Sangatta
Ada Stempel Kemendagri Dibuat di Kutai Timur
Di sebuah kios stempel kecil nan sederhana di Sangatta Utara, terdapat stempel Kemendagri yang dibuat oleh "orang lokal"
Namun
kemajuan ini membawa tantangan baru. Terutama dengan munculnya
"tangan-tangan oportunis" yang ingin membuat stempel yang seharusnya
tidak dibuatnya alias stempel palsu. Pasalnya, pembuatan stempel suatu
institusi terikat dengan rambu-rambu yang sangat ketat.
Dalam
tataran praktis, hanya sedikit orang yang berwenang memegang stempel
suatu institusi. Walaupun ia memegang posisi strategis di suatu
institusi, belum tentu ia berhak memegang dan menggunakan stempel. Belum
lagi perlunya pencatatan terhadap pembubuhan stempel institusi.
Tribun
mendapatkan temuan yang menarik. Di sebuah kios stempel kecil nan
sederhana di Sangatta Utara, terdapat stempel Kementerian Dalam Negeri
Republik Indonesia, yang dibuat oleh "orang lokal". Spesimen stempel itu
terpampang jelas di atas kertas ujicoba yang biasa digunakan untuk
melihat format stempel yang sudah jadi.
"Ada yang pesan, Mas.
Kami kan hanya menjual jasa," demikian jawaban pemilik kios tersebut
atas pertanyaan yang diajukan Tribun. Ia mengatakan telah beberapa kali
mendapatkan order untuk membuat stempel instansi pemerintah pusat,
terutama beberapa kementerian.
"Memang ada pesanan stempel
seperti itu, tapi jarang. Yang datang memesan adalah pegawai pemerintah
yang saya lihat usianya masih muda. Mungkin pegawai honorer. Saya tidak
pernah bertanya untuk kepentingan apa. Kami berbisnis jasa. Kenal mereka
juga tidak," katanya.
Dalam buku tes spesimen stempel di kios
tersebut, terdapat jejak stempel beberapa instansi pusat, stempel
universitas yang berada di Samarinda, Sulawesi, juga Jawa, serta stempel
kedinasan di lingkungan Pemkab Kutim. "Kalau untuk Pemkab Kutim, yang
memesan biasanya bilang diutus kantor," katanya.
Tribun pun
mencoba menelusuri lebih jauh tentang modus pembuatan stempel palsu di
tempat lain. Tribun lalu menghubungi salah satu pegiat bisnis stempel
dan sablon senior di Sangatta. Beliau membenarkan bahwa sebenarnya
banyak pihak yang ingin memesan stempel institusi yang bukan tempatnya
bertugas.
"Banyak saja yang sebenarnya mau bikin stempel instansi
yang bukan merupakan tempat tugasnya. Tapi kami sangat selektif. Kalau
berpotensi disalahgunakan, tidak akan kami buatkan," katanya.
Namun
ia masih bersedia melayani pemesanan stempel toko dari para guru yang
kesulitan jarak untuk membuat pertanggungjawaban keuangan sekolah.
"Terkadang ada guru yang minta dibuatkan stempel toko yang posisinya di
Samarinda (luar Kutim, red). Alasannya kesulitan membuat
pertanggungjawaban BOSDA karena jarak yang jauh," katanya.
Pegiat
usaha stempel tersebut mengatakan, saat ini stempel tidak bisa lagi
dijadikan ukuran dan rujukan untuk menilai asli atau palsunya suatu
dokumen. Hal ini karena meniru stempel yang asli sangat mudah dilakukan.
"Meniru stempel asli itu sangat mudah. Awalnya pola stempel
asli di scan. Lalu dibuat ulang dengan program Corel. Dengan Corel tidak
ada yang sulit. Memang ada sebagian instansi yang stempelnya sulit
ditiru. Tapi kebanyakan mudah ditiru, karena tidak ada detail-detail
khususnya," katanya.
Bahkan ia pernah melihat rekannya sesama
pengusaha stempel membuatkan stempel maskapai penerbangan yang dipesan
bukan oleh pegawai maskapai yang bersangkutan. "Saya tidak tahu untuk
kepentingan apa. Tapi sudah bisa dibaca. Apalagi dengan pola E-ticket
yang print outnya bisa langsung distempel dengan stempel maskapai,"
katanya.