Uni Eropa Diskriminasi CPO Indonesia, PT. WKP Sebut Saling Boikot itu Bukan Solusi

Uni Eropa bukanlah pasar yang paling besar, tetapi pasar yang paling penting sawit. Karena Uni Eropa mampu mempengaruhi pangsa pasar yang lainnya.

Uni Eropa Diskriminasi CPO Indonesia, PT. WKP Sebut Saling Boikot itu Bukan Solusi
Tribun Kaltim/Sarassani
ILUSTRASI - Tandan Buah Sawit (TBS) yang dijual petani sawit di loading ramp Desa Janju Kecamatan Tanah Kabupaten Grogot, Kalimantan Timur. Uni Eropa bukanlah pasar yang paling besar, tetapi pasar yang paling penting sawit. Karena Uni Eropa mampu mempengaruhi pangsa pasar yang lainnya. Karena itu pemerintah tak perlu ikut balas boikot Uni Eropa. 

TRIBUNKALTIM.CO - Indonesia kehilangan salah satu pangsa pasar terbesarnya di bidang bisnis minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) setelah Uni Eropa memutuskan tidak lagi menerima hasil produksi CPO dari Indonesia.

Uni Eropa merupakan organisasi pemerintahan dan supranasional yang diketahui beranggotakan 28 Negara itu memutuskan tidak lagi menerima CPO dari Indonesia per awal Maret 2019 lalu.

Menyikapi hal itu, PT. Waru Kaltim Plantations (WKP) yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit meminta pemerintah Indoneisa agar tidak mengeluarkan kebijakan saling mendiskriminasi atau saling memboikot produk antara ke dua Negara (Uni Eropa – Indoensia).

Hal itu disampaikan langsung oleh Administratur PT. WKP, Erwin Ristiyanto saat dikunjungi Tribunkaltim.co pada Rabu (9/4/2019) di lokasi perkebunan kelapa sawit milik WKP di kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur

Erwin Ristiyanto mengatakan, meski Uni Eropa bukan termasuk pasar yang paling besar untuk ekposr minyak kelapa sawit di antara Negara lainnya tetapi Eropa adalah bagian dari pasar terpenting dan mampu memperngaruhi pasar internasional.

Sejumlah perusahaan sawit membeli hasil panen petani dengan harga rendah, di bawah harga TBS yang telah ditetapkan pemerintah. Di Kabupaten Berau harga TBS Rp 1.100 per kilogram. Sementara perusahaan membeli TBS dari masyarakat hanya Rp 900.
Sejumlah perusahaan sawit membeli hasil panen petani dengan harga rendah, di bawah harga TBS yang telah ditetapkan pemerintah. Di Kabupaten Berau harga TBS Rp 1.100 per kilogram. Sementara perusahaan membeli TBS dari masyarakat hanya Rp 900. (Tribun Kaltim/GEAFRY NECOLSEN)

Uni Eropa bukanlah pasar yang paling besar, tetapi pasar yang paling penting.

Karena Uni Eropa mampu mempengaruhi pangsa pasar yang lainnya.

"Jadi saling bokiot itu saya kira gak akan ada selesainya,” katanya.

Lebih lanjut Erwin mengatakan, kebijakan pemerintah Eropa tersebut akan dilawan oleh gabungan pengusaha kelapa sawit indoneisa (GAPKI) dengan cara menempuh jalur pengadilan internasional.

Menurutnya, jika hal ini diabiarkan maka tidak menutup kemungkinan akan membawa dampak negativ terhadap petani sawit di Indonesia.

Halaman
1234
Penulis: Zainul
Editor: Budi Susilo
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved