengingatkan  setiap peer group atau peranan kelompok teman sebaya dalam perkembangan remaja,  teman sejawat, teman sepermaianan  juga harus digunakan sebaikanya. 

Peer grup  tidak untuk maksud yang tidak baik,  bahwa peer grup atau kelompok teman sebaya itu suatu hal yang niscaya  dihindari kalangan anak-anak remaja terutama anak-anak yang mengalami puberitas.

"Saya minta orangtua dan guru betul-betul  memantau kelompok siswa peer grup di masing-masing sekolahnya dan harus diarahkan. Jangan sampai digunakan untuk maksud-maksud menyimpang," ujar Mujadjir. 

Ia juga memohon kepada orangtua tidak memberikan kebebasan anaknya menggunakan gawai (gadget) atau yang lain dengan  sering memeriksa apa isi yang ada di dalam gadget mereka. 

Halaman
1234
Editor: Budi Susilo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved