Tak Hanya Soal Penjualan Tiket, Industri Film Ternyata Juga Bisa Gerakkan Ekonomi Daerah

Film tak harus selalu hanya berupa tayangan, tetapi digenjot untuk bisa berikan keuntungan lain, terutama kepada daerah asal.

Tak Hanya Soal Penjualan Tiket, Industri Film Ternyata Juga Bisa Gerakkan Ekonomi Daerah
Tribunkaltim.co/ Anjas Pratama
Hetifah Sjaifudian (kedua dari kiri) usai acara diskusi terkait industri kreatif perfilman di Hotel Aston Samarinda, Kamis (11/4/2019). 

 “Contohnya saja, bagaimana sebuah Film Laskar Pelangi mampu menyadarkan masyarakat akan keindahan pariwisata di Pulau Belitung. Sebuah film mampu mendongkrak sektor pariwisata, bahkan dari yang saya baca, mencapai lebih 1000 persen. Kita ingin yang demikian juga bisa terjadi di Kaltim. Berawal dari film, yang bisa berikan dampak kemana-mana,” ucap Hetifah Sjaifudian, Wakil Ketua Komisi X DPR RI.

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA – Kamis (11/4/2019), bertempat di lantai 17 Hotel Aston Kota Samarinda, ratusan mahasiswa dari beberapa Universitas, seperti Unmul, ISBI Tenggarong dan Polnes Samarinda duduk berjejer di kursi putih ballroom hotel Aston.

Semua menatap ke depan, dimana Hetifah Sjaifudian bersama dua tokoh muda perfilman di Kaltim asal Tenggarong, David Richard serta Madi Rachmad saling ganti berbicara. Ada pula M.Sanggupri, perwakilan dari Pusbangfim (Pusat Pengembangan Perfilman) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI yang ikut nongkrong di depan panggung.

Semua sepakat satu tujuan, bagaimana industri kreatif, tepatnya perfilman di Kaltim bisa memberikan dampak luas ke beberapa sektor. Film tak harus selalu hanya berupa tayangan, tetapi digenjot untuk bisa berikan keuntungan lain, terutama kepada daerah asal.

“Seperti misalnya di Makassar. Para kreatif di sana, sudah mulai memasukkan budaya lokal, bahkan bahasa daerah dalam skenarion film mereka. Hal ini secara tak langsung memunculkan kesan, film juga ikut menjual suatu daerah kepada masyarakat,” ucap M.Sanggupri.

Rombongan Gubernur Kaltim Bertolak Ke Seychelles, Hetifah: Tak Ada Salahnya Belajar Dari Negara Lain

Petani PPU Dapat Bantuan Teknologi Generator Plasma, Hetifah: Bisa Tingkatkan Kesejahteraan Petani

VIDEO - Hetifah Siap Perjuangkan Percepatan Standar Sapras Sekolah di Kaltim

Contoh real dalam hal itu, misalnya pada Uang Panaik serta Cinta Silariang yang diproduksi oleh sineas perfilman masyarakat Makassar. Kedua fim tersebut termasuk ke dalam fim nasional yang laku dijual ke pasaran.

Hal-hal demikian, disebut dua tokoh muda perfilaman Kaltim asal Tenggarong, Kukar, sudah mulai dilakukan oleh para kreatif film di Kaltim. Beberapa diantaranya, bahkan sudah mulai juara di beberapa kompetisi.

“Misalkan saja film Tafsir yang dibuat pada 2016. Itu menggunakan bahasa Kutai Tenggarong. Ada pula Ono Mastika tahun 2014 yang juga gunakan bahasa Kutai Tenggarong. Selain itu ada film Ranam yang sebenarnya berasal dari bahasa Kutai, berarti air,” ucap Madi Rachmad.

Memperbanyak kaum-kaum muda, hingga berbentuk komunitas kreatif dalam pembuatan film dirasa cukup penting, untuk ikut menggenjot industri kreatif film di Kaltim.

Dulu Bersinar dan Hidup Mewah, Fahmi Bo Pemeran Gusur di Sinetron Lupus Kini Jualan Kue Keliling

Kasus Au di Pontianak Ada Serupa di Samarinda, KPAI Ungkap Dilatarbelakangi Suka Sesama Jenis

2 Tahun Berlalu, Novel Baswedan: Kapolri Tak Sungguh-sungguh Mengungkap Kasus yang Saya Alami

Untuk hal itu, David Richard, juga berikan beberapa slide penjelasan mengapa industry film bisa dipilih sebagai upaya menggerakkan ekonomi daerah.

“Kenapa harus film? Jangan hanya dilihat film itu hanya sebatas penjualan tiket saja, tetapi lebih pada bagaimana film juga bisa menumbuhkan aktivitas lain, seperti misalnya pariwisata dan UMKM. Ini bisa dilihat pada film Filosopi Kopi, dimana industri kopi juga ikut tersorot, serta Laskar Pelangi yang tumbuhkan sektor pariwisata,” katanya.

Hal ini pun diakui Hetifah Sjaifudian sebagai hal yang terus digenjot oleh pusat.

“Pusat juga memiliki target dan harapan, bagaimana ekonomi kreatif ini bisa menjadi pengganti ekonomi Indonesia yang saat ini bertumpu pada sumber daya alam. Saya justru sangat meyakini, ekonomi kreatif ini bisa menjadi tulang punggung ke depan,” ucapnya.

Pemilu 2019, Aston Samarinda Promo Kamar dan Makanan, Ini Harganya

Perwakilan FIFA dan AFC Bertandang ke Kantor PSSI, Ini Agendanya

Bincang Bersama Au Pakai Bahasa Inggris, Menteri Muhadjir Effendy Ungkap Fakta tak Seperti di Medsos

Terkait film, Hetifah Sjaifudian juga mendorong industri muda di Kaltim agar bisa membuat karya-karya yang bisa membantu pemerintah daerah untuk pengembangan sektor lain.

“Tugas kami di DPR ini adalah ikut menemani mereka, kreator-kreator muda, untuk bisa terus memberikan karya. Semua harus dilakukan bersama-sama dan memang tak bisa sendiri-sendiri,” ucapnya.  (*) 

Penulis: Anjas Pratama
Editor: Anjas Pratama
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved