Buaya Tangkapan di Sangatta Akan Dijadikan Tontonan
Warga yang menangkap buaya masih pertimbangkan apakah akan menjual buaya hidup-hidup atau dijadikan tontonan
Warga yang menangkap buaya tersebut masih menimbang-nimbang, apakah akan menjual buaya tersebut hidup-hidup atau dijadikan tontonan dalam penangkaran. Demikian diungkapkan salah satu penangkap, Ismail, awal pekan ini.
"Kita akan lihat nanti. Apakah mau dijual hidup-hidup atau dipelihara di penangkaran agar bisa dilihat warga," katanya. Bahkan untuk mendukung rencana membuat penangkaran tersebut, Ismail dan para rekannya berniat menangkap beberapa buaya lagi.
"Sebenarnya ada juga perasaan takut. Namun kami sudah tahu teknik menangkapnya. Kami akan cari lagi supaya yang bisa dipelihara di penangkaran bisa lebih banyak," katanya.
Sebenarnya Sabtu malam mereka sudah sempat menjerat seekor buaya yang lebih besar. "Panjangnya sekitar 3,5 meter dan lebarnya sekitar 40 centimeter. Namun buaya besar itu lepas karena berhasil menjebol jaring yang digunakan untuk menjeratnya," katanya.
Untuk buaya yang berukuran relatif kecil, sebagaimana yang tertangkap Sabtu siang, mereka menangkap dengan menggunakan dua batang kayu yang ujungnya bercabang. Kedua kayu diposisikan di bagian mulut dan ekor buaya untuk membatasi gerakannya.
Adapun buaya yang berukuran besar akan ditangkap dengan jaring. "Kalau jaringnya masih baru dan kuat biasanya susah dijebol. Jaring yang digunakan Sabtu malam lalu memang sudah agak lama. Ditambah lagi buayanya besar, akhirnya jebol," katanya.
Menurut mereka, menangkap buaya di siang hari lebih mudah daripada malam hari. Hal ini karena warga bisa leluasa melihat pergerakan buaya. Berbeda dengan malam hari dimana kemampuan pandang terbatas.
"Namun di malam hari justru banyak buaya berkeliaran di tambak. Kita bisa menangkap dengan menyorot matanya dengan senter lalu memasang jaring perangkap. Kalau siang hari biasanya buaya bersembunyi," katanya.
Untuk peristiwa Sabtu siang lalu, Ismail dan kedua rekannya sempat bergelut cukup lama dengan buaya, sebelum akhirnya bisa menangkapnya. Tiga petani tambak yang mengaku nyaris menjadi korban keganasan Buaya Muara dengan lebar gigi seperti mata bor dengan mulut sekitar hampir dua jengkal itu, adalah Ammang (50), Muhammad Junaedi (30) dan Ismail (29).
"Buaya yang kami tangkap ini ukurannya lebih kecil, panjangnya hanya dua meter lebih. Namun sempat kewalahan juga hingga berjam-jam baru bisa dilumpuhkan. Kami bertiga harus menangkap menggunakan tali dan cabang kayu," kata Ismail.
Dikatakannya, ukuran mulut buaya yang ditangkap itu hampir dua jengkal dan giginya sangat tajam dan runcing. Mereka mengejar dan menangkap binatang tersebut, karena masuk tambak untuk mencari ikan dan udang peliharaan.
Ismail mengatakan, jika tidak berhati-hati, mereka nyaris diterkam buaya lain yang ukurannya lebih besar. Karena, katanya, saat mengejar buaya yang ditangkap, buaya satunya mengikuti dan mengejar mereka hingga pinggir sungai sekitar ujung tambak.
"Buaya yang ukuran lebih besar lepas dan masih tetap berkeliaran di sekitar tambak, Sungai Kenyamukan, dan rawa-rawa sekitar tambak," ujarnya.
Sangatta sejak dulu memang dikenal sebagai sarang Buaya Muara, khususnya di kawasan Kenyamukan. Itulah sebabnya tambak milik warga petani setempat sering kedatangan buaya yang memangsa ikan di dalamnya.
Saat ini buaya yang ditangkap tersebut diikat dan ditempatkan di sebuah kandang kayu berukuran 2,5 meter dengan lebar 50 cm di bagian belakang rumah Ismail. "Buaya ini akan kami pelihara saja untuk dijadikan tontonan warga, jika ada yang berminat berkunjung. Bahkan langsung dipasangi sebuah tanda pengumuman dan tarif untuk setiap pengunjung," katanya.