Rabu, 10 Juni 2026

Sangatta

Ada Stempel Kemendagri Dibuat di Kutai Timur

Di sebuah kios stempel kecil nan sederhana di Sangatta Utara, terdapat stempel Kemendagri yang dibuat oleh "orang lokal"

Tayang:
zoom-inlihat foto Ada Stempel Kemendagri Dibuat di Kutai Timur
kholish chered/tribun kaltim
Stempel Kemendagri yang dibuat di Sangatta, Kutai Timur
SANGATTA, tribunkaltim.co.id - Stempel adalah salah satu instrumen yang menjadi penguat legalitas suatu dokumen. Dengan bubuhan stempel, keabsahan administratif menjadi lebih kuat. Kini, teknologi pembuatan stempel kian canggih. Berbagai jenis stempel dapat dibuat dengan murah, mudah, dan cepat.


Namun kemajuan ini membawa tantangan baru. Terutama dengan munculnya "tangan-tangan oportunis" yang ingin membuat stempel yang seharusnya tidak dibuatnya alias stempel palsu. Pasalnya, pembuatan stempel suatu institusi terikat dengan rambu-rambu yang sangat ketat.


Dalam tataran praktis, hanya sedikit orang yang berwenang memegang stempel suatu institusi. Walaupun ia memegang posisi strategis di suatu institusi, belum tentu ia berhak memegang dan menggunakan stempel. Belum lagi perlunya pencatatan terhadap pembubuhan stempel institusi.


Tribun mendapatkan temuan yang menarik. Di sebuah kios stempel kecil nan sederhana di Sangatta Utara, terdapat stempel Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia, yang dibuat oleh "orang lokal". Spesimen stempel itu terpampang jelas di atas kertas ujicoba yang biasa digunakan untuk melihat format stempel yang sudah jadi.


"Ada yang pesan, Mas. Kami kan hanya menjual jasa," demikian jawaban pemilik kios tersebut atas pertanyaan yang diajukan Tribun. Ia mengatakan telah beberapa kali mendapatkan order untuk membuat stempel instansi pemerintah pusat, terutama beberapa kementerian.


"Memang ada pesanan stempel seperti itu, tapi jarang. Yang datang memesan adalah pegawai pemerintah yang saya lihat usianya masih muda. Mungkin pegawai honorer. Saya tidak pernah bertanya untuk kepentingan apa. Kami berbisnis jasa. Kenal mereka juga tidak," katanya.


Dalam buku tes spesimen stempel di kios tersebut, terdapat jejak stempel beberapa instansi pusat, stempel universitas yang berada di Samarinda, Sulawesi, juga Jawa, serta stempel kedinasan di lingkungan Pemkab Kutim. "Kalau untuk Pemkab Kutim, yang memesan biasanya bilang diutus kantor," katanya. 


Tribun pun mencoba menelusuri lebih jauh tentang modus pembuatan stempel palsu di tempat lain. Tribun lalu menghubungi salah satu pegiat bisnis stempel dan sablon senior di Sangatta. Beliau membenarkan bahwa sebenarnya banyak pihak yang ingin memesan stempel institusi yang bukan tempatnya bertugas.


"Banyak saja yang sebenarnya mau bikin stempel instansi yang bukan merupakan tempat tugasnya. Tapi kami sangat selektif. Kalau berpotensi disalahgunakan, tidak akan kami buatkan," katanya.


Namun ia masih bersedia melayani pemesanan stempel toko dari para guru yang kesulitan jarak untuk membuat pertanggungjawaban keuangan sekolah. "Terkadang ada guru yang minta dibuatkan stempel toko yang posisinya di Samarinda (luar Kutim, red). Alasannya kesulitan membuat pertanggungjawaban BOSDA karena jarak yang jauh," katanya.


Pegiat usaha stempel tersebut mengatakan, saat ini stempel tidak bisa lagi dijadikan ukuran dan rujukan untuk menilai asli atau palsunya suatu dokumen. Hal ini karena meniru stempel yang asli sangat mudah dilakukan.


"Meniru stempel asli itu sangat mudah. Awalnya pola stempel asli di scan. Lalu dibuat ulang dengan program Corel. Dengan Corel tidak ada yang sulit. Memang ada sebagian instansi yang stempelnya sulit ditiru. Tapi kebanyakan mudah ditiru,  karena tidak ada detail-detail khususnya," katanya.


Bahkan ia pernah melihat rekannya sesama pengusaha stempel membuatkan stempel maskapai penerbangan yang dipesan bukan oleh pegawai maskapai yang bersangkutan. "Saya tidak tahu untuk kepentingan apa. Tapi sudah bisa dibaca. Apalagi dengan pola E-ticket yang print outnya bisa langsung distempel dengan stempel maskapai," katanya.

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved