Mengapa Pangeran Diponegoro Bersorban Putih?
Mengapa Pangeran Diponegoro dikenal dalam potret-potret sejarah mengenakan tutup kepala surban putih dan berpakaian jubah putih?
Penampilan Pahlawan Nasional Indonesia dalam perang kolonial melawan pemerintah Kerajaan Belanda, yang berhasil membangkitkan perlawanan penduduk pribami melawan prajurit kolonial selama lima tahun (1825-1830) pada Perang Jawa itu, apakah benar berhubungan dengan penampilan Tuanku Imam Bonjol dalam Perang Paderi? Apa sebenarnya keyakinan Diponegoro? Apakah dia Islam fundamentalis? Mengapa pada acara garebeg Keraton Yogyakarta ia sering absen?
Di antara pertanyaan itu yang bakal berusaha dijawab dalam diskusi yang juga menghadirkan penulis disertasi tentang biografi Pangeran Diponegoro, Peter Carey, pada seminar yang akan berlangsung Senin (30/4/2012) di kampus Universitas Negeri Malang (Jawa Timur).
Peter Carey, sejarawan yang menyerahkan 40 tahun hidupnya untuk mempelajari sejarah Pangeran Diponegoro, akan hadir membahas buku hasil disertasi yang dia anggap sebagai magnum opus (karya besar) hasil penelitiannya dengan judul asli Power of Prophecy : Prince Dipanagara and The End of Old Order in Java, 1785 1855 yang diterbitkan KITLV, Lembaga Kerajaan Belanda untuk Kajian Asia Tenggara dan Karibia.
Karyanya sudah langsung memasuki cetakan kedua, dan telah diterjemahk an dalam Bahasa Indonesia : Kuasa Ramalan : Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, terbitan Kepustakaan Populer Gramedia.
Selain Carey dijadwalkan hadir juga Direktur KITLV Dr Roger G Tol dan mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI 1993-1998 Prof Dr Wardiman Djojonegoro dan pembahasan sejarawan UM Prof Dr Hariyono.
Carey tidak ragu-ragu untuk menyatakan Perang Jawa dan Pangeran Diponegoro sebagai figur sentral adalah wiracarita, atau kisah sejarah kepahlawanan terhebat dalam sejarah Asia! (*)