Korupsi
Pers, Jangan Biarkan Koruptor Nyaman
Sosiolog UI, Tamrin Amal Tomagola memuji kerja pers yang gencar memberitakan kasus-kasus korupsi yang telah meresahkan masyarakat.
JAKARTA, tribunkaltim.co.id- Sosiolog Universitas Indonesia, Tamrin Amal Tomagola memuji kerja pers belakangan ini yang gencar memberitakan kasus-kasus korupsi yang telah meresahkan masyarakat. Menurut Tamrin, langkah pers seperti ini akan membuat para koruptor tidak tenang di mana pun mereka berada.
"Media terus memberitakan dan terus mengejar para koruptor itu kan, saya setuju. Jangan biarkan dia nyaman di mana pun, kejar terus. Media sudah lakukan itu dan itu bagus," ujar Tamrin di Jakarta, Sabtu (11/2/2012).
Menurut Tamrin, media harus terbuka terhadap berbagai informasi, terutama mengenai masalah korupsi. Tak menjadi masalah jika pemberitaan itu menjadi berita sensasional, agar publik mengetahui apa yang terjadi di belakang orang-orang yang mengaku membela rakyat, tapi meraup uang negara.
"Malah itu dijadikan bahan yang sangat sensasional, sampai Angelina Sondakh enggak bisa tenang. Koruptor itu harus dibikin begitu, sudah bagus," terangnya.
Menurut Tamrin, jika ada media yang terkesan memberitakan korupsi dengan cara yang berbeda atau ditutup-tutupi, maka publik harus menyaring isi pemberitaan itu. "Jangan ditelan bulat-bulat pemberitaan kalau tidak bisa dipercaya pemberitaannya," katanya tegas.
Anggota Dewan Pers Wina Armada mengungkapkan, pers harus tetap mengawal kasus korupsi, terutama kasus-kasus besar seperti kasus Wisma Atlet Century dan mafia banggar, tetapi harus tetap memperhatikan kode etik jurnalistik.
"Pers harus terus mengawal kasus korupsi. Saya kira di sini sudah terlihat, tapi harus berimbang penberitaannya dan jangan menghakimi, tetap mengedepankan azas praduga tak bersalah," kata Wina.