Pemilukada Nunukan

Aksi Intimidasi di Pemilukada Nunukan Berlanjut

Aksi intimidasi yang dilakukan pendukung maupun simpatisan pasangan calon peserta Pemilukada Kabupaten Nunukan 2011 terus berlanjut.

Editor: Sumarsono
NUNUKAN,tribunkaltim.co.id - Aksi intimidasi yang dilakukan pendukung maupun simpatisan pasangan calon peserta Pemilukada Kabupaten Nunukan 2011 terus berlanjut. Setelah aksi pengejaran di Jalan Rimba, aksi pemukulan terhadap Henri, warga Teritip, Senin (14/2/2011) dinihari tadi kembali terjadi intimidasi terhadap sejumlah warga di RT 14 Jalan Tien Soeharto, Kelurahan Nunukan Timur, Nunukan.

Enam keluarga masing-masing Kholil, Yusuf, Ali, Budi, Minah dan Kulle diancam menggunakan tombak oleh Ram karena keenam keluarga ini dicurigai mendukung salah satu pasangan calon. Mereka juga disuruh keluar dari rumah kontrakannya pada malam itu juga. Warga akhirnya mengalah dan sekitar pukul empat subuh memilih mengangkut barang-barang mereka dari kontrakan.

“Jadi mulai jam 23.00 kemarin malam si Ram yang dalam keadaan mabuk datang ribut-ribut. Dia keluar masuk lorong sambil membawa tombak. Dia memaki-maki sambil menyumpah-nyumpah. Tapi warga tidak melayani dia. Dia tetap marah-marah sampai pohon papaya ditebang pakai tombak,” kata Suryana Fajar, tokoh masyarakat setempat.

Sambil menyebut satu persatu nama keluarga yang dicurigai mendukung salah satu pasangan calon Bupati-Wakil Bupati Nunukan, Ram mengancam akan membakar rumah tersebut jika penghuni kontrakan tidak segera keluar.

Kejengkelan Ram terhadap enam keluarga ini, lantaran warga yang bekerja sebagai pedagang bakso keliling ini mendapat kupon untuk memberikan makan gratis kepada peserta kampanye salah satu pasangan calon.

“Kami ini kan netral. Siapa yang mau memborong bakso kami silakan saja. Kami tidak mendukung siapa-siapa. Apalagi Ram tidak pernah mengajak kami memilih calon yang dia dukung,” ujar Cholil.

Sebenarnya Ramli hanya ditugaskan menjaga rumah kontrakan milik salah seorang warga negara Indonesia (WNI) yang bekerja di Lahad Datu, Sabah, Malaysia.  Di rumah itu terdapat sekitar 30 petak rumah kontrakan. Rata-rata pengontrak di rumah tersebut merupakan pedagang asongan. “

Subuh tadi semua mereka sudah angkat barang. Sementara ini sekarang mereka ditampung di rumah keluarga masing-masing,” kata Suryana. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved