Kanal

Kobexindo Cement Janji Tidak Rusak Catchment Area Sekerat

Agus Mafthukin, Senior Geologist Kobexindo Cement menunjuk sebuah cekungan di gunung Sekerat (bagian kiri) di kejauhan sebagai batas yang akan ditambang. Di areal seluas 1.077 ha itu, penambangan akan menyisakan elevasi 80-125 meter dpl, sebagai komitmen untuk melindungi daerah tangkapan air. Kobexindo menginvestasikan Rp 7,2 triliun untuk mendirikan pabrik semen di Jepujepu, Sekerat, kecamatan Bengalon, Kutai Timur. - TRIBUNKALTIM/ACHMAD BINTORO

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Kobexindo Cement menjamin tidak akan mengganggu daerah tangkapan air (catchment area) sebagaimana yang dikhawatirkan Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak. Pihaknya sudah merumuskan langkah-langkah konservasi sumber air tersebut berdasar hasil studi geohidrologi dan speleologi yang dilakukan oleh konsultan indenpenden CV Stalaktindo Yogyakarta, Desember 2010.

Hal tersebut dikemukakan Agus Mafthukin, Senior Geologist Kobexindo Cement kepada TribunKaltim.co, Minggu (27/11/2016).

Ia menanggapi alasan keberatan gubernur terhadap rencana pembangunan pabrik semen di Sekerat, kecamatan Bengalon, Kutai Timur. Alasan gubernur disampaikan langsung ke perwakilan tokoh warga Sekerat dan Selangkau yang sengaja menemuinya di kediamannya, Samarinda. Mereka sempat mendesak gubernur untuk mengizinkan rencana pendirian pabrik yang sudah tertunda sejak 13 tahun lalu itu (Tribun, 26/11/2016).

Baca: Tak Sabar Sudah 13 Tahun Menunggu Pabrik Semen, Warga Sekerat Akhirnya Datangi Kediaman Gubernur

Diketahui, penundaan pendirian pabrik terjadi setelah Awang Faroek mengeluarkan Pergub No 67/ 2012 atas wilayah limestone di Sekerat. Kobexindo melalui IUP Bengalon Limestone yang awalnya terletak di kawasan APL (area penggunaan lain) telah meningkat menjadi Tahap Operasi Produksi, setelah mendapatkan persetujuan Amdal pada April 2012, atau sebelum Pergub No 67/2012 keluar, November 2012.

Padahal, Kobexindo Cement mendapat areal itu juga dari Awang Faroek ketika kewenangan masih di tangan bupati. Saat itu, tahun 2003 Awang Faroek menjadi Bupati Kutai Timur. Tiba-tiba ketika sudah siap membangun pabrik, Awang Faroek menjadikan kawasan itu sebagai kawasan karst yang harus dilindungi.

Menurut Agus, dari hasil studi itu dan sekaligus untuk mengamankan daerah tangkapan air, maka Jepujepu yang dipilih sebagai lokasi pabrik. Jepujepu terletak 4 kilometer dari perkampungan di desa Sekerat dan 5 km dari Selangkau. Berada di pesisir pantai. Pemilihan lokasi tambang ini karena arah aliran air dan sungai permukaan yang mengalir langsung ke arah pantai.


Di sinilah, di kampung Jepujepu, desa Sekerat, Bengalon, Kabupaten Kutai Timur, Kobexindo Cement akan membangun pabrik semen. Namun rencana itu terhambat oleh Pergub No 67/2012 yang telah mengubah lokasi itu dari yang awalnya masuk kawasan APL menjadi kawasan karst yang dilindungi.

Perusahaan juga siap mengembalikan IUP Bengalon Persada Mineral pada tahap eksplorasi kepada pemerintah, karena terletak pada kawasan budidaya kehutnan dan kawasan karst yang dilindungi berdasar Pergub 67/2012. Sehingga hanya 834 ha dari luas izin 1.077 ha yang akan ditambang. Jarak lokasi tambang dengan sumber mata air sekitar 5 km.

"Dalam menambang kami juga tidak akan meratakan habis serata pantai. Tidak. Gunung sekerat itu puncak tertinggi 520 meter. Itu jauh di luar areal kami. Yang di lokasi kami tertinggi 220 meter. Tapi kita akan sisakan elevasinya 82-125 meter. Itu sebagai perlindungan dan komitmen kami terhadap tangkapan air," jelas Agus.

Sedang terkait lokasi latihan gabungan (latgab) TNI, Agus mengatakan akan dicarikan jalan keluar, misalnya dengan sedikit digeser atau yang lain. Pihaknya sudah pernah menanyakan hal ini kepada TNI pada 16 November 2015 di ruang Asisten Operasi Mabes TNI. TNI akan meninjau lagi status lahan dan kepemilikan hak guna pakai lahan seluas 26.449 ha di Bengalon dan Kaliorang berdasar batas-batas sebagai lokasi latgab berdasar batas-batas yang ada.

Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak sebelumnya didatangi sejumlah tokoh warga desa Sekerat dan Selangkau di kediamannya di Samarinda, yang menginginkan rencana pembangunan pabrik semen itu tetap berlanjut.  Sekitar 13 tahun lalu, izin itu pernah diberikan Awang Faroek kepada Kobexindo ketika ia masih menjadi Bupati Kutai Timur.

Halaman
12
Editor: Achmad Bintoro
Sumber: Tribun Kaltim

Beredar Isi Percakapan Asusila Kepsek SMAN 7 Mataram yang Menyeret Baiq Nuril

Berita Populer