Selamat Pagi
Longboat Bulungan
SELAMAT hari Senin. Kaidah dalam teori sosiologi menyebutkan bahwa masyarakat harus menaati nilai dan norma.
SELAMAT hari Senin. Kaidah dalam teori sosiologi menyebutkan bahwa masyarakat harus menaati nilai dan norma (aturan dan regulasi) yang disepakati bersama. Tujuannya agar tercipta ketaraturan dan kemajuan dalam kehidupan bersama.
Tahun 2003 saya pernah melakukan perjalanan menggunakan long boat dari Kabupaten Bulungan menuju Tarakan. Ini pengalaman baru bagi saya. Alhamdulillah saya tiba dengan selamat di Tarakan setelah menempuh perjalanan sekitar empat jam.
Perjalanan itu saya lakukan hanya berselang sekitar dua minggu setelah kecelakaan maut di jalur itu yang menewaskan enam orang penumpang (tujuh lainnya dinyatakan hilang), awal Juni 2003. Konon, long boat naas itu membawa 31 orang penumpang tidak termasuk dua orang motoris dan kernet.
Kecelakaan itu terjadi karena long boat terbalik. Diduga saat melaju dengan kecepatan tinggi perahu menabrak sebatang kayu besar yang banyak terapung di peraiaran sungai itu. Perahu pun oleng, terjadi kepanikan, dan akhirnya malapetaka maut itu terjadi dalam hitungan menit saja.
Long boat yang saya naiki ke Tarakan juga berkapasitas penumpang 35 orang. Karena baru saja terjadi musibah besar, maka ketika akan naik perahu saya melihat adanya aktivitas pemeriksaan yang ketat dari aparat. Ada pengecekan pelampung, para penumpang juga digeledah barang bawaannya. Pengelola pelabuhan di Bulungan juga mengingatkan para penumpang untuk mengenakan pelampung, lewat pengeras suara.
Menurut beberapa orang yang saya tanyai, pemeriksaan ketat tersebut tidak dilakukan setiap hari. Artinya, itu dilakukan hanya karena baru saja terjadi kecelakaan besar. Kalau tidak karena baru saja terjadi kecelakaan maka aktivitas pengecekan pun tidak dilakukan.
Karena saya merasa harus patuh terhadap peraturan, maka saya pun segera mengenakan pelampung pengaman begitu duduk di dalam tubuh long boat. Ternyata, hingga perahu itu melaju dengan kecepatan tinggi ke tujuan akhir (Tarakan) hanya saya sendiri yang mengenakan pelampung tersebut. Penumpang lainnya membiarkan puluhan alat pelampung berwarna orange itu mengonggok di sudut depan long boat. Anak buah kapal (ABK) juga tidak melakukan pemaksaan pada penumpang untuk mengenakannya.
Ketika itu saya merasa diri saya lucu. Menjadi tontonan seluruh penumpang karena hanya saya seorang diri sajalah yang mematuhi peraturan dengan "mau-maunya" pakai pelampung. Tetapi saya pun berbicara di dalam hati, "kalian tidak mau belajar dari kesalahan para korban yang tewas dalam kecelakaan di perairan sungai ini dua pekan lalu, andai mereka pakai pelampung...."
Jumat (28/1) tiga hari lalu, sekitar pukul 04.00 WIB, Kapal Motor Penyeberang (KMP) Laut Teduh 2 terbakar di Selat Sunda sekitar Pulau Tempurung atau 40 meneit setelah lepas dari Pelabuhan Merak menuju Pelabuhan Bakauheni Lampung. Kapal ferry itu membawa 93 kendaraan dan lebih dari 100 penumpang. Hingga saat ini dilaporkan 14 orang meninggal dan belasan lainnya luka berat dan ringan.
Sudah sekitar dua tahun ini saya mondar-mandir Jakarta-Lampung dan hampir setiap bulannya dua sampai empat kali saya menggunakan jasa penyeberangan kapal ferry di Selat Sunda. Maka, saya sudah sangat mengerti dan hafal tentang seluk-beluk kapal-kapal ferry tersebut, karakter para ABK-nya, dan sikap para penumpangnya.
Berbagai sumber yang saya hubungi menyebutkan bahwa penyebab kebakaran yang menimpa ferry KMP Laut Teduh 2 diduga berasal dari kobaran api yang melalap sebuah bus angkutan umum antar pulau. Pengakuan dari beberapa penumpang bus tersebut, sebelum loading di tubuh kapal (sewaktu masih di darat), alat pendingin udara (AC) bus tersebut memang bermasalah, hidup-mati. Para awak bus beberapa kali membetulkannya.
Bus yang bermasalah dengan AC-nya inilah yang diduga pertama kali terbakar. Terjadi hubungan arus pendek pada jaringan kabel AC-nya lalu bus pun habis dilalap si jago mereh. Di dalam kapal ferry, seluruh muatan jenis bus, truk, dan kendaraan besar lainnya memang loading di dek bawah dengan posisi parkir yang sangat berhimpit-himpitan.
Jadi, bila satu saja terbakar tentu apinya akan cepat menjalar membakar seluruh kendaraan di dek bawah. Padahal, jalur penyeberangan di Selat Sunda adalah yang tersibuk di Indonesia. Ribuan truk, bus, dan kendaraan pribadi menggunakan kapal ferry penghubung Pulau Jawa dan Sumatera ini setiap harinya. Isi muatannya macam-macam, dari sembako, hasil bumi nonsembako, hingga barang-barang yang mudah terbakar seperti plastik, cairan kimia, kertas, kayu, dan sebagainya.
Saya tahu persis bahwa semua bus penumpang umum yang parkir di dek bawah kapal ferry, tetap saja menghidupkan mesinnya. Itu semata-mata karena ulah penumpang yang tidak mau keluar dari bus selama kapal sedang berjalan membelah lautan hingga ke tujuan. Mereka memaksa diri tetap tinggal di dalam bus dengan AC yang mereka minta tetap dihidupkan.
Betul, bahwa di dinding-dinding kapal banyak tertulis peringatan yang berbunyi "dilarang menghidupkan mesin mobil di dalam kapal." Namun saya merasa bahwa masyarakat susah diminta untuk mematuhi peraturan dan regulasi tersebut.
Bulan Oktober tahun 1981, KMP Tampomas II terbakar dan tenggelam di perairan Laut Jawa sekitar Pulau Masalembo. Terbakarnya kapal milik Pelni ini menjadi tragedi nasional karena menewaskan ratusan orang. Sumber api berasal dari terbakarnya sebuah truk di dek bawah. Penyebab terbakarnya Tampomas sama persis dengan dugaan penyebab yang mengakibatkan terbakarnya KMP Laut Teduh 2 di Selat Sunda, Jumat subuh yang lalu.
Maka, seperti keluhan saya ketika menelusuri sungai dari Bulungan ke Tarakan dengan long boat dan mendapatkan tidak ada satu pun penumpang yang mau mengenakan pelampung pengaman, dan untuk itu saya "ngedumel" dalam hati, karena menganggap mereka tidak mau belajar dari kecelakaan maut dua pekan sebelumnya di perairan yang sama, saya pun mengeluh seperti itu setiap kali naik kapal ferry menyeberangi Selat Sunda. "Kenapa menghidupkan mesin mobil saat kapal berjalan. Tidakkah mereka belajar dari Tampomas?"
Masyarakat kita memang cenderung tidak mau belajar dari sejarah, tidak mau belajar dari pengalaman yang sama, untuk keselamatan dan kebaikan diri mereka sendiri serta orang lain.
Sikap seperti ini (megeluhkan) masyarakat tentunya tidak baik karena akan terjebak pada sikap yang stereotype. Namun demikian rasanya kita semua, masyarakat dan pemerintah, memang harus terus memperbaiki diri dalam sikap dan kinerja. Karena, untuk hampir semua kecelakaan maut yang menyangkut angkutan publik di situ ada kesalahan yang bersifat human error dan teknis. Di Indonesia, sumber dari kesalahan tersebut adalah masyarakat dan utamanya adalah pemerintah (aparatnya).
Pembaca yang saya hormati. Silakan melanjutkan membaca berita-berita sajian Tribun Kaltim edisi hari ini. Kami berharap kiranya sajian kami selalu memberi manfaat bagi seluruh pembaca, utamanya manfaat sebagai salah satu sumber insprirasi bagi kemajuan bersama.
Salam. (*)