Breaking News:

Analisa Runtuhnya Jembatan Kukar

Jarak Konstruksi Jembatan dan Jalan Terus Melebar

Semakin panjang jarak bentang yang tidak ditopang oleh pilar, penyaluran beban akan tidak bisa terdistribusi dengan baik.

Adapun analisa mistik dan sejenisnya maka biarlah waktu yang akan membuktikannya karena probabilitasnya sangat tidak bisa dibuktikan dengan nalar. Secara teknikal, membangun jembatan dengan panjang cukup jauh (±710 m), perancang manapun dan kontraktor siapapun pasti harus mempertimbangkan jarak bentang bebas yang tidak di topang oleh pilar atau tiang penyangga.

Semakin panjang jarak bentang yang tidak ditopang oleh pilar maka kemungkinan penyaluran beban akan tidak bisa terdistribusi dengan baik.

Karena tujuan pilar sendiri adalah untuk pusat beban agar konstruksi antara pilar yang satu dengan pilar yang lain tidak banyak memikul beban terpusat dan beban dinamis. Beban terpusat adalah beban konstruksi itu sendiri dan beban dinamis adalah beban kendaraan yang melewatinya termasuk pengaruh angin dan arus sungai.

Jadi beban yang dipikul oleh pilar adalah akumulasi dari beban konstruksi/bangunan plus beban kendaraan yang melewatinya plus beban angin dimana tiupan angin akan membuat konstruksi bergerak secara tidak teratur walau tidak kasat mata dan memberikan beban kejut atau beban tiba-tiba.

Salah satu cara menyiasati jarak bentang yang panjang tanpa pilar penyangga yang memadai adalah membuat sling atau kabel/kawat bentang yang bertujuan untuk mendistribusikan beban ke titik ujung sehingga beban tidak menumpuk di tengah dan membuat konstruksi menahan bebannya sendiri plus beban kendaraan yang melewatinya.

Kabel bentang ini selanjutnya dengan menggunakan tali atau kawat penggantung dihubungkan dengan titik-titik beban pada konstruksi lantai jembatan yang sebelumnya sudah diperhitungkan jarak dan besarnya beban.

Jembatan Kutai Kartanegara menggunakan metode ini yakni adanya kabel sling  disisi kiri dan kanan jembatan yang dihubungkan ke kedua pilar yang berdiri yang selanjutnya dihubungkan ke ujung jembatan dan antara kabel dan jembatan dihubungkan tali atau kawat penggantung untuk mendistribusikan beban jembatan ke kabel bentang yang berada di sisi kiri dan kanan.

Tujuannya agar beban konstruksi yang kemungkinan besar akan menumpuk di tengah jembatan karena jarak bentang antar pilar satu dengan pilar dua yang (menurut saya) cukup jauh, dapat didistribusikan ke pilar dan ke ujung jembatan dimana disana terdapat beton penyangga jembatan. Sampai disini tidak ada masalah karena saya yakin PT. Hutama Karya sebagai kontraktor pembangunan jembatan ini tahun 1995-2001 sudah ahli memperhitungkan konstruksi seperti ini.

Analisa teknikal dan konstruksi lainnya adalah terkait dengan pemilihan tempat. Dimanapun, membangun jembatan  yang melewati sungai atau laut, pasti harus memperhitungkan kontur tanah atau kekuatan dan ketahanan tanah dalam menopang beban konstruksi diatasnya. Termasuk disini adalah memperhitungkan kecepatan arus atau gelombang yang bisa menimbulkan pengikisan tanah disekitar tiang pancang pilar. Tanah yang berlumpur dan berpasir tentu sangat beda kekuatan menahannya dibandingkan dengan tanah jenis liat dan berkontur batu-batuan.

Dari analisa tanah yang ditempati pembuatan pilar jembatan, juga dapat dihitung berapa cm atau mm perubahan dan pergerakan konstruksi pilar ke bawah karena pengaruh beban dalam sebulan atau setahun. Apabila sudah diketahui besarnya pergeseran tanah disekitar dan perubahan kedalaman tiang pancang pilar tiap tahun maka dari awal sudah harus direncanakan waktu, metode dan bentuk perbaikan yang harus dilakukan supaya tidak mengganggu ke stabilan konstruksi.

Halaman
123
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved