Selamat Pagi
Tsunami Jepang
Sehari sebelum terjadinya gempa Jepang, Jumat (11/3) lalu, para ilmuwan internasional ramai mendiskusikan fenomena supermoon.
Kedua, menyangkut kualitas bangunan rumah penduduk, gedung-gedung bertingkat, dan pencakar langit. Jepang berhasil menemukan konstruksi bangunan tahan gempa. Pemerintahnya sangat ketat dalam memberi izin mendirikan bangunan (IMB) dengan persyaratan harus tahan gempa.
Kita bisa menyaksikan lewat siaran televisi bagaimana gedung-gedung pencakar langit tetap berdiri kokoh meski diterjang gempa dengan kekuatan 8.9 SR. Bandingkan dengan impak yang terjadi pada negara lain yang mengalami guncangan gempa besar, dimana tingkat kerusakannya jauh lebih parah.
Ketiga, masyarakat Jepang sangat mematuhi prosedur bagaimana menghadapi gempa bumi dan bencana alam. Sosialisasi untuk hal tersebut terus diulang-ulangi setiap saat, diberikan lewat jalur sekolah, kantor, perusahaan, dan rumah tangga. Dan, seluruh rakyat patuh terhadap prosedur tersebut. Bandingkan dengan tingkat ketaatan bangsa lain dalam menghadapi bencana alam khususnya gempa bumi.
Nampaknya kita bisa memetik pelajaran yang bermanfaat dari bencana alam berupa gempa bumi 8.9 SR disertai tsunami setinggi empat hingga sepuluh meter yang baru saja melanda Jepang. Pelajaran tersebut bukan saja harus dipetik oleh pemerintah kita namun juga harus diambil oleh seluruh masyarakat Indonesia, agar mau belajar dari bangsa Samurai ini. Karena seperti halnya Jepang, negeri kita pun berada di atas tanah yang rawan gempa bumi dan tsunami.
Oktober tahun 2009 saya berkunjung ke Jepang. Dalam kunjungan tersebut saya berkesempatan bertemu dan berjabat tangan dengan Kaisar Jepang Akihito serta Permaisuri Michiko. Pertemuan saya dengan Kaisar Akihito berlangsung dua pekan setelah gempa bumi 7.9 SR yang menghancurkan Sumatera Barat.
Dengan suara yang sangat halus Sang Tenno Heiko mengatakan kepada saya, "Sampaikan simpati dan duka kami untuk seluruh warga Sumatera Barat yang terkena musibah gempa bumi."
Rasanya --meski hanya lewat tulisan ini--- kini giliran saya pribadi dan mungkin mengatasnamakan kita semua warga Kaltim dan bangsa Indonesia, menyampaikan kepada Sang Kaisar serta seluruh bangsa Jepang, "Kami menyampaikan rasa simpati dan duka kami atas musibah gempa bumi dan tsunami yang melanda Jepang."
Pembaca yang saya hormati. Silakan melanjutkan membaca berita-berita sajian Tribun Kaltim edisi hari ini. Kami berharap kiranya sajian kami dapat memberi manfaat sebesar-besarnya bagi seluruh pembaca. Salam. (*)